Dul Komed Tiba-tiba Ingin Menjadi Seekor Monyet

CERPEN RYAN RACHMAN

346

KESABARAN Dul Komed habis. Mukanya semromong (panas menyengat) seperti bara api. Matanya mendelik mau keluar dari rumahnya. Kesalnya bukan main. Kata-kata kasar, makian, serapah meluncur deras dari mulutnya tanpa tedeng aling-aling (tanpa ada yang menghalangi).

Ludahnya dihunjamkan ke tanah seolah anak panah yang dilesakkan ksatria berkuda menembus tubuh ringkih pion.

“Dasar monyet sialan!”

Telunjuknya diacung-acungkan ke atas berkali-kali menunjuk pada beberapa ekor monyet yang berloncatan dari pohon kelapa satu ke pohon lainnya. Diambilnya batu sebesar bola kasti lalu dilemparkan ke arah salah satu monyet yang jaraknya paling dekat.

Siapa tahu bisa mengenai kepalanya atau tubuhnya. Biar kapok. Sayang lemparannya tak sampai. Yang lebih menjengkelkan, monyet itu malah nyengir dan menjulurkan lidah. Seperti mengejek Dul Komed.

“Kurang ajar. Aku bunuh kau nanti!”

Bagaimana tidak kesal, ini hari kelima hasil nderes (menyadap) nira kelapa baul alias tidak ada hasilnya. Dan selama itu pula ia tidak bisa nitis (mencetak gula kelapa) membuat gula kelapa. Monyet-monyet itu biang keroknya. Badeg (nira kelapa) yang sudah terkumpul sejak pagi dihabiskan oleh monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar Kali Lutung.

Selain buat diminum, nira yang ada dalam pongkor (alat tradisional Banyumas seperti parang/bendo pendek berbentuk seperti tokoh wayang Bawor/Bagong yang menggembung bagian bawah dan mengecil bagian atas).disiramkan ke tubuhnya. Tidak tahu kenapa monyet itu suka mandi pakai nira.

Sore ini, Dul Komed benar-benar dibuat muntab (marah). Sudah 17 pohon kelapa ia panjat, hasilnya nihil. Juga pada pohon terakhir. Pongkor yang ia gantung di manggar hanya menyisakan beberapa tetes nira saja. Dan itu ulah monyet kurang ajar.

Dul Komed melangkah pulang dengan emosi membara di dada. Keringatnya masih keluar dari tubuh, memunculkan aroma tak sedap. Kaos kusam bergambar salah satu calon anggota dewan coblosan tiga tahun lalu, basah, tak mampu menyerap keringat dari tubuh laki-laki usia 46 tahun itu.

Sepanjang perjalanan menyusuri tepian Kali Lutung menuju rumah, mulut Dul Komed yang tebal dan hitam bibirnya tak henti-hentinya berserapah dan mengutuk monyet-monyet yang membuang nira sadapannya.

Kudi (bunga kelapa) yang digantungkan di pinggangnya bergoyang-goyang seirama langkah kakinya. Juga beberapa buah pongkor bambu yang tergantung di ujung tongkat yang ia panggul di pundaknya, bergoyang dan bersuara karena benturan satu sama lain. Air Kali Lutung yang mengalir di sela bebatuan bergericik.

Langit di pojok barat menguning tembaga. Gelembung-gelembung awan menutupi matahari. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar azan Maghrib. Langkahnya dipercepat agar lekas sampai rumah. Dusun Bukung yang damai, walau tak sedamai hati Dul Komed.
***
PAINGAN (sistem bagi hasil bagi penyadap nira yang menyewa pohon milik orang lain. Hitungan selama lima hari dalam perhitungan Jawa tiap hari Pahing/Paing. Dimana dalam empat hari menyadap, hasil gula yang dijual ke pengepul uangnya untuk penyadap dan sehari untuk pemilik lahan) kali ini Dul Komed tidak bisa memberikan jatah pada pemilik glugu (pohon kelapa) sebab ia lima hari berturut-turut tak ada nira yang bisa dibawa pulang olehnya dari menyadap. Tak ada bahan yang dimasak Yatmi, istrinya, untuk membuat gula kelapa.

