hut

DLH Bojonegoro Segera Tangani Limbah Medis

Ilustrasi - Dokumentasi CDN

BOJONEGORO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Jawa Timur, segera menangani limbah medis atau limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan alat incinerator.

Namun pelaksanaannya masih menungu turunnya izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Proses pemanfaatan alat incinerator masih menunggu turunnya izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),” kata Kepala Dinas LH Bojonegoro Nurul Azizah di Bojonegoro, Selasa (10/7/2018).

Ia menjelaskan, incinerator atau alat pengolahan sampah dan limbah medis B3 sudah dimiliki. Pengadaannya telah menelan biaya Rp420 juta. “Tapi untuk pengoperasian incinerator untuk membakar limbah medis harus memperoleh izin dari KLHK,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya masih memproses perizinan pemanfaatan alat incinerator dengan melakukan pemantauan lingkungan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Lokasi tersebut salah satu yang memenuhi persyaratan izin dari KLHK. “Untuk itu kami meminta bantuan PT Pertamima EP Cepu (PEPC) untuk ikut memantau lingkungan TPA di Banjarsari,” ujarnya.

Jumlah limbah medis yang akan diolah, berasal dari sejumlah rumah sakit dan puskesmas. “Tapi kalau incinerator dimanfaatkan bisa memberikan pemasukan Rp1 miliar pertahun ke kas daerah dari hasil menangani limbah medis/B3,” ucapnya.

Diharapkan, KLHK bisa mengeluarkan izin pemanfaatan incinerator, sebab kalau bisa dimanfaatkan maka penanganan limbah medis tidak harus dikirim ke Mojokerto. Saat ini, incinerator sudah dimanfaatkan untuk pembakaran sampah internal di TPA, termasuk barang bukti yang harus dimusnahkan. “Untuk limbah medis belum,” ucapnya.

Dari keterangan pihak PEPC, pemantauan lingkungan di sejumlah titik TPA di Banjarsari akan dilakukan selama 30 hari.  Titik yang memperoleh pemantauan lingkungan udara antara lain, di gedung penyimpananan incinerator, pemukiman warga di selatan TPA, untuk mengetahui parameter kandungan hidrokarbon, NO2, dan SO2.

“Incinerator bisa menampung sampah dengan kapasitas maksimal 200 kilogram dan untuk mengoperasikan memanfaatkan bahan bakar listrik dan solar,” pungkas Seksi Pengelolaan Sampah DLH Bojonegoro Djarmin. (Ant)

Lihat juga...