hut

Di Pasar Wuryantoro, Pak Harto Dikira Penjual Es Keliling

Oleh Mahpudi, MT

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 22 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Usai menelusuri jejak Pak Harto di daerah Polanharjo, tim ekspedisi napak tilas Incognito Pak Harto segera melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Tujuannya adalah Wuryantoro, Wonogiri. Perjalanan yang cukup jauh dan harus melewati tepian Waduk Gajahmungkur nan indah.

Akhirnya, Tim kami sampai di Wuryantoro menjelang sore hari. Daerahnya sungguh masih sederhana. Beberapa tempat masih terlihat kebersahajaan penduduknya. Sementara, alam di sekitar terlihat tidak begitu subur.

Tepat di tepi jalan utama, terdapat bangunan yang cukup bagus dengan papan nama terpampang jelas, “Museum Pewayangan Wuryantoro”. Inilah yang dulu disebut Pak Harto sebagai Rumah Pak Bei. Kami sempat berkeliling mencoba menemui penduduk—yang ternyata relatif jarang populasinya—guna memperoleh informasi tentang rumah bersejarah tersebut.

Kondisi Musium Wayang Wuryantoro saat ini – Foto Mahpudi

Kami bersyukur, seorang penduduk setengah pria tua dapat kami temui, tak jauh dari rumah tersebut. Ia ingat betul, bagaimana kedatangan Pak harto saat incognito pada hari itu. Dalam perjalanan incognito ke wilayah Wonogiri tersebut, Pak Harto singgah di Wuryantoro pada 23 Juli 1970.

Menurut pria tersebut, Pak Harto Berjalan kaki dari arah pasar, menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Pada mulanya, kedatangan Pak Harto tak dikenali. Dan ada yang menyangka, Pak Harto adalah penjual es keliling setempat yang mirip dengan dirinya. Ia berjalan-jalan di pasar Wuryantoro, menyapa orang-orang. Kemudian, tidak berapa lama, para penduduk baru menyadari, bahwa yang ada di hadapan mereka adalah seorang Presiden.

Dalam perjalanan napak tilas tersebut, Tim Ekspedisi Incognito, dengan dibantu penduduk setempat, berhasil masuk melalui pintu belakang ke lokasi museum. Namun, sayangnya, tetap tidak dapat masuk ke dalam ruangan yang memang terkunci dan tak ada petugas jaga. Terlebih, listrik yang menjangkau Wuryantoro sedang padam, sehingga suasana gelap mengganggu aktivitas perjalanan ini.

Dalam perjalanan itu, kami sempat terpaku pada sebuah prasasti berbentuk plakat, melekat di dinding rumah yang menjadi bagian dari Museum Wayang Wuryantoro. Dahulu, rumah ini merupakan kediaman keluarga M. Ng. Prawirohardjo atau dikenal sebagai Pak Bei Tani.

Plakat itu bertuliskan demikian ; ”Padepokan ini dibangun sebagai sumbangsih kepada masyarakat Wuryantoro dimana beliau telah berhasil mendidik dan membesarkan putera-puteri beliau serta keponakannya, hingga menjadi orang-orang berguna bagi negara dan bangsa Indonesia. Sebagai penghargaan atas pengabdian beliau kepada masyarakat Wuryantoro mencerdaskan para petani dalam pembangunan di bidang pertanian.”

Dalam buku otobiografinya yang berjudul “Soeharto-Pikiran, Ucapan dan tindakan saya,” (1989) terungkap dengan gamblang bagaimana Pak Harto menjalani hidup semasa kecil. Selain Kemusuk–Godean, Yogyakarta tempat dia dilahirkan, Wuryantoro-Wonogiri, Surakarta, adalah nama kampung lainnya yang memiliki arti penting bagi Pak Harto.

Pak Harto di Wuryantoro – Foto Repro

Dalam buku tersebut, Pak Harto berujar, “Daerah Wuryantoro sendiri tak bisa dikategorikan sebagai daerah yang bertanah subur atau lebih makmur. Kehidupan petaninya tidak lebih baik dibandingkan di daerah Godean. Tetapi, bibi saya adalah isteri seorang mantri tani, Bapak Prawirowihardjo. Kehidupan paman saya itu jelas lebih baik daripada kehidupan seorang petani, dan bimbingan yang bisa diberikannya pasti lebih baik, bisa diandalkan daripada bimbingan yang saya peroleh di Kemusuk.”

Memang demikian adanya, dalam pengamatan kami. Pada bagian buku itu, Pak Harto banyak berkisah tentang masa kecilnya di Wuryantoro. Tentang perkenalannya dengan dunia pertanian yang kelak membuat Pak Harto sangat menguasai praktik-praktik bertani yang mumpuni.

Pada bagian lain, Pak Harto menulis tentang kenangannya tinggal di Wuryantoro bersama bibinya pada tahun 1925-an. ”Keprihatinan hidup yang saya alami, pendidikan keluarga yang menjunjung tinggi warisan nenek moyang, pendidikan kebangsaan sewaktu di sekolah lanjutan rendah, pendidikan agama waktu mengaji, rasanya besar pengaruhnya dalam pembentukan watak saya. Saya juga diberi latihan spiritual oleh ayah angkat saya seperti puasa tiap hari senin dan kamis dan tiduran di tritisan (di bawah ujung atap di luar rumah). Semua anjurannya saya kerjakan dengan tekun dan penuh keyakinan. Ada satu anjuran yang belum saya kerjakan, yaitu tidur di pawuhan, tempat bekas bakaran sampah. Pada masa itu, saya ditempa mengenal dan menyerap budi pekerti dan filsafat hidup yang berlaku di lingkungan saya. Mengenal agama dan tata cara hidup Jawa,” ujar Pak Harto.

Yang lebih mengesankan lagi, saat itu, ternyata, Sang Presiden masih ingat dengan para penduduk di kampung terpencil, tempat dirinya tumbuh dan dibesarkan. Tak hanya menemui orang-orang di pasar dan di jalanan, pada malam harinya, Pak Harto juga menggelar acara (istilah saat ini reunian, Red), dan hampir seluruh teman-teman masa kecilnya diundang hadir. Betapa riuhnya pertemuan itu. Mereka saling bertukar cerita, tanpa merasa ada pembatas antara rakyat dengan presidennya.

Pak Harto juga bermalam di rumah bibinya, tempat ia dibesarkan sebagai seorang remaja. Seharian itu, Pak Harto bernostalgia, mengingat-ingat kembali masa lalu yang muram. Dan saat itu, Pak Harto menyaksikan penduduk Wuryantoro begitu gembira, membanggakan salah satu buah pendidikannya yang jadi orang nomor satu di Indonesia. ***

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!