Distribusi BBM ke Enggano Terkendala Cuaca

245
Ilustrasi kapal kontainer - Dok: CDN
BENGKULU – PT Pertamina Depo Bengkulu, terpaksa menunda penyaluran bahan bakar minyak untuk masyarakat di pulau terluar Enggano, Provinsi Bengkulu, akibat cuaca buruk yang melanda perairan Bengkulu hingga Samudera Hindia bagian barat.
“Cuaca buruk berupa gelombang tinggi yang melanda perairan Bengkulu membuat kapal menunda berlayar, sehingga BBM juga belum bisa dikirim,” kata Manajer External Communication PT Pertamina wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Arya Dwi Paramita, di Bengkulu, Senin (23/7/2018).
Menurutnya, pengiriman BBM melalui jalur laut ke pulau yang berada di tengah Samudera Hindia itu, bergantung pada kondisi cuaca.
Dalam dua pekan terakhir, kondisi cuaca yang buruk, yakni ketinggian gelombang mencapai 3-4 meter membuat kapal feri Pulo Tello menunda berlayar dengan alasan keselamatan pelayaran.
“Kalau stok yang akan dikirim selalu siap sedia, tapi masalahnya ada di kondisi cuaca yang tidak bisa dipaksakan,” ucapnya.
Arya menambahkan, untuk sekali pengiriman, 15 kiloliter premium dan 10 kiloliter pertalite disalurkan untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat Pulau Enggano.
Sebelumnya, warga yang bermukim di Pulau Enggano mengeluhkan kekosongan pasokan BBM, baik di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) maupun di warung pengecer.
“Sudah dua minggu ini BBM langka, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Edward Kaahuau, warga setempat saat dihubungi dari Bengkulu.
Ia mengatakan, kelangkaan BBM di tingkat SPBU sudah terjadi sejak 18 Juni 2018 atau sebulan terakhir, sedangkan kelangkaan di tingkat pengecer mulai terjadi pada 25 Juni dan hingga saat ini belum ada penambahan pasokan dari Pertamina di Bengkulu.
Informasi yang diperoleh warga, bahwa kekosongan pasokan BBM di pulau terluar itu diakibatkan terhentinya pelayaran kapal feri Pulo Tello yang selama ini menjadi satu-satunya transportasi yang mengangkut BBM ke Enggano.
Pelayaran terakhir kapal feri dari Kota Bengkulu menuju Pulau Enggano berlangsung pada 5 Juli 2018, dan hingga saat ini belum ada pelayaran lagi dengan alasan cuaca buruk.
Kepala Seksi Bidang Informasi BMKG Bengkulu, Sudiyanto, mengatakan ketinggian gelombang di perairan Bengkulu mencapai 3,5-4 meter, sehingga membahayakan aktivitas pelayaran. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...