Buah Lokal, Menu Utama di Hotel

Editor: Satmoko Budi Santoso

393

KARANGASEM – Buah lokal menjadi salah satu bagian menu utama di beberapa hotel, vila, dan restoran di Kabupaten Karangasem. Seperti yang terlihat di vila di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, misalnya. Pihak manajemen vila menyuguhkan buah lokal sebagai makanan penutup.

Made Segiri yang merupakan pemilik vila mengatakan, penggunaan buah lokal bukan tanpa alasan melainkan untuk terus melestarikan serta mengenalkan buah lokal kepada tamu yang datang.

“Yang kami sediakan di sini seperti buah semangka, nanas, pisang, dan salak,” ucapnya saat ditemui, Sabtu (7/7/2018).

Made Segiri pemilik vila yang menyediakan buah lokal Bali.- Foto: Sultan Anshori.

Bahkan, menurut Made Sigiri, buah-buahan yang ditanam merupakan buah organik. Buah tersebut ditanam di lahan milik sendiri di tanah seluas lima hektare.

Di antara buah yang dihidangkan kepada tamu yang paling favorit adalah buah salak. Buah salak yang dipilih merupakan salak asli Karangasem Bali yang memiliki rasa nano nano. Selain itu, alasan pemilihan buah lokal karena harga buah impor lebih mahal dibandingkan buah lokal.

Menurutnya, jika pada musim panen, harga sekilo salak Bali ini bisa dibeli dengan harga Rp3000. Sementara, jika bukan musim, harganya naik hingga lima kali lipat.

“Memang Karangasem terkenal dengan buah salak pasir. Akan tetapi, menurut saya, rasanya hambar, berbeda dengan salak Bali. Setiap hari kami suguhi sebanyak 5 kilogram. Rata-rata para wisatawan yang datang suka, Mas,” imbuhnya.

Arif, salah seorang wisatawan asal Surabaya mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi pihak manajemen hotel yang tetap mengedepankan buah lokal di bagian menu utama di tengah maraknya serbuan buah impor. Selain itu, menurut Arif, rasa buah lokal tidak kalah enak dengan buah impor.

Arif, salah seorang wisatawan asal Surabaya saat menikmati buah lokal Bali.-Foto: Sultan Anshori.

“Apalagi ini informasi ditanam secara organik, makin suka kami,“ ujar Arif.

Ia berharap, konsep tersebut bisa ditiru oleh para pelaku dunia pariwisata di Indonesia. Dengan begitu, para petani buah lokal bisa terus meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya secara ekonomi juga bisa berdaya.

Pemerintah Provinsi Bali belakangan ini memang mendukung penggunaan buah lokal untuk dikonsumsi terutama bagi para pelaku dunia pariwisata. Hal ini diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali No 3 Tahun 2013 tentang perlindungan buah lokal.

Baca Juga
Lihat juga...