banner lebaran

Di Polanhardjo Klaten, Pak Harto Ingatkan Bahaya Komunisme!

Oleh Mahpudi, MT

237

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 21 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Pak Harto meninjau proyek pompa pengairan Desa Gunungan Sukowarjo. Foto: Dok. Museum Purna Bhakti Pertiwi

Seperti halnya perjalanan Incognito pertama Pak Harto yang dilakukan di wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah beberapa bulan sebelumnya, dalam perjalanan di Yogyakarta dan sekitarnya ini, Pak Harto juga menyempatkan untuk singgah di sejumlah pesantren atau pusat-pusat pendidikan keagamaan.

Selain mengunjungi Panti Asuhan Puteri Aisyah yang berada di Serangan, Yogyakarta, Pak Harto juga menyempatkan singgah di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, pada 22 Juli 1970. Pak Harto tidak begitu lama berada di pesantren yang saat itu dipimpin oleh KH Ali Maksum. Selama 45 menit, Pak Harto berkeliling pondok, menyaksikan dari dekat kehidupan para santri. Dalam kesempatan berbincang dengan para pengelola pondok Pesantren, Pak Harto menyarankan agar para santri dilatih untuk memelihara sapi, guna diambil susunya. Ia juga menyarankan agar para santri juga dibekali kemampuan bercocok tanam yang memungkinkan mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Pada kesempatan lain, Pak Harto juga singgah ke daerah yang pernah menjadi basis PKI, yaitu Desa Polanharjo, Delanggu, Klaten. Desa yang tergolong subur dan menjadi salah satu pusat pertanian di Klaten. Pada masa Orde Lama, sejumlah penduduk dan aparat pemerintahan desa banyak yang terlibat PKI, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pak Harto yang pernah menjadi Pangdam Diponegoro memahami betul peta wilayah ideologi, politik, dan keamanan di Jawa Tengah. Karenanya, ketika kembali melakukan perjalanan ke wilayah ini dalam rangka Incognito tahun 1970, ia tak merasa canggung, apalagi ketika berkunjung ke desa Polanharjo.

Alunan gamelan yang diperdengarkan oleh kelompok seni dari penduduk setempat. Foto: Dok. Museum Purna Bhakti Pertiwi

Kehadiran Pak Harto di sana mendapat sambutan antusias warga dan para pamong praja. Dengan mengambil tempat di gedung BPLSD dan dalam suasana yang ramah, Pak Harto makan siang bersama, menikmati sajian hidangan yang telah disiapkan oleh penduduk. Jamuan makan siang itu terasa istimewa, karena diiringi alunan gamelan yang diperdengarkan oleh kelompok seni dari penduduk setempat.

Rombongan kami, ekspedisi napak tilas Incognito Pak Harto, tiba di Polanhardjo menjelang sore hari. Desa yang cukup tertata rapi, dan sejumlah warga pun menyapa ramah. Kami mengikuti petunjuk  dari seorang warga untuk tiba di lokasi balai desa. Sayangnya, hari sudah beranjak sore ketika rombongan tiba. Suasana kantor pun sudah sepi.

Pak Harto meninjau proyek pompa pengairan Desa Gunungan Sukowarjo. Foto: Dok. Museum Purna Bhakti Pertiwi

Ketika bertemu petugas jaga, kami diberi kesempatan untuk masuk ke sebuah gedung lama yang segera kami kenali sebagai Gedung BPLSD. Gedung tersebut masih tak banyak berubah, persis seperti yang terlihat pada foto dokumentasi perjalanan incognito Pak Harto tahun 1970. Ruang dalam gedung tampak tidak terawat. Kursi-kursi lama teronggok di sudut ruang.

Dalam ruang inilah, berpuluh tahun silam, Pak Harto pernah berbicara kepada penduduk setempat, mengajak para peserta untuk bersatu padu membangun negara dan bangsa. Ia juga mengingatkan akan betapa bahayanya ajaran komunisme, dan agar semua warga negara Indonesia bersungguh-sungguh mengamalkan Pancasila.**

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.