banner lebaran

Butuh Kerja Sama Putus Mata Rantai Peredaran Narkoba

Editor: Koko Triarko

198
PADANG – Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang diperingati di Uiversitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/7/2018), membahas tentang pemutusan rantai peredaran narkoba, yang kini menjadi ancaman bagi generasi.
Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, mengatakan, untuk memutus rantai peredaran narkoba dibutuhkan kerja sama semua pihak. Pasalnya, narkoba merupakan ancaman terbesar bagi generasi penerus bangsa, karena bahaya narkoba tidak hanya merusak dari segi kesehatan, tetapi juga dapat membunuh.
“Jadi, pemberantasan narkoba tidak hanya peran pemerintah dan instansi terkait. Namun, juga masyarakat dan keluarga,” katanya, Jumat (13/7/2018).
Dengan adanya peran bersama, katanya, pemberantasan narkoba dilakukan melalui pemutusan rantai peredaran narkoba. Dengan demikian, akan dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat tanpa narkoba.
Selain itu, persoalan narkoba juga diperlukan keseimbangan antara pendekatan penegakkan hukum dan kesehatan. Untuk penegakkan hukum dengan memutus mata rantai peredaran narkoba. Sedangkan, dari segi kesehatan dengan melakukan rehabilitasi.
“Dari penegakkan hukum dengan memutus rantai peredaran narkoba dari pengedar ke pemakai. Sedangkan kesehatan dengan melakukan rehabilitasi lebih kepada pemakainya,” ujarnya.
Tak hanya itu, sosialisasi pencegahan narkoba juga dianggap perlu ditingkatkan kembali. Apalagi, sosialisasi kepada pelajar dan mahasiswa.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat, Kusriyanto, menegaskan, pencegahan narkoba mesti dilakukan dengan memutuskan pasokan narkoba dengan melakukan penindakan secara hukum.
Tidakan hukum diberikan sebagai efek jera kepada pengedar narkoba. Kemudian, melakukan pemberdayaan masyarakat kepada mereka yang berada di daerah rawan peredaran narkoba. Lalu, sosialisasi kepada pelajar dan mahasiswa.
“Ini penting, sehingga dengan cara yang dilakukan dapat mengurangi peredaran narkoba yang dapat merusak generasi masa depan bangsa,” tuturnya.
Menurutnya, rata-rata narkoba masuk ke Indonesia dari jalur Sumatera masuk lewat jalur laut, merupakan jalur yang sulit dideteksi, karena banyak jalur tikus, yang nanti diangkut melalui kapal-kapal kecil menuju daratan.
“Sedangkan, untuk Sumbar lebih dominan jalur masuk narkoba itu lewat jalur darat,” sebutnya.
Untuk itu, katanya, sebagai cara pengamanan di jalur-jalur masuk narkoba tersebut, perlu diperketat. Apalagi itu, jalur-jalur yang susah untuk terdeteksi.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.