FK UB Persiapkan Mental Mahasiswa Ikuti PIMNAS

Editor: Koko Triarko

310
Pembantu Rektor III UB Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno. -Foto: AgusNurchaliq
MALANG – Sembilan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), mengikuti gelaran Expo PKM, guna mempersiapkan mental para mahasiswa dalam mengikuti ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). 
Sembilan tim tersebut, Muffin Oreo, P-FLAP, ROLADE, Gasing, Dua Kates, Pandu Seri, CFD Foam, Duracyver dan LAR-PHD.
Wakil Rektor tiga UB, Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno mengatakan, untuk bisa menjadi juara umum PIMNAS yang keempat kalinya secara berturut-turut, UB telah melakukan berbagai langkah persiapan, termasuk dengan menggelar ekspo PKM untuk menyiapkan mental juara bagi mahasiswa di ajang PIMNAS.
“Semenjak kita mendapatkan 175 judul proposal, langsung kita genjot segala persiapannya dengan menggunakan dana talangan dari rektor maupun fakultas masing-masing. Artinya, para mahasiswa ini tinggal jalan untuk melakukan penelitiannya,” terangnya, Jumat (13/7/2018).
Syafira Idhatun Nasyiah (kanan) Tim Gasing. -Foto: Agus Nurchaliq
Nantinya, pada 14-15 Juli, UB juga akan mengadakan monitoring dan evaluasi (Monev) internal untuk melihat semua aktivitas dari mahasiswa, dan sejauh mana kesiapan mereka sebelum menghadapi monev eksternal yang akan dilakukan oleh pihak kementerian.
“Tentunya ini merupakan pertaruhan UB, agar bisa berlaga dan menjadi juara umum kembali untuk keempat kalinya berturut-turut,” ucapnya.
Dikatakan Arief, saat ini fakultas yang paling banyak mengirimkan wakilnya dan mendapatkam medali di ajang PIMNAS adalah Fakultas Teknologi Pertanian, karena mereka melakukan pembinaan yang sangat bagus, yang sudah dimulai dari tingkatan mahasiswa baru.
“Untuk itu, saya sangat berharap dari tim FK UB ini ada yang mendapatkan emas di ajang PIMNAS nanti,” ucapnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan III FK UB, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, menyebutkan, Expo PKM tersebut memang dilakukan secara rutin sebagai bekal bagi mahasiswa sebelum menghadapi monev internal UB dan monev eksternal dari kementerian.
“Melalui ajang ekspo PKM ini, kita bisa melihat progres kesiapan dari para mahasiswa sudah sejauh mana untuk menghadapi monev jelang PIMNAS,” terangnya.
Karena, menurutnya, masalah yang kerap dihadapi FK UB adalah bergesernya tren mahasiswa dalam mengikuti PIMNAS. Jika dulu mahasiswa FK UB suka mengikuti PKM menuju PIMNAS, tapi sekarang mereka justru lebih senang mengikuti lomba internasional.
“Untuk itu, sekarang kami berusaha menumbuhkan kembali semangat mahasiswa untuk lebih antusias mengikuti PIMNAS. Karena bagaimana pun juga, PIMNAS merupakan salah satu ajang yang sangat bergengsi bagi perguruan tinggi,” terangnya.
Sementara itu, salah satu anggota tim ‘Gasing’, Syafira Idhatun Nasyiah, yang turut mengikuti ekspo PKM, mengaku timnya telah siap menghadapi monev jelang PIMNAS.
Ia menjelaskan, ‘Gerakan Siswa Sadar Bulying’ (Gasing) merupakan PKM Pengabdian masyarakat yang sangat fokus pada penanganan kasus-kasus bullying yang kerap terjadi di sekolah, khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Dari berbagai literatur, kasus bullying ini banyak terjadi di lingkungan SMP, karena memang anak-anak pada usia ini masih memiliki tingkat emosi yang labil dan juga mudah menarik kesimpulan tanpa berpikir panjang. Jadi, mereka cenderung untuk melakukan tindakan bullying yang bisa mengganggu, bahkan merugikan orang lain,” ucapnya.
Tim Gasing ingin membantu korban-korban bullying, sehingga mereka nantinya bisa meningkat kepercayaan dirinya, serta memotivasi para pelaku, agar tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari.
Caranya, dengan melakukan beberapa kegiatan, yakni penyuluhan materi mengenai bullying, bahayanya seperti apa dan jenis bullying  kepada para siswa. Selanjutnya, Tim Gasing menyebarkan kuisoner ke salah satu kelas sasaran yang direkomendasikan oleh pihak sekolah yang membutuhkan penanganan khusus terkait bullying.
“Di sana kami menemukan, ada 16 siswa menjadi korban bullying, 17 siswa pelaku bullying dan hanya 10 orang yang bukan menjadi pelaku maupun korban. Selain itu, kami menemukan 8 orang yang memiliki peran ganda, yakni sebagai pelaku dan korban bullying,” ungkapnya.
Setelah mendapatkan data tersebut, Tim Gasing melakukan rehabilitasi kepada pelaku dan juga korban bullying. Proses rehabilitasi tersebut, di antaranya dengan membekali para korban, bagaimana cara  menghadapi bullying dari teman, menguatkan diri dan cara agar berani melawan terhadap pembulian.
Kemudian menggali pengalaman-pengalaman pribadi dari korban dan pelaku serta melakukan monitoring, kira-kira perubahan apa yang terjadi setelah ada Tim Gasing.
“Terakhir, kami juga akan mengadakan sosialisasi tentang bullying kepada guru dan siswa, oleh dokter psikiatri, sehingga diharapkan nantinya dapat mendukung upaya penanganan terhadap bullying secara selaras, antara pihak siswa dan guru,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...