Garap 13 The Haunted, Rudi Soedjarwo Kolaborasi Generasi Milenial

Editor: Makmun Hidayat

267
Rudi Soedjarwo - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Rudi Soedjarwo termasuk sutradara yang handal. Ia disebut sutradara yang turut menandai bangkitnya industri perfilman Indonesia.

Filmnya Ada Apa dengan Cinta? mengantarkan pemeran utama perempuan, Dian Sastrowardoyo, meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2004, dan ia meraih Piala Citra FFI 2004 sebagai sutradara terbaik.

Rudi kini usianya sudah tidak muda lagi. Dalam menyutradarai film produksi RA Pictures berjudul ’13 The Haunted’, ia mengaku kolaborasi dengan para pemain muda yang sekarang dikenal dengan generasi milenial

“Menyutradarai film 13 The Haunted, saya seperti melakukan kolaborasi dengan para pemain muda yang sekarang dikenal dengan generasi milenial,” kata Rudi Soedjarwo dalam acara gala premiere film 13 The Haunted di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa malam (24/7/2018).

Lelaki kelahiran Bogor, Jawa Barat, 9 November 1971, itu membeberkan kalau kolaborasi, bukan kompromi, karena kalau kompromi berarti ada yang makan hati atau merasa disakiti. “Mereka sangat membuka diri dan rendah hati,” bebernya.

Mengenai genre horor yang kini dikerjakan, Rudi mengaku tak perlu mikir lagi. Sedangkan kalau genre drama, ia masih harus pikir lebih jeli, apakah sesuai dengan selera atau tidak. Begitu juga dengan genre komedi yang masih dipertimbangkan, apakah lucu atau tidak.

“Yang jadi problem, saya belajar dari kekurangan film horor yang dulu saya sutradarai. Bagi saya, genre horor adalah genre yang paling menakutkan dalam membikin film karena sulit. Bikin orang sedih itu gampang, bikin orang tertawa juga mudah, tapi bikin orang takut itu susah,” beber putra Anton Soedjarwo (Kapolri 1982-1986).

Supaya tidak blank, tidak kosong lagi dalam menyutradarai film horor tersebut, kata Rudi, ia harus mau belajar lagi. Kenapa dibilang horor karena peristiwanya yang menakutkan, tapi karakternya tidak sama.

“Kita bisa melewati peristiwa yang sama, tapi reaksi kita berbeda karena kita pribadi dan karakter kita yang berbeda,” ungkapnya.

Satu-satunya genre film yang membuat Rudi merasa blank, merasa kosong, adalah film bergenre horor. Ia mengaku dirinya memulai menyutradarai film dari genre drama Ada Apa dengan Cinta? sehingga ia mengalami kesulitan dalam menyutradarai film horor.

“Untuk film 13 The Haunted ini, kita harus membuat karakter yang kuat, karena kalau tidak kuat ia bisa bingung mau bagaimana. Karakternya siapa? Apa yang terjadi dengan mereka? Peristiwa apa yang yang menimpa mereka? Apa dampaknya terhadap kehidupan mereka setelah kejadian itu dan bagaimana ke depannya?” paparnya.

Adapun mengarahkan pemain muda, Rudi melakukan pendekatan. “Saya sudah lama tidak mengikuti perkembangan para pemain zaman sekarang. Saya harus bisa membedakan zaman dulu dengan zaman sekarang. Takutnya ada penolakan-penolakan yang saya lakukan dalam penyutradaraan, seperti yang saya lakukan pada zaman dulu, jadi saya melakukan pendekatan,” tuturnya.

Rudi mengaku awalnya ia merasa kesulitan dalam mengarahkan generasi milenial. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa mengemong, membimbing, mereka, bukan dengan keras memerintah harus ini-itu.

“Kalau kita keras nanti kita dibilang temperamental, padahal kita tegas dalam mengarahkan sesuai proporsinya,” tegasnya.

Menurut Rudi, anak muda generasi milenial datang dengan niat lebih dari sekedar belajar main film yang memudahkan ia dalam menyutradarainya. Mereka sudah memberikan yang terbaik, tapi sebenarnya mereka masih punya ruang besar yang jauh akan lebih baik lagi.

“Karena anak muda generasi milenial masih dalam taraf belajar, jalan karirnya masih panjang dan kita masih mengharapkan akting mereka ke depan akan semakin maju dan berkembang,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...