Edu, Mantan Buruh Migran yang Sukes Beternak Ayam

Editor: Mahadeva WS

LARANTUKA – Segala ilmu yang didapat dari perantauan seharusnya menjadi bekal dan diterapkan saat kembali menetap di kampung halaman sendiri. Hal itu agar ilmu yang didapat bisa bermanfaat bukan saja bagi diri sendiri tetapi bagi masyarakat sekitar.

Hal itulah yang diterapkan Edu Lamen, warga Desa Lewograran, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur. Setelah kembali ke kampung halaman, usai selama 10 tahun bekerja di perusahaan peternakan ayam potong yang ada di Keke, Malaysia Timur, ilmu dari perantauan tersebut diaplikasikan di kampung halaman.

“Saya mempunyai niat, di 2010 saya pulang kampung dan buat peternakan ayam. Saya diskusi bersama isteri, uang yang ada ini kalau tidak dipakai buat usaha nanti habis. Akhirnya kita berdua sepakat dan buat kandang ayam,” sebut Edu, Selasa (17/7/2018).

Di 2010, Edu membuat kandang di kebunnya yang berada di Dusun Liwuk, Desa Lewograran, Kecamatan Solor Selatan. Kandang berukuran 6×4 meter dibangun menggunakan sistem panggung. “Awal usaha saya mengeluarkan uang Rp10 juta untuk bangun kandang dan beli ayam potong 100 ekor. Untuk makanan ayam saya beli enam karung dengan harga Rp350 ribu sekarung belum termasuk ongkos angkut dan kapal dari Larantuka ke Solor,“ tutur suami dari Anastasia Belang tersebut.

Setelah meraih keuntungan dan melihat prospek usaha yang menjanjikan, di tahun kedua Edu kembali membuat satu kandang dengan ukuran 7×6 meter. Kandang kedua juga dibangun dengan sistem panggung setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah.

Kandang tersebut dikhususkan bagi ayam yang sudah agak besar dan berusia sekira dua minggu. “Kalau ayam sudah agak besar saya pindah ke kandang kedua yang ukurannya lebih besar dan kandang satunya yang lebih kecil diisi oleh ayam yang baru lagi. Saya panen bertahap, beli anak ayam lagi kalau yang sebelumnya sudah mulai besar. Jadi stok ayam saya selalu tersedia,” jelas pemuda kelahiran Lewograran 29 Desember 1974 tersebut.

Anak ayam dibeli di kota Larantuka atau Kupang. Bila membeli di Kupang selisih harga bisa mencapai Rp500 per ekor dibandingkan dengan harga di Larantuka. Hanya saja hal itu dilakukan ketika stok di Larantuka habis. “Kalau 500 ekor saya bisa untung Rp5 juta lebih. Kalu jual di usia dua bulan bisa laku sampai Rp80 ribu per ekor. Untuk obat-obatan, saya  rutin mendapat kiriman dari saudaranya di Keke, Malaysia,” sebutnya.

Memulai dari 100 ekor ayam, kini Edu beserta isteri memelihara 1.000 ekor ayam potong. Di tahun pertama (2010) Edu memelihara 100 ekor. Di tahun kedua bertambah menjadi 300 ekor. Di tahun ketiga kembali meningkat menjadi 400-500 ekor. Dan saat ini sudah berkembang menjadi 1.000 ekor ayam potong.

“Saat ini sekali panen saya bisa meraup untung minmal Rp5 juta dari 500 ekor sekali panen. Harga anak ayam dan makanan ayam sudah mengalami kenaikan membuat keuntungan yang diperoleh sedikit berkurang,” tuturnya.

Ayam-ayam tersebut selain dijual sendiri di desa sekitar, juga sudah ada pelanggan serta pembeli yang datang langsung ke kandang. Nama Edu sebagai peternak ayam sudah terkenal di pulau Solor. Setiap Maret hingga Juni, kebutuhan ayam potong meningkat karena adanya pesta komuni pertama (sambut baru), pernikahan dan rapat yang digelar LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

“Di Maret sampa Juni, 600 ekor ayam bisa laku dalam waktu seminggu. Kalau ada komuni pertama serentak di beberapa paroki di Pulau Solor, dalam seminggu bisa laku 1.000 ekor sekali panen. Kalau sepi, sekali panen bisa laku 100 sampai 300 ekor. Jadi harus bisa baca musim orang ramai membeli ayam, “ bebernya.

Panen dilakukan ketika ayam berumur satu bulan satu minggu. Mahalnya makanan ayam disiasati dengan memberikan makanan campuran yakni jagung giling. Hal itu dilakukan ketika ayam sudah berusia di atas sebulan. Selain menjadikan daging ayam lebih keras dan berat ayam bertambah, campuran pakan tersebut juga bisa menghemat pengeluaran.

Dari keberhasilannya tersebut, Edu berharap para buruh migran jika kembali ke kampung halaman bisa memulai dengan membuka usaha baru. “Kepada sesama teman buruh migran, ketika kembali ke kampung, remitan yang dikumpulkan bisa dipakai untuk membuka usaha sesuai ilmu dan keterampilan yang didapat di tanah rantau,” imbaunya.

Meski harus memulai usaha dari kecil, pria energik ini menyebut setiap usaha pasti akan ada hasilnya. “Dahulu waktu memulai usaha, di kampung cuma saya sendiri yang memelihara ayam. Sekarang sudah mulai banyak yang menjalani usaha ini. Saya tak pernah kuatir dan tetap menekuni usaha ini karena bagi saya rejeki yang kita peroleh sudah diatur oleh Tuhan selama kita tetap berusaha dan pantang menyerah,” pungkasnya.

Lihat juga...