Cuaca Buruk, Tangkapan Ikan Teri Menurun

Editor: Mahadeva WS

226

LAMPUNG – Kondisi cuaca di perairan Lampung dalam beberapa hari terakhir kurang bersahabat. Gelombang tinggi dan angin kencang masih terjadi di perairan Lampung Selatan.

Cuaca buruk tersebut menjadikan nelayan penangkap ikan teri di pesisir Kalianda, Lampung memilih libut melaut. Jaka (30), salah satu nelayan penangkap teri mengaku sudah tidak melaut sejak tiga bulan terakhir. Karena cuaca yang tidak bersahabat, Jaka memilih melakukan perbaikan alat tangkap.

Bersama sejumlah nelayan penangkap teri dan ikan kecil bahan ikan asin, Jaka menepikan perahu ke pengedokan. Perbaikan perahu yang dilakukan meliputi bagian lunas, dinding perahu, jaring serta bagian lampu. Butuh waktu satu bulan untuk melakukan perbaikan. “Bagi sejumlah nelayan yang tidak melaut sebagian terpaksa menganggur namun sebagian memilih memperbaiki alat tangkap sembari menunggu kondisi cuaca membaik,“ ungkap Jaka saat ditemui Cendana News, Selasa (31/7/2018).

Saat melaut, Jaka bersama empat nelayan lain dalam satu perahu kerap mendapatkan ikan teri dan ikan asin 80 hingga 100 keranjang. Sementara di saat cuaca yang tidak bersahabat seperti sekarang ini, hasil tangkapan berkurang, sebagian nelayan yang nekat melaut hanya memperoleh sekira 30 keranjang ikan.

Harga ikan teri jengki bahan teri rebus, semula dijual Rp180 ribu. Saat ini naik menjadi Rp200 ribu per keranjang yang berisi sekira 15 kilogram ikan. Ikan teri nasi yang semula dibeli dari nelayan Rp300 ribu kini dijual dengan harga Rp330 ribu perkilogram.

Sementara jenis ikan petek, ikan jolot dijual dengan harga Rp45ribu perkilogram, ikan petek Rp20ribu perkilogram. Meski harga ikan untuk bahan ikan asin tersebut tidak naik, namun gelombang tinggi membuat hasil tangkapan berkurang. “Kami menjual ke pelelangan, terkadang langsung ke produsen teri dan ikan asin, hanya nelayan bagan congkel yang masih berani melaut,” terang Jaka.

Nelayan lain Rukin (56) mengungkapkan, memilih tidak melaut karena faktor keselamatan. Nelayan yang nekat tetap melaut, melakukan kegiatan dengan mempergunakan kapal berukuran besar. Meski hasil tangkapan minim, Dia mengaku masih memiliki pelanggan tetap dari pembuat ikan asin.

Rukin yang tetap melaut di wilayah perairan Kalianda menyebut, nelayan mencari ikan di sekitar Pulau Sebuku. Jenis ikan untuk pembuatan ikan asin tersebut banyak berlindung di teluk Pulau Sebuku. Kondisi angin Selatan yang masih berlangsung, membuat sejumlah nelayan berhenti melaut. “Meski tetap melaut faktor keselamatan tetap menjadi prioritas,hasil tangkapan juga masih minim,” terang Rukin.

Pembuat ikan asin di Desa Maja, Kecamatan Kalianda Sartini (50) menyebut, sulit memperoleh bahan baku sejak tiga bulan terakhir. Saat kondisi cuaca membaik, Dia mendapat pasokan ikan 500 kilogram dalam bentuk ikan basah. Setelah diolah, ikan basah tersebut bisa menjadi 400 kilogram ikan asin kering.

Jenis ikan yang dijadikan ikan asin diantaranya ikan petek, ikan kuning, ikan sebelah dan ikan jolot atau gabus laut. Saat kondisi cuaca tidak bersahabat, hasil tangkapan minim, Sartini hanya memperoleh bahan baku 300 kilogram.

Meski bahan baku minim, Sartini menyebut harga jual ikan asin kering masih stabil. Ikan asin petek belah kering disebut Sartini dijual Rp25ribu perkilogram, ikan sebelah Rp30ribu dan ikan Jolot Rp50ribu perkilogram. “Meski bahan baku menurun, kondisi cuaca musim kemarau mendukung percepatan proses pengeringan dalam waktu dua hari bisa kering,” beber Sartini.

Baca Juga
Lihat juga...