Hanafi dan Goenawan Mohamad Saling Respon dalam 57 x 76

Editor: Satmoko Budi Santoso

351

JAKARTA – Dua seniman besar, Hanafi dan Goenawan Mohamad, berkolaborasi dalam sebuah pameran bertajuk ’57 x 76’. Sebuah pameran yang beda dari pameran-pameran sebelumnya, karena kedua seniman besar tersebut saling merespon dengan kekuatan kata dan keindahan gambar.

“Konsep pameran ini kolaborasi antara Hanafi yang kita kenal sebagai perupa, dengan Goenawan Mohamad yang kita kenal sebagai penyair, sastrawan dan wartawan,“ kata Ratu Selvi Agnesia kepada Cendana News di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (1/6/2018).

Perempuan kelahiran Bandung, 30 November 1986 itu membeberkan pameran kolaborasi ini diberi judul ’57 x 76’ berdasarkan usia mereka berdua.

“Mas Hanafi berusia 57 tahun, sedangkan Mas Goenawan Mohammad usianya 76 tahun,“ beber lulusan Magister Antropologi Universitas Indonesia ini.

Ratu Selvi Agnesia (Foto Akhmad Sekhu)

Selama enam bulan ini, kata Selvi, mereka berproses dengan konsep kolaborasinya, Hanafi mengirimkan karya ke Goenawan dan kemudian direspon. Begitu juga sebaliknya, Goenawan mengirimkan karya ke Hanafi dan kemudian direspon.

“Keduanya saling merespon. Dalam enam bulan ini menghasilkan 218 karya, tapi yang dipamerkan di sini sekitar 115 karya. Disesuaikan dengan gedung dan juga pilihan dari tim kurator,“ papar penulis lepas dan art manager ini.

Menurut Selvi, dalam kolaborasi ini keduanya tidak saling menonjolkan diri masing-masing, baik teknik maupun kemampuan, tapi saling merespon.

“Sehingga ada pijakