Embie C. Noer: Periode Pak Harto, Indonesia Raih Banyak Prestasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.294

JAKARTA — Embie C. Noer, penata musik panggung teater dan film Indonesia yang dikenal punya ide-ide segar dan pemikiran jernih mengenai kebudayaan Indonesia memetakan sejarah besar Indonesia yang terdiri fase-fase, mulai dari ide, eksistensi, uji coba, dan sekarang fase implementasi yang oleh Pak Harto disebut tinggal landas.

Ia menyebutkan, periode kepemimpinan Pak Harto, Indonesia diakui di Asia Tenggara melahirkan banyak prestasi.

“Bahkan pada zaman Orde Baru dalam masa kegemilangan pembangunan, Indonesia dijuluki Macan Asia,“ kata Embie C. Noer, penata musik film ‘Pengkhianatan G 30 S/ PKI’, kepada Cendana News di Kantor KFT (Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia), di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Lelaki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Juli 1955, itu membeberkan, Indonesia sudah melewati fase ide, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928.

“Ketika anak-anak muda seluruh Indonesia berkumpul untuk mendirikan sebuah negara,“ terang Ketua Bidang Musik Lembaga Seni dan Budaya PP Muhammadiyah ini.

Embie menyebut, era Pak Karno adalah tahap dimana secara eksistensial diakui jati dirinya sebagai sebuah bangsa.

“Bangsa yang memiliki konsep budaya,“ ujar peraih Penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 1982 Kategori Tata Musik Terbaik berkat film Serangan Fajar.

Periode Pak Harto itu, kata Embie, merupakan ide yang sudah diakui eksistensinya, dan kemudian dilakukan sebuah percepatan untuk membuktikan bahwa negara bisa mewujudkan ide itu dengan akselarasi pembangunan lima tahun.

“Pembangunan lima tahun itu dikawal secara ketat oleh Pak Harto dengan pendekatan yang sangat keras dengan disiplin militernya, dan kita berhasil menjadi bangsa yang diakui di Asia Tenggara ini yang telah melahirkan banyak prestasi, terutama dalam dunia kesenian dengan lahirnya Taman Ismail Marzuki, lahirnya Rendra, Arifin C Noer, Putu Wijaya, Nano Riantiarno dan banyak seniman besar lainnya,“ papar peraih Piala Festival Film Bandung sebagai Penata Musik Terpuji (1989).

Sementara di bidang perfilman Indonesia, tinggal landas film Indonesia tidak lagi menjadi film Jakarta, tapi film Indonesia sesungguhnya yang diproduksi oleh seluruh kekuatan budaya yang ada.

Baca Juga
Lihat juga...