Karena tak ada gula, jadi mereka tidak bisa menjualnya ke Kang Mad, si pengepul gula bertubuh tambun itu. Kalau begitu, berarti tidak ada uang yang masuk dalam kantong Dul Komed. Padahal harga gula sedang bagus. Pabrik kecap yang biasa dikirimi gula oleh Kang Mad sedang menaikkan harga karena kekurangan stok.

Kalau saja monyet-monyet sialan itu tidak kurang ajar, dari menyadap nira 18 pohon, sehari Yatmi bisa mencetak tujuh sampai delapan kilogram gula kelapa. Dari lima hari menyadap, uang hasil penjualan gula selama empat hari jadi miliknya, sedangkan yang sehari jadi milik Kang Paino, pemilik pohon kelapa yang disadap Dul Komed.

Tapi gara-gara monyet sialan, semuanya jadi berantakan. Dul Komed tak dapat apa pun yang membahagiakan dari hasil naik turun memanjat belasan pohon kelapa. Yang ia dapat hanya letih, lelah, kesal dan jengkel.

Untungnya, Yatmi masih punya sisa hasil paingan sebelumnya. Jadi selama lima hari masih bisa beli lauk tempe, tahu atau ikan pindang dan bumbu dapur. Untuk sayuran, tidak pusing membeli. Yatmi bisa memetik daun boled (ubi pohon), daun lontop (daun ketela rambat), lompong (batang talas), daun pepaya atau jantung pisang yang tumbuh di kebun belakang.

“Aku harus mengusir monyet-monyet sialan itu. Paingan besok, pongkor harus penuh,” gumamnya malam itu.

Matanya yang memerah, nanar menerawang. Otaknya berputar mencari cara untuk menyingkirkan monyet-monyet menjengkelkan. Buat mereka kapok. Kalau perlu melenyapkannya dari atas pohon. Mulutnya mengeluarkan asap pilinan tembakau campur cengkih dan menyan, klepas-klepus.
***
DUL Komed pulang dari kota kecamatan dengan sepeda motor bututnya. Hari ini, dia tidak ke kebun menyadap nira. Dia baru saja membeli pelor di toko peralatan menembak. Di badannya terselempang senapan angin yang ia pinjam pada sepupunya yang tinggal di kampung sebelah.

Dari kota, dia tak langsung pulang, tapi mengarahkan motor ke kebun kelapa tempatnya menyadap. Dia mau menghabisi penyakit pengganggu pongkor-pongkor berisi nira. Setelah diparkir di tepi jalan, motornya ia tinggalkan begitu saja. Tenang saja, tak ada yang mau membawa kabur motor butut itu. Dul Komed berjalan menyusuri tepi Kali Lutung menuju kebun kelapa milik Kang Paino.

Sesampai di kebun, ia keluarkan kotak karton kecil dari saku celana pendeknya. Dibuka kotak itu dan diambil sebutir pelor timbal lalu dimasukkan dalam rumah peluru di pangkal bedil. Tangan kanannya mengokang hingga dua puluh kali. Ia lalu berjalan pelan menyusuri setapak. Kepalanya menengadah, matanya mengamati pohon kelapa satu per satu, mencari adakah monyet yang berkeliaran.

Tiba-tiba di salah satu pohon, seekor monyet meloncat dan sembunyi di balik blarak, seolah tahu ada yang hendak mengganggu. Dul Komed kemudian mengarahkan moncong bedil ke daun kelapa tempat persembunyian monyet sialan. Matanya dipicingkan membidik monyet yang kelihatan kepalanya saja.

Seperti seorang sniper membidik mangsa. Pikirannya hanya satu, menghabisi nyawa monyet sialan. Telunjuk kanannya kemudian menarik pelatuk. Dor! Pelor melesat dari lubang senapan, secepat kilat menuju sasaran. Tak lama berselang, monyet itu terjatuh dari pohon kelapa. Melayang lalu terhempas keras di tanah.

