Embie C. Noer Harapkan Indonesia Gairahkan Perfilman Dunia

Editor: Makmun Hidayat

282

JAKARTA — Embie C. Noer termasuk penata musik handal dalam dunia panggung dan film Indonesia. Ia juga dikenal punya ide-ide segar dalam pemikiran kebudayaan.

Ia berani bicara kalau sampai hari ini belum ada film Indonesia, tapi yang baru ada adalah film Jakarta. Karena kalau film Indonesia tentu harus mempresentasikan Indonesia.

Embie pun mendorong dan mengharapkan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang bisa menggairahkan perfilman dunia.

“Presiden Jokowi ingin menjadikan film sebagai salah satu tonggak ekonomi kreatif,” kata Embie C. Noer, penata musik film Pengkhianatan G 30 S/PKI, kepada Cendana News di Kantor KFT (Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia), di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/7/2018).

Lelaki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Juli 1955, itu membeberkan bahwa sebenarnya film sejarah di Indonesia dari segi kuantitatif jumlahnya sudah lumayan. Terutama beberapa tahun belakang ini, bahkan beberapa waktu lalu ada film yang mengisahkan Soekarno dibuat dua dalam setahun.

“Tapi sayangnya, film-film sejarah yang penting itu dikerjakan dengan moral dasar yang kurang totalitas kalau dibandingkan dengan yang dikerjakan Mas Arifin dengan film Pengkhianatan G 30 S/PKI, ” beber Ketua Bidang Musik Lembaga Seni dan Budaya PP Muhammadiyah ini.

Sebaiknya totalitas itu terus bertambah, kata Embie, ketika film itu ditonton, kalau sekarang ada Youtube, harus dibuat dengan betul-betul meyakinkan.

“Karena film sebagai sebuah karya dramatis harus mempesona, jadi ada hiburannya dan ada informasinya. Hal itu yang belum saya temukan,” ujar peraih penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 1982, kategori Tata Musik Terbaik berkat film Serangan Fajar.

Contohnya, film sejarah yang sangat penting yaitu Jenderal Soedirman, Tjokroaminoto dan Ahmad Dahlan. Menurut Embie, Jenderal Soedirman adalah tokoh yang ditunggu-tunggu seluruh bangsa Indonesia, tetapi mengapa filmnya tidak menjadi booming.

“Artinya secara kualitas tidak mampu membuat ledakan pesona dari tokoh-tokoh yang selama ini ada di benak bangsa Indonesia ketika diwujudkan dalam dramatisasi di bioskop, tidak cukup menarik,” papar peraih Piala Festival Film Bandung sebagai Penata Musik Terpuji (1989).

Embie C. Noer meraih penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia 1982, kategori Tata Musik Terbaik berkat film Serangan Fajar – Akhmad Sekhu

 

Menurut Embie, secara kualitas belum ada yang menyamai film yang dibuat Arifin C Noer, apalagi melampaui. “Ada kemunduran terhadap totalitas di dalam pembuatan film sejarah,” ungkapnya.

Embie menganggap sampai hari ini belum ada film Indonesia, tapi yang baru ada adalah film Jakarta. Karena kalau film Indonesia tentu harus mempresentasikan Indonesia.

“Ini adalah sebuah ungkapan yang di dalamnya mengandung keluar. Kalau India mempunyai zona-zona perfilman seperti Bombay, Calcutta, New Delhi. Cina juga mempunyai Taipei, Mandarin, dan lain-lain,” sebutnya.

Artinya, Embie melanjutkan, dalam sebuah negara semestinya punya banyak zona industri filmnya. Misalnya film Surabaya dan zona-zona industri filmnya, tapi Indonesia baru punya film Jakarta.

“Padahal kalau segi dari kekayaan budaya sangat terbuka kemungkinkannya. Kalau merujuk pada pulau, ada Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Papua, Pulau Bali, dan lain-lain,” uraiannya.

Bagi Embie, film adalah sesuatu media rekam, gerak, suara dan gambar. “Kita sangat kaya dengan gerak gambar dan suaranya. Kalau ceritanya seabreg-abreg. Bahasa begitu banyaknya. Jadi bisa dibayangkan kalau film Indonesia sesungguhnya hadir maka begitu kayanya film Indonesia,” lanjutnya.

Karena, menurut Embie film Indonesia harus secepatnya lahir untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu bangsa yang bisa menggairahkan perfilman dunia.

Bagi Embie, film nasional itu berbeda dengan film Indonesia. “Pengertian film nasional itu point view-nya politik, sedangkan film Indonesia point view-nya budaya. Kalau film nasional dikaitkan dengan bagaimana orang-orang kita memproduksi film untuk menghadapi dominasi film asing. Sedangkan film Indonesia ketika Indonesia sebagai sebuah gagasan kebudayaan,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.