Haedar Ajak Semua Elemen Samakan Misi Kebangsaan

Editor: Koko Triarko

189
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, pada halal bihalal 1439 Hijriah Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (4/7/2018). -Foto: Sri Sugiarti.
JAKARTA – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, mengajak semua elemen bangsa, termasuk pemerintah, untuk terus menyamakan misi kebangsaan, sekali pun berbeda pandangan.
Menurutnya, ketika bangsa ini dibangun atas visi nasional ingin menjadikan Indonesia yang merdeka, bersatu, adil dan makmur, tentu dasarnya adalah satu, yaitu ideologi Pancasila.
“Negara harus melindungi segenap rakyat Indonesia, juga mewujudkan kesejahteraan, kecerdasan kehidupan bangsa dan perdamaian dunia. Inilah sesungguhnya hal mendasar yang harus dicapai oleh negara”, kata Haedar, dalam sambutan halalbihalal Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (4/7/2018).
Baca: Wapres JK Dorong NU dan Muhammadiyah Bersinergi
Haedar mengajak pemerintah dan tokoh agama, untuk terus berdialog mengaktualisasi dalam kehidupan berbangsa. Dalam hidup ini, menurutnya, boleh banyak pandangan dalam menghadapi masalah, baik itu tentang kesenjangan, radikalisme, terorisme dan hubungan Indonesia dengan negara lain.
Dalam kehidupan demokrasi ini, tegas Haedar, wajar adanya ragam pandangan. Yang terpenting adalah membangun semangat silaturahmi kebangsaan dan beriktiar untuk melakukan dialog cerdas dan terbuka.
“Dengan jiwa besar masing-masing, saya yakin bangsa ini akan memperoleh energi positif untuk mewujudkan cita-cita nasional,” ujarnya.
Haedar berharap, keragaman pandangan tidak membuat kita seakan-seakan satu tali kemudian berbeda secara mendasar. “Seakan-seakan kelihatan satu, tetapi hatinya berbeda. Ini satu logika yang harus kita renungkan bersama,” ujarnya.
Haedar juga menegaskan, dalam dialog  juga harus membangun orentasi keagamaan dan nilai-nilai kebudayaan dalam kehidupan kebangsaan. “Bagaimana nilai-nilai keagamaan itu memberi jiwa pada ke-Indonesia-an”, katanya.
Bangsa Indonesia ini, lanjut Haedar, selain mempunyai dasar ideologi Pancasila, juga penduduknya mayoritas Muslim terbesar di dunia. Maka, dialog antara ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an harus terus mernjadi dinamika kehidupan kebangsaan.
“Jangan sampai ada pandangan keliru, ketika muncul dialog atau aspirasi ke-Islam-an, lalu diklaim mengancam NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” tukasnya.
Haedar pun menjelaskan, dalam kontek tersebut, misalnya Muhammadiyah, telah selesai mengkontruksi Indonesia sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Maka, yang paling penting adalah bagaimana aktualisasi ke-Indonesia-an itu di satu pihak menyerap nilai-nilai agama yang hidup dan memajukan.
“Tapi, pada saat yang sama umat beragama juga berada dalam bingkai kebangsaan yang damai”, jelasnya.
Terakhir, Haeder mengingatkan, dialog dengan komponen bangsa dan tokoh politik harus berperan sesuai dengan fungsinya. Sehingga, terjalin sinergi kolektif, dan tidak perlu berpindah tempat. Semisal,  ormas menjadi parpol, dan sebaliknya, parpol menjadi ormas.
“Saya pikir dengan pembagian tugas yang sama, Indonesia memperoleh mozaik yang indah dan menjadi jaya dan maju,” jelasnya.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, mengadakan halalbihalal 1439 Hijriyah, sebagai upaya mempererat silaturahmi dengan pemerintah, tokoh agama, dan umat Islam, yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Menurut Haedar, memperpanjang silaturahmi itu bukan untuk menjalin apa yang sudah ada dan terjadi, tetapi tidak kalah pentingnya adalah merajut kembali persaudaraan yang mungkin sempat putus.
Lihat juga...

Isi komentar yuk