Dul Komed berlari menuju lokasi jatuhnya monyet. Ditatapnya bangkai monyet itu lekat-lekat. Kepalanya berlubang akibat pelor yang ditembakkan Dul Komed tembus. Dari lubang itu mengeluarkan darah segar. Matanya mendelik tajam. Tubuhnya remuk akibat kerasnya benturan dengan tanah.

“Rasakan kau monyet sialan,” gumam Dul Komed penuh kemenangan.

Tubuh monyet itu kemudian diambil dan dibuang ke Kali Lutung, tak jauh dari situ. Arus sungai yang cukup deras karena hujan semalam menghanyutkan bangkai monyet itu.

“Baru satu yang mati. Peluruku masih banyak.”

Dul Komed melanjutkan perburuan. Seperti tentara yang tengah perang di hutan. Matanya mengawasi tiap ujung pohon kelapa. Mencari monyet lain, membidik dan menembak. Hingga petang datang, Dul Komed pun pulang.
***
MALAM itu Dul Komed merasa senang. Hingga petang tadi, dia membunuh enam ekor monyet. Setidaknya kejengkelannya pada monyet-monyet itu berkurang. Dia bisa tidur dengan sedikit nyaman. Dipeluknya dari belakang tubuh istrinya. Suami istri itu pun tidur dengan pulas setelah berlayar memetik apel di surga.

Hingga pada tengah malam, Dul Komed terbangun dari tidurnya. Sebab saat tidur barusan, monyet-monyet yang ia bunuh siang tadi datang. Wajahnya berlumuran darah dan matanya melotot tajam menatap Dul Komed.

Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Dia keluar kamar menuju dapur dan mengambil segelas air putih dari kremun (cerek). Ditenggaknya hingga tandas.

“Hanya mimpi. Tidak akan terjadi apa-apa. Sudahlah, sebaiknya aku tidur lagi.”

Dul Komed kembali masuk ke kamar dan rebah di sebelah Yatmi, dipeluknya lagi tubuh istrinya. Matanya dipejamkan dan kembali tidur ke alam mimpi. Kali ini dia bermimpi bertamasya ke tempat yang indah bersama istrinya. Bibir Dul Komed pun tersenyum.
***
KEESOKAN paginya Dul Komed kembali ke kebun untuk menyadap nira. Dia yakin, setelah beberapa ekor monyet mati, tidak ada monyet lain yang berani mendekati pongkor. Pasti monyet-monyet yang masih hidup tidak ingin mati konyol dengan pelor menembus tubuhnya.

Benar saja, sembilan pohon kelapa ia panjat, nira dalam pongkor penuh semua. Sore nanti pasti Yatmi kembali bisa nitis lagi.

Dul Komed kembali memanjat pohon kepala yang kesepuluh. Walau sedikit lelah, namun bayangan pongkor di atas pohon yang penuh nira memberi semangat. Hingga tiga meter sebelum pucuk, saat Dul Komed mendongak, matanya melihat seekor monyet yang duduk di manggar tempat pongkor digantungkan.

Matanya tajam penuh kemarahan dan kebencian menatap Dul Komed. Mulutnya terbuka lebar menunjukkan gigi dan taring tajam di kanan kirinya. Monyet itu memekik keras beberapa kali. Tiba-tiba perasaan menyelimuti Dul Komed. Benar saja, teriakan monyet itu memanggil puluhan monyet lain. Mereka berloncatan dari seluruh penjuru dan mendekat ke arah Dul Komed.

Monyet-monyet itu nampak marah. Mereka menyerang Dul Komed. Menggigit, mencakar, menggoyang-goyang tubuhnya sambil menjerit-jerit. Dul Komed pun berteriak minta tolong sambil memeluk erat batang pohon kelapa. Namun serangan monyet yang bertubi-tubi membuat tangannya lemas dan pegangannya terlepas.

Tubuhnya pun melayang dari ketinggian sekitar 20 meter. Tiba-tiba ia ingin menjadi seekor monyet yang bisa meloncat dari pohon satu ke pohon lain. ***

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga, 2017

Ryan Rachman, lahir di Kebumen, 12 Januari 1985. Tinggal di kaki Gunung Slamet, Dusun Bukung, Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. Aktif di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.