Butuh Kerja Keras Pasarkan Masakan Tradisional di Padang

Editor: Koko Triarko

246
PADANG — Masakan tradisional di Provinsi Sumatera Barat, mulai kurang diminati, akibat berkembangnya makanan modern yang datang dari berbagai belahan negara di dunia.
Milna, pedagang tradisional di Padang yang menyediakan masakan tradisional seperti palai bada, ancang, samba karambia (kelapa), dan sebagainya, mengaku butuh ide dan kerja keras untuk bisa menjual makanan tradisional itu.
Karena, menurutnya, peminatnya tidak begitu banyak. Bisa dikatakan, rata-rata pembeli merupakan orang tua, namun juga tergolong memiliki selera yang tinggi soal masakan tradisional.
“Kalau kita itu memasak saja, lalu dijual di depan rumah. Dapat dipastikan penjualan hanya sedikit. Tapi, jika kita pasarkan dengan cara menyebar ke sejumlah titik pasar, alhamdulillah banyak yang terjual,” katanya, Selasa (10/7/2018).
Menurutnya lagi, untuk menjual masakan tradisional itu memiliki risiko bila lapaknya didirikan jauh dari rumah. Karena, yang namanya masakan tradisional itu tidak bisa bertahan lama, dan butuh untuk mendapatkan kondisi yang hangat.
Ia menjelaskan, cara untuk menjual ke sejumlah titik pasar yang ada di Kota Padang, yakni dengan mendirikan lapak serta menghidangkan barang dagangan dengan berbagai variasi makanan tradisional, yang kondisinya benar-benar dalam keadaan hangat.
“Untuk menarik pembeli, kita menerapkan sistem diskon. Kalau beli satu atau per bungkus Rp4.000, maka bagi yang beli tiga bungkus dijual Rp10.000 saja,” ujarnya.
Menurutnya, cara demikian sangat tepat dilakukan supaya barang dagangan masakan tradisional bisa laris terjual. Berbeda dengan cara yang hanya dijual di depan rumah. Tidak dapat dipungkiri, sering barang dagangan terbuang sia-sia karena basi.
Milna menyebutkan, butuh biaya yang besar untuk memasak sejumlah jenis masakan tradisional itu. Setidaknya sehari menghabiskan dana Rp1 juta. Bila penjualan hanya sedikit, maka sehari itu hanya bisa memperoleh uang Rp600 ribu. Artinya, kerugian per hari sebesar Rp400 ribu.
Untuk itu, dengan cara menjual barang dagangan ke sejumlah titik pasar serta menerapkan sistem diskon, tidak ditemukan lagi adanya barang jualan yang bersisa atau pun merugi.
“Sejauh ini, saya mampu memperoleh omzet per hari Rp1,3 juta. Hitungan itu bila jualan masakan tradisionalnya ludes dibeli masyarakat. Saya sangat senang dengan cara penjualan yang saya lakukan. Jika tidak  begitu, bisa kalah laris masakan tradisional dengan masakan modern,” ungkapnya.
Milna mengaku sudah cukup lama dirinya menjalani usaha menjual masakan tradisional. Namun, cara menjual barang dagangan dengan cara disebarluaskan ke sejumlah titik dengan mendirikan lapak, baru tiga bulan ini.
“Saya terpikir cara itu, ketika menjual sambal waktu bulan Ramadan kemarin. Sesudah Ramadan, langsung saya mulai cara penyebaran penjualan tersebut,” tegasnya.
Baca Juga
Lihat juga...