banner lebaran

Disbudpar Kota Malang Harapkan Masukan Masyarakat Terkait Cagar Budaya

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

139

MALANG — Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni meminta kepada semua elemen masyarakat termasuk perguruan tinggi untuk saling memberikan informasi terkait Cagar Budaya yang ada di kota Malang.

Hal tersebut disampaikan Ida dalam kegiatan Sosialisasi Pelestarian Bangunan Cagar Budaya, di Balaikota Malang, Kamis (5/7/2018).

Di Malang sendiri, terdapat beberapa perguruan tinggi yang memiliki jurusan arsitektur di antaranya Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Nasional, Universitas Islam Negeri Malang dan Universitas Merdeka yang seharusnya mampu memberikan informasi dan masukan kepada pemerintah kota Malang, khususnya Disbudpar sebagai pengampu cagar budaya kota Malang.

“Mahasiswa biasanya lebih banyak mengetahui kondisi cagar budaya di lapangan, sedangkan Disbudpar fungsinya adalah sebagai regulasi dan fasilitasi sehingga kami sangat membutuhkan sumber-sumber informasi dari masyarakat yang benar-benar mengerti dan lama bergelut di bidang cagar budaya,” terangnya.

Untuk itu kami telah membentuk tujuh anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dari kalangan akademisi yang benar-benar ahli di bidang tersebut mulai dari sejarawan, arkeolog hingga bangunan.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat jika sekiranya memiliki informasi yang perlu diakomodir oleh Disbudpar, tidak perlu disampaikan melalui media sosial karena nantinya justru akan berdampak negatif, tapi disampaikan langsung.

“Mari kita bersama-sama menegakkan aturan yang tertuang dalam undang-undang cagar budaya. Jadi masukan-masukan tersebut sangat kami harapkan, sehingga bisa kami data untuk dibuatkan database-nya,” terangnya.

Sementara itu Ida juga menjelaskan, suatu benda atau bangunan bisa dikatakan sebagai cagar budaya jika sudah minimal usianya mencapai 50 tahun atau lebih. Serta memiliki gaya bangunan di zaman tersebut dan yang terpenting memiliki nilai sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan, atau kebudayaan.

“Kemudian bagaimana jika ada sebuah bangunan rumah sudah berusia 50 tahun apakah bisa di tetapkan sebagai cagar budaya. Kita lihat dulu, bangunan tersebut ada nilai pentingnya atau tidak. Kalau tidak ada berarti itu rumah antik, atau bangunan kuno. Boleh dilestarikan tapi bukan termasuk cagar budaya,” jelasnya.

Cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan. Jadi tidak hanya bangunan tetapi juga ada benda, struktur, situs dan kawasan.

Sedangkan pohon-pohon yang berusia ratusan tahun atau pohon pusaka merupakan tupoksi dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) yang akan menangani.

“Jadi sekarang ini Disperkim sudah mulai mendata pohon-pohon pusaka yang ada di kota Malang. Mulai dari usianya hingga cara mempertahankannya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.