CITOS: Video PSI tak Sesuai Sejarah

Editor: Satmoko Budi Santoso

819

JAKARTA – Tindakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melakukan posting video tentang almarhum Jenderal Besar H.M. Soeharto sebagai pemimpin Orde Baru yang banyak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), membuat pihak Cinta Soeharto Sejati (CITOS) bereaksi. Salah satunya dengan jalan melaporkan tindakan PSI tersebut ke Polda Metro Jaya.

Menurut Giyanto H Prayitno, Ketua Umum CITOS, apa yang dilakukan Pak Harto sebagai kepala negara selama 32 tahun semata-mata untuk menjaga kedaulatan negara republik Indonesia. Agar tetap utuh, bersatu, dan untuk menjaga agar tidak lepas sejengkal tanah di bumi pertiwi.

Maka, menurut Giyanto pula, perlu diluruskan kembali bahwa apa yang diviralkan dalam video postingan PSI perihal Soeharto itu dapat dikatakan tidak sesuai dengan fakta dan sejarah.

Semua konten isi dalam video itu menyudutkan dan mengarahkan ke publik untuk melihat begitu sadis dan kejamnya Bapak Soeharto. Kenyataannya tidak seperti apa yang terlihat di video tersebut.

“Kami sangat menyayangkan jika teman-teman PSI mem-blow up sedemikian rupa tanpa mengetahui kulit dan cerita, tahu hanya sepihak dengan melalui katanya. Apa yang mereka posting tidak sesuai dengan fakta dan sejarah. Semua cerita ada sejarahnya tidak begitu saja. Sebagai pecinta Soeharto kami merasa terusik dengan apa yang dilakukan PSI. Mungkin bukan CITOS saja yang terusik, barangkali masyarakat Indonesia lainnya juga merasakan hal yang sama dengan kita,” ucapnya lagi, belum lama ini.

Giyanto menegaskan bahwa jika memang PSI merasa takut dengan kehadiran keluarga almarhum Bapak Soeharto terjun dalam kancah politik, sebaiknya berpolitik dengan santun, dengan cerdas, tidak saling menjatuhkan.

Arah pendestruksian citra negatif yang disebarkan PSI bisa dikatakan bertujuan agar masyarakat membenci dan menjauhi keberadaan keluarga Bapak Soeharto yang kini bangkit dengan Partai Berkarya.

“Terlepas dari kancah politik, CITOS hanya ingin meluruskan semuanya, juga memohon PSI agar meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas tindakannya. Serta menghapus video yang mereka posting. Itu yang kita inginkan sebenarnya, namun akhirnya tidak juga ada sambutan dari PSI,” katanya.

Menurut Giyanto pula, Bapak Soeharto adalah milik bangsa yang dimulai dari Zaman Orde Lama dengan segala keterpurukan di segala bidang ekonomi, muncullah Pak Harto membangun negara mulai dari nol.

Andy, Ketua Brigade CITOS menambahkan, jika memang PSI ingin membuka fakta sebuah realita dengan memposting, harus dilakukan dengan memiliki data yang konkret.

“Tindakan kami melaporkan PSI ke Polda bertujuan untuk memberikan wawasan, membuka pikiran PSI, apa yang mereka lakukan itu salah. Kenapa salah karena mereka tidak menyertakan data-data yang valid,” katanya.

Untung Bambang. P, selaku Pembina CITOS dan pelaku sejarah, mengatakan, bahwa PSI seperti bayi, tidak bisa berbicara akan masa lalu karena tidak mengerti masa lalu.

Untung menggarisbawahi tentang kasus Timor-Timur (Tim-Tim) yang terdapat di dalam video postingan PSI. Dikatakan bahwa sejak tahun 1976, masyarakat Tim-Tim sangat dimanja. Sejak tahun 1976 sampai selesai, pemerintahan pada zaman Soeharto telah menyekolahkan hampir ribuan SDM, diberikan pula beasiswa yang semuanya ditanggung oleh pemerintah. Tidak hanya itu, dari sisi pembangunan pun Tim-tim lebih pesat dan maju dibandingkan NTT dan NTB.

Dirinya juga ingin menggugah kepada para pelaku sejarah, khususnya para pensiunan jenderal yang mengaku berkuasa pada era Tim-tim, harus berani membuka, menyampaikan cerita yang sebenarnya.

Karena apa yang disampaikan PSI itu telah menghina pemimpin negara. Siapa pun itu, almarhum presiden baik itu Soekarno, Soeharto, tidak bisa dengan seenaknya dibegitukan. Presiden merupakan marwah yang harus dihormati.

“Saya ingin teman-teman yang mengaku Jenderal menyampaikan fakta sejarah yang sebenarnya, jangan takut dan diam begitu saja. Jika mereka diam sama saja seperti pengkhianat karena mereka tahu sejarah yang sebenarnya, tetapi mereka diamkan. Jika mereka mendiamkan apa yang dilakukan PSI, saya menganggap mereka sudah salah kaprah karena tidak mau meluruskan sejarah. Apa yang dipostingkan PSI itu semuanya bohong dan justru malah terindikasi memecah belah negara kesatuan RI,” ungkapnya.

Ijong Mun, Sekjen CITOS ikut menambahkan, pihak CITOS sudah menyiapkan 6 pengacara yang akan mem-back up dan menjadi tim advokasi CITOS dalam kasus ini. Tidak hanya itu, ada juga beberapa pengacara di luar dari tim advokasi CITOS menawarkan diri untuk bergabung menjadi pembela.

Dikatakan lagi, tim yang disiapkan CITOS bukan sembarang tim karena di dalamnya terdapat ahli sejarah yang memang mengalami kejadian tersebut, ada saksi korban juga, serta akademisi.

“Niat para pengacara yang ingin bergabung ini memiliki tujuan yang sama dengan CITOS yakni ingin meluruskan sejarah. Karena mereka merasakan kekhawatiran tentang gejolak yang dapat terjadi akibat ulah yang ditimbulkan PSI ini, sungguh luar biasa. Dan dengan segala kemampuan tim yang dimiliki, kami siap meluruskan. Bukan mencari pembenaran, karena apa yang dilakukan PSI sudah menyimpang dari garis sejarah,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...