Fredrich Yunadi Divonis Tujuh Tahun, KPK Ajukan Banding

Editor: Satmoko Budi Santoso

236
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah - Foto Eko Sulestyono

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya mengajukan banding terkait vonis 7 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa Fredrich Yunadi. Fredrich dinyatakan telah terbukti bersalah dalam persidangan yang digelar di Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan, KPK memutuskan melakukan banding terkait vonis 7 tahun penjara dari Pengadilan Tipikor Jakarta terhadap terdakwa Fredrich Yunadi dalam kasus menghalang-halangi proses penyidikan korupsi yang sedang berjalan.

Febri menjelaskan bahwa pengajuan banding tersebut baru disampaikan secara lisan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK. Alasannya karena memori banding saat ini sedang disusun sambil menunggu penerimaan berkas salinan putusan perkara Fredrich dari Pengadilan Tipikor Jakarta.

Sebelummya, JPU KPK menuntut agar majelis hakim memvonis terdakwa Fredrich dengan hukuman 12 tahun penjara. Tuntutan tersebut dianggap sesuai dengan tindakan Fredrich yang menggunakan segala cara untuk melindungi atau menyembunyikan kliennya yang sedang terjerat kasus korupsi.

“KPK memandang bahwa vonis 7 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim terhadap Fredrich Yunadi masih lebih rendah 2/3 dari yang seharusnya yaitu 12 tahun atau sesuai dengan tuntutan JPU KPK,” pungkas Febri Diansyah.

Fredrich yang berprofesi sebagai seorang advokat atau pengacara telah menyalahgunakan hak dan kewajiban yang dimilikinya. Fredrich telah menghalang-halangi proses penyidikan yang dilakukan KPK terhadap kliennya yaitu Setya Novanto (Setnov) dalam kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Saat itu Setnov sedang dalam pencarian karena yang bersangkutan sudah 2 kali mangkir alias tidak datang memenuhi panggilan pemeriksaan yang dilakukan penyidik KPK. Namun tiba-tiba Setnov menghilang saat KPK mendatangi rumah kediaman Setnov di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

KPK malam itu bermaksud akan menjemput paksa Setnov, namun rupanya ada sejumlah pihak yang diduga sengaja menyembunyikan keberadaan Setnov. Selang sehari kemudian Setnov dilaporkan mengalami kecelakaan setelah mobil Toyota Fortuner warna hitam yang ditumpanginya menabrak trotoar dan tiang listrik di daerah Jakarta Selatan.

Setnov kemudian segera dibawa menuju Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, Jakarta Selatan, untuk mendapatkan pertolongan pertama setelah mengalami kecelakaan. Namun  setibanya di rumah sakit, Setnov tidak dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) melainkan langsung menjalani rawat inap beberapa hari.

KPK mencurigai bahwa Fredrich sebelumnya telah merekayasa sedemikian rupa agar Setnov seolah-olah sakit parah dan kondisi kesehatannya memburuk. Tujuan skenario tersebut dilakukan Fredrich agar Setnov tidak ditangkap KPK dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan seorang tersangka untuk menjalani pemeriksaan hukum.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.