Film Buffalo Boys, Nilai Patriotik Untuk Anak Zaman Now

Editor: Koko Triarko

209
JAKARTA  – Penjajahan tak hanya menorehkan sejarah kelam. Tapi, juga luka penderitaan dan trauma berkepanjangan. Karena penjajahan begitu sangat kejam, tanpa ampun dan tak berperikemanusiaan membunuh banyak orang.
Agar anak selamat dari kekejaman penjajahan dan demi masa depannya, ada yang lari sejauh mungkin hingga sampai ke luar negeri, dengan tujuan kalau sang anak sudah besar nanti, pulang untuk balas dendam melawan penjajahan.
Demikian yang mengemuka dari film Buffalo Boys, yang menyiratkan semangat perlawanan pada penjajahan.
Film ini diawali dengan adegan pertarungan Jamar (Ario Bayu) yang harus melawan musuhnya yang tampak sangat sangar dengan perawakan begitu tinggi-besar.
Suwo, adiknya (Yoshi Sudarso), menyarankan untuk berhenti dan menyerah saja, karena akan berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian. Tapi, Jamar tetap semangat untuk melawan, karena dirinya tahu kelemahan sang lawan, dan memang dengan mengerahkan segala tenaga dan kemampuan ia mampu mengalahkan lawannya.
Karena pertarungan yang hampir merenggut nyawa Jamar itu, Arana, pamannya, (Tio Pakusadeso), memutuskan kembali ke Indonesia untuk membalas dendam pada Kapten Van Trach (Reinout Bussemaker), yang telah membunuh Sultan Hamza, kakaknya, yang tiada lain adalah ayah Jamar dan Suwo.
Sebuah keputusan yang memang harus diambil, karena hidup di perantauan dan bekerja di dunia wild west Amerika, bagi Arana tak memberikan apa-apa, selain harus bertarung terus untuk bisa bertahan hidup. Terlebih, Jamar dan Suwo sudah besar dan sudah saatnya memang untuk pulang.
Kemudian adegan flashback di tahun 1860, saat zaman kolonial Belanda. Pada sebuah peristiwa, Arana harus melarikan diri bersama dengan dua anak Sultan Hamza, kakaknya, yang meninggal ketika diserang Kapten Van Trach.
Arana bersama Jamar dan Suwo, terpaksa harus pergi sejauh mungkin, hingga sampai di dunia wild west Amerika, menjadi koboi yang mengendarai sapi dan harus menjalani budaya tarung yang seperti hukum rimba, yakni siapa yang kuat, dialah yang akan selamat.
Ketika Arana bersama Jamar dan Suwo kembali ke Indonesia, ternyata Indonesia masih dalam cengkeram penjajahan kolonial Belanda, dan Van Trach telah menjadi gubernur di sebuah kota kecil.
Mereka pun menyusun rencana untuk membunuh Van Trach sebagai pembalasan atas kematian ayah Jamar dan Suwo.
Saat akan melaksanakan pembalasan dendam, mereka melihat Kiona (Pevita Pearce), anak Sakar (Donny Damara) seorang kepala desa. Uniknya, Kiona mampu mengendarai kerbau yang berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi. Suwo pun jatuh cinta kepadanya.
Tak lama, mereka mendengar ada orang minta tolong. Ternyata, Sri (Mikha Tambayong) nyaris diperkosa Fakar (Alex Abbad), seorang penjahat yang berkomplot dengan Van Trach, yang selalu berbuat seenaknya semena-mena pada rakyat setempat.
Ceritanya, Sri bersama Suroyo, kakeknya (El Manik), naik pedati, hendak melakukan perjalanan ke suatu tempat, dan di tengah jalan dihadang Fakar yang berniat jahat memperkosa Sri.
Mereka pun menolong Sri dan Suroyo dari kekejaman Fakar, bahkan mereka melukai satu mata Fakar hingga buta. Fakar melapor ke Van Trach dengan alasan Sri dan Suroyo melawan dirinya saat ia menjalankan tugas memungut pajak rakyat.
Mereka terus melanjutkan rencana balas dendamnya, karena melihat Van Trach tampak semakin kejam menindas rakyat. Mereka menyewa penginapan dekat markas pasukan yang dipimpin Van Trach. Dari jendela penginapan, mereka akan menembak Van Trach.
Pada saat akan menembak Van Trach, Arana mendapatkan kejutan dari masa lalunya. Arana melihat Seruni (Happy Salma), istrinya, yang ditawan Van Trach yang memperlakukannya dengan sadis.
Kalau Seruni tak menurut perintah dan keinginan Van Trach, maka Van Trach tak segan-segan mencambuki punggungnya hingga berdarah-darah. Seruni tak berdaya apa-apa, selain mencoba untuk tetap bertahan hidup.
Saat kekuatan dari masa lalu dan masa kini bertemu, Jamar dan Suwo dengan ditemani Arana, pamanya, terus berjuang demi keadilan bagi rakyatnya. Meski persenjataan dan jumlah pasukan tak berimbang, semangat perlawanan mereka pada penjajahan terus bergolak.
Film ini begitu seru penuh pertarungan dengan gaya koboi ala west, yang meski cerita zaman penjajahan, tetap menunjukkan pesona alam Indonesia yang begitu indah.
Sutradara Mike Wiluan mengemas film dengan sangat baik, melalui sinematografi yang indah nan artistik.
Akting Ario Bayu memang tak perlu diragukan, karena ia memang sudah sangat berpengalaman dalam dunia seni peran. Bahkan, ia mampu melakukan adegan pertarungan yang mati-matian dengan sangat baik.
Begitu juga dengan akting Yoshi Sudarso, yang menjalani debutnya dalam film Indonesia, tampak mampu mengimbangi akting Ario dengan sangat baik.
Sayangnya dari segi dialog, tampak ia masih terlihat kaku. Maklum, ia selama ini lebih banyak berkarir di dunia perfilman di luar negeri.
Ada pun akting pada pemain lainnya memperkuat film ini, seperti akting Tio Pakusadewo sebagai pemain watak juga sangat kuat. Kemudian, Pevita Pearce sebagai Kiona, gadis desa pemanah, mempesona.
Kemunculan El Manik dalam film ini bisa dibilang comeback ke dalam dunia perfilman, setelah sekian lama El Manik main di banyak sinetron di layar kaca. Semua pemainnya menampilkan akting yang natural.
Menyaksikan film ini, kita merasakan semangat perlawanan pada penjajahan yang bergolak, menumbuhkan nilai patriotik pada para penonton ‘zaman now’. Cerita zaman penjajahan Belanda yang dikemas dengan sinematografi yang sangat baik sekelas film Hollywood.
Bangsa Indonesia pada zaman dahulu, sekian lama hidup dalam penjajahan penuh kekejaman dan tak berperikemanusiaan. Sebagaimana yang tertera dalam pembukaan UUD 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak berperikeadilan dan perikemanusiaan.
Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film Indonesia sebelumnya.  Film percampuran antara aksi campur dengan fantasi, antara west cowboy dengan east buffalo boy, antara dunia Barat dengan dunia Timur, yang berpadu dalam satu film. Sebuah film yang tentu memperkaya khasanah film Indonesia.
Baca Juga
Lihat juga...