Filter Under Grafel Antar Taufik Sukses Budidayakan Ikan Guppy

Editor: Mahadeva WS

764

YOGYAKARTA – Mayoritas usaha budidaya ikan hias Guppy di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Hal itu membuat, ikan Guppy yang dihasilkan memiliki kualitas maupun harga jual yang relatif rendah. 

Namun seorang pemuda asal Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Ahmad Taufik (30), sukses menghasilkan Guppy kualitas ekspor dengan sistem Filter Under Grafel. Keberanian dan ketekunan, mampu menghasilkan ikan Guppy kualitas unggul atau kualitas kontes yang telah diekspor ke Filipina, Thailand hingga Amerika.

Pembudidaya ikan Guppy, Ahmad Taufik 30 warga Prambanan Sleman – Foto: Jatmika H Kusmargana

Ikan Guppy atau ikan cethul yang biasanya dijual Rp1.000-Rp3.000 perekor, ditangan Taufik, nilai jualnya tembus 35-100 US Dollar atau Rp600 ribu hingga Rp1juta perpasang.

Ditemui di tempat pembudidayaan, yang ada di Dusun Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Taufik mengatakan, kunci sukses menghasilkan ikan Guppy kualitas ekspor adalah pemeliharaan. “Kuncinya hanya satu. Perawatan dan pemeliharaan. Karena untuk bisa menghasilkan ikan kualitas bagus tentu butuh perawatan dan pemeliharaan khusus,” katanya.

Selain wajib menyiapkan bibit yang berkualitas, kualitas air untuk budidaya juga harus selalu terjaga. Taufik menerapkan sistem filter under grafel yang diadopsi dari sejumlah farm ikan Guppy di Taiwan. “Parameter air harus selalu terjaga. Baik suhu, PH, maupun kualitasnya. Sistem filter under grafel ini menggunakan media batu di dasar akuarium. Sementara di bagian bawah akuarium dibuat lubang saluran,” jelasnya.

Memiliki sekira 530 akuarium, baik akuarium untuk indukan, breading, pembedaran maupun display, Taufik mengaku mampu menghasilkan 45 jenis ikan Guppy dengan jumlah 150 pasang perbulan. “Akuarium untuk proses perkawinan berukuran 40x30x25. Ikan jantan tinggal dicampur dengan ikan betina dengan perbandingan 1:3. Setelah beranak, induk dipisah. Umur satu bulan anakan bisa dipindah ke kolam pembesaran, hingga siap panen umur tiga bulan” katanya.

Faktor lain yang juga menjadi kunci budidaya adalah terkait pakan. Khususnya pakan untuk burayak atau anakan ikan. Taufik memadukan antara pakan alami dan pakan buatan.  “Untuk pakan alami biasanya memakai kutu air, artemia dan cacing sutra. Untuk kutu air kita sudah budidayakan sendiri. Selain itu juga menggunakan pakan buatan berupa pelet. Pakan alami bagus untuk pertumbuhan tapi resiko bisa bawa penyakit. Sedang pakan buatan lebih aman namun pertumbuhan kurang,” tuturnya.

Salah satu kendala budidaya ikan Guppy yang dialami Taufik adalah pengaruh cuaca. Perubahan suhu secara drastis pada saat siang dan malam hari, di musim kemarau sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Untuk mengatasi hal, biasanya dilakukan beberapa hal mulai dari menjaga kualitas air, mengurangi perubahan suhu ruangan tempat budidaya secara drastis, hingga memasang hitter atau alat pengatur suhu akuarium.

“Sebenarnya peluang pasar ikan Guppy kualitas kontes di luar negri masih sangat luas. Hanya saja, belum banyak pembudidaya ikan di Indonesia mampu menembus itu. Padahal sebenarnya kualitas ikan Indonesia tidak kalah bagus. Bahkan ikan Guppy dari Indonesia cukup punya nama,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...