Etika dan Estetika Busana ke Pura

Editor: Satmoko Budi Santoso

294

DENPASAR – Belakangan banyak sekali terjadi penyimpangan cara berpakaian ke pura dan pakaian pengantin, yang sudah tidak sesuai dengan pakem. Belakangan pakaian adat ke pura ada yang sudah tidak sesuai dengan etika dan estetika.

Salah satunya adalah menggunakan “kamen jadi” dengan belahan di tengah yang cukup tinggi yang digunakan saat bersembahyang ke pura.

Apakah hal itu melanggar etika atau tidak, hal inilah yang menjadi sorotan dari pemerhati busana Bali sekaligus desainer di gelaran workshop Busana Tradisional Bali dan Modifikasi di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar, Minggu (8/7/2018).

Desainer kondang Tjokorda Abinanda Sukawati.-Foto: Sultan Anshori.

Salah satunya disampaikan oleh Desainer Pande Putu Wijana, misalnya. Menurutnya pakaian adat baik itu ke pura ataupun busana pengantin, hendaknya pada upacara yang bersifat sakral seperti pernikahan secara adat. Hendaknya memakai busana sesuai dengan pakem daerah masing-masing yang mengandung makna filosofi tinggi.

Desainer asal Gianyar yang dikenal dengan nama Tude Togog ini juga menambahkan, busana ke pura boleh-boleh saja mengikuti tren yang berkembang saat ini. Namun harus tetap diingat, tetap harus memperhatikan estetika dan etika dimana berada. Dia juga mencontohkan, saat ini di kalangan perempuan sedang ngetren pemakaian kamen jadi.

“Memang sekilas sangat simpel dan gampang dipakai, tidak ribet. Namun jika ditelisik lebih mendalam, apakah kamen jadi itu sudah sesuai dengan etika berbusana adat kita di Bali,” tanya Tude Togog kepada para peserta.

Ditegaskan juga, secara estetika mungkin bagus, tapi secara etika apakah itu sudah benar, apalagi jika kamen tersebut belahannya di tengah, yang bisa menimbulkan persepsi berbeda bagi yang melihat.

Bagi Tude Togog, kamen itu adalah selembar kain yang dililitkan di pinggang hingga menutupi mata kaki. Bukan kain yang berbentuk rok dengan belahan di tengah.

“Salah besar jika model kamen jadi apalagi ada belahan di tengahnya disebut ‘kamen’ dalam arti busana adat di Bali. Itu adalah rok,” tegas Tude Togog.

Hal senada pun ditegaskan oleh narasumber sekaligus desainer kondang Tjokorda Abinanda Sukawati atau lebih dikenal dengan panggilan Cok Abi. Cok Abi mengupas tuntas tentang busana adat pengantin.

Menurutnya busana pengantin itu terdiri dari tiga tahapan ada busana pengantin nista, madya dan utama. Busana ini sangat berkaitan dengan rentetan upacara yang mengikutinya.

Jangan sampai busana pengantin utama tapi upacaranya mengambil yang nista. Cok Abi mengimbau untuk busana pengantin modifikasi lebih baik menggunakan kain tradisional sebagai kearifan lokal.

Ia juga menekankan, busana pengantin modifikasi juga hendaknya nyaman digunakan dan juga mengendapkan nilai etika dan estetika.

“Saya sarankan bagi para pengantin, saat upacara adat lebih menggunakan busana pengantin tradisional, dan modifikasi digunakan saat resepsi. Semua sudah ada aturannya sesuai dengan desa, kala, patra,” papar Cok Abi.

Sementara itu, untuk busana ke pura dan busana pengantin modifikasi, rancangan busana dirancang oleh desainer muda asal Gianyar, Dika Saskara. Rancangan Dika kali ini juga menonjolkan kain tradisional yang dibalut dengan sentuhan modern dalam busana pengantin modifikasi.

Baca Juga
Lihat juga...