Cuaca Ekstrim, Nelayan di NTB Diminta Tidak Melaut

Editor: Mahadeva WS

226

MATARAM – Nelayan di Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta untuk tidak melaut. Himbauan yang bersifat sementara tersebut dikeluarkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum, mempertimbangkan kondisi cuaca yang ekstrim.

Kepala BPBD NTB, Muhammad Rum/foto : Turmuzi

Cuaca ekstrim yang terjadi telah berimbas munculnya gelombang tinggi. “Kondisi cuaca laut saat ini sangat ekstrim dengan gelombang tinggi, dimana tinggi gelombang bisa mencapai dua sampai tiga, dengan kecepatan angin 04-15 Knot,” kata Rum, Kamis (26/7/2018).

Menurutnya, akan sangat berbahaya jika nelayan memaksa untuk melaut. Gelombang tinggi bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan laut. Kepada masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, diminta waspada dengan gelombang tinggi di kawasan Senggigi dan tiga Gili Lombok Utara.

Akibat gelombang tinggi, tercatat telah terjadi banjir rob. Air laut mulai memasuki permukiman warga dan menyebabkan fasilitas milik sejumlah perhotelan di pinggir pantai hanyut terbawa air. “Karena itulah untuk menghindari hal tidak diinginkan, sebaiknya nelayan sementara waktu tidak melaut, sementara menunggu cuaca normal kembali,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramuja menyebut, akibat gelombang tinggi di kawasan selat Bali hingga Lombok bagian utara mengakibatkat terjadinya ombak pasang dan tinggi. Hal tersebut terjadi di seputaran pesisir wilayah Senggigi, Pantai Malaka dan tiga gili.

Gelombang tinggi mencapai dua sampai tiga meter juga mengakibatkan terjadinya kerusakan hotel dan restoran di bibir pantai Gili Trawangan sebelah utara. Gelombang pasang mengakibatkan, kursi dan peralatan berjemur untuk tamu ikut terbawa gelombang ke jalanan.

Berdasarkan pemantauan dan analisis BMKG, masih terpantau adanya potensi gelombang tinggi di Wilayah Selatan Sumatera hingga perairan selatan Nusa Tenggara. Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi hingga 31 Juli 2018 mendatang.

Gelombang tinggi terjadi karena perbedaan tekanan yang siginifkan antara beberapa pusat tekanan tinggi di wilayah Australia dan Samudra Hindia, dengan beberapa titik pusat tekanan rendah dan siklon tropis dari timur laut Philipina wilayah bumi bagian utara. Kondisi tersebut memicu peningkatan kecepatan angin dan kenaikan tinggi gelombang.

Baca Juga
Lihat juga...