Dana Terhenti, Pembangunan Rumah Adat Suku Keban di Solor Barat Tersendat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

225

LARANTUKA — Rumah adat atau biasa dinamakan Koke Bale milik suku Keban di dusun Riangsunge kelurahan Ritaebang kecamatan Solor Barat terhenti sementara akibat bantuan dana dari pemerintah kabupaten Flores Timur tidak dilanjutkan.

“Kalau rumah adatnya memang sudah ada namun semua saudara ingin membangunnya kembali dengan ukuran yang lebih besar sehingga sekitar tahun 2014 diusulkan untuk membuat proposal bantuan ke pemerintah,” sebut Yosef Tote Keban, Ketua adat suku Keban, Minggu (22/7/2018).

Dikatakan Yosef, bangunan kecil di tengah pondasi yang direncanakan untuk bangun rumah adat yang besar tersebut selama ini berfungsi menjadi rumah adat. Akibat tersendatnya dana yang dikucurkan bertahap sehingga belum bisa dilanjutkan.

“Rumah adat ukuran besar mulai dibangun sejak 2014 dan baru pondasi saja. Semuanya belum selesai karena dana yang diberikan terbatas dan dikucurkan secara bertahap sehingga pembangunannya tersendat,” ungkapnya.

Lurah Ritaebang, Urbanus Werang pun berkata senada. Menurutnya, memang ada bantuan dana yang katanya sebesar 100 juta rupiah saat itu, namun dirinya tidak mengetahui pasti apakah dana tersebut berasal dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur ataukah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

“Yang saya dengar bantuannya bertahap dan baru dikucurkan kalau tidak salah sekitar 30 juta rupiah saja dan sisanya belum,” sebutnya.

Ia berharap agar pengurusan dana tersebut bisa kembali dilakukan agar pembangunan rumah adat atau Koke Bale suku Keban di dusun Riangsunge bisa kembali dilaksanakan mengingat pembangunan sudah terhenti sekitar empat tahun.

Saat ditanyai Cendana News mengenai silsilah suku Keban, Yosef selaku ketua adat menjelaskan, suku Keban berasal dari Sina Jawa sekitar abad 14 dan berlayar menggunakan perahu. Saat tiba di pantai Raingsunge, Ritaebang Solor Barat ditancapkan sebuah tongkat di tempat tersebut.

Dahulu kala tidak ada selat antara pulau Solor dan Flores di Ilebura sebutnya, namun karena adanya tsunami sekitar abad ke 13 makanya terputus sehingga saat ini ada beberapa pulau kecil di selat Tanjung Wutun dan Lewotobi.

“Ada dua keluraga bernama Seba Ulu Goka Inga Puan Pana Bala, mereka berjalan ke perkampungan suku asli yang menetap di Kelore Ama Tana Lein. Tempat di bukit yang bernama Lewo Nuba tersebut mereka hidup bersama dengan suku Lein,” jelasnya.

Namun karena ada kesalahpahaman dengan suku Lein, ucap Yosef, maka suku Keban meninggalkan tempat tersebut dan menetap di sebuah tempat yang bernama Tobi Koni. Lalu dibuatlah perkemahan dan dibagun rumah adat atau Koke Bale di tempat tersebut.

Saat malam hari, bebernya, ada seekor rusa yang merupakan binatang liar datang ke Koke Bale sehingga orang tua sepakat untuk pindah perkampungan ke tempat lain. Mereka beralasan alam tidak menyatu dengan mereka lewat adanya tanda kehadiran rusa tersebut.

“Memang nenek moyang dahulu sangat kental sekali dengan adat budaya dan hal-hal mistis sehingga akhirnya perkampungan berpindah ke Tapeka dan membuat rumah adat. Setiap pagi dan sore tetua suku selalu memberikan persembahan sirih pinang dan makanan di sebuah tempat yang dinamakan Namang,” ucapnya.

Yosef keban ketua adatSuatu hari saat hendak memberi persembahan, sebut Yosef, terlihat seekor burung puyuh di dalam tempat untuk meletakkan persembahan. Akhirnya diambil keputusan tetua adat untuk pindah perkampungan kembali karena alam juga tidak menyatu dengan mereka.

Akhrinya suku Keban pun kembali berpindah ke Lewo Wolor. Ada seorang bernama Wayong Lein sering mengiris tuak di Lewolein dan setiap hari harus pulang pergi ke tempat tersebut dari Lewo Wolor. Akhirnya dia memboyong keluarganya pindah menetap di Lewolein.

“Saya dipercayakan untuk mengelola segala peninggalan suku, benda-benda keramat seperti Lodan atau rantai emas, batu untuk membuat api, tongkat, keris dan perlengkapan makan seperti piring dan lainnya,” terangnya.

Karena tahun 1997, kata Yosef, dirinya menetap di Riangsunge di dekat pantai yang merupakan tempat saat ini maka dibuatlah rembuk suku untuk melihat tempat yang tepat untuk membuat rumah adat suku atau Koke Bale.

Akhirnya, paparnya, diputuskan untuk membangun di tempat yang sekarang di dekat sebuah sumur tua yang mana dalam penglihatan para tetua adat, di tempat ini awal mulanya kedatangan suku Keban dan tongkat ditancapkan di tanah.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.