Film 22 Menit, Aksi Cepat Polisi Tangani Teroris

Editor: Makmun Hidayat

288

JAKARTA — Eugene Panji termasuk sutradara yang cukup jeli dan banyak melakukan eksplorasi tema dalam karya-karya film yang disutradarainya. Seperti di antaranya film Cita-citaku Setinggi Tanah, Buang, Naura & Genk Juara the Movie dan terbaru film berjudul 22 Menit yang disutradarai bersama Myrna Paramita.

Sebuah film yang mengisahkan tentang aksi cepat polisi dalam menangani teroris yang terinspirasi dari kejadian bom di Sarinah.

“Dengan film ini, saya ingin menyampaikan efek terorisme yang punya dampak sangat besar terhadap masyarakat,” kata sutradara Eugene Panji saat acara gala premiere film 22 Menit di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018).

Panji membeberkan film ini menceritakan 22 menit sebelum kejadian dan 22 menit setelah kejadian aksi teroris dari berbagai sudut pandang penceritaan.

“Karena film ini tidak bisa diceritakan secara linear, kalau saya hanya menceritakan Hanna korban yang cofeeshop, itu maka filmnya akan cepat selesai tidak bisa berlanjut dengan cerita lainnya, padahal masih ada cerita menarik lainnya seperti Polantas yang kena tembak,” bebernya.

Panji menyebut di antaranya, dari sudut pandang yang mrnceritakan keluarga korban bom yang sangat menyedihkan sekali.

“Kemudian, ada seorang korban bom perempuan yang ditilang, tapi harusnya naik motor bukan naik mobil, yang kita update,”ungkapnya.

Pada saat kejadian bom Sarinah yang menjadi trending topik adalah ojek dibanding tukang sate.

“Orang sedang tembak-tembakan, tukang sate tetap saja melakukan aktivitas kipas-kipas, tapi isyu itu hanya sedikit, sedangkan ojek masih dapat kita saksikan di youtube masih ada dan masih bisa kita ingat sampai sekarang,” paparnya.

Dalam memproduksi film ini, kata Panji, sebenarnya yang paling di-support oleh polisi adalah akses riset.

“Akses riset itu yang paling mahal bagi saya, karena saya tidak mau salah, bagaimana para teroris itu berperilaku, yang ternyata bukan hanya orang yang jenggotan, tapi ada juga seperti gaya anak milenial pada umumnya,” ujarnya.

Menurut Panji, banyak film yang gagal karena risetnya mentah dan ia tak ingin filmnya hanya sekedar menceritakan kejadian di permukaan, tapi lebih dalam lagi menukik pada persoalan terorisme.

“Kita perlu menggali data lebih dalam lagi bagaimana dalam memperlakukan senjata, bagaimana mereka bicara, dan masih banyak hal lainnya yang membutuhkan riset lebih dalam,” uraiannya.

Panji menyampaikan adegan-adegan berbahaya dalam film ini seperti polisi terjun dari helikopter dilakukan oleh stuntment, bukan polisi sesungguhnya.

“Di Jakarta ada agent stuntment yang siap mati, mereka sudah biasa kerjasama dengan polisi dalam berbagai acara, mereka memang sudah jadi rekanan polisi,” bebernya.

Dalam syuting filmnya memang bisa murah dan praktis kalau memakai pakaian polisi yang sesungguhnya dengan tinggal meminjam pada polisi, tapi bagi Panji hal itu tidak mungkin dilakukan karena ada pakaian rompi polisi yang beratnya sampai lima kilo.

“Kita bikin di Bandung, kalau pakaian militer pakai plat tapi pakaian di film pakai busa,” ungkapnya.

Film ini disutradarai dua orang, yaitu Eugene Panji dengan Myrna Paramita. Myrna yang melakukan riset dari awal sampai satu setengah tahun, kemudian Panji yang mengolah ceritanya.

“Di lapangan saat syuting kita bagi dua, karena tidak mungkin schedule syuting 28 hari surung bisa cepat kelar jadi kita bagi dua. Myrna mengarahkan adegan di satu tempat, dan saya mengarahkan adegan di tempat lainnya agar syutingnya sesuai dengan schedule yang ditetapkan,” simpulnya.

Pada dua tahun lalu, tepatnya 14 Januari, Panji membuat tulisan Polisi Indonesia Hebat dan ia di-bully banyak orang karena tampak seperti memuji kinerja polisi.

“Di Paris problem teroris tidak kelar-kelar, begitu juga di London maupun di Berlin, tapi di kita dalam waktu begitu cepat sekitar 22 menit polisi dapat beraksi begitu sangat cepat dalam menangani teroris,” tegasnya.

Ini film pertama tentang bom di Indonesia, dari bom Bali hi ngga kasus bom-bom lainnya. “Tidak ada negara di Asia yang membikin film tentang teroris dan baru kita yang sekarang memproduksi filmnya,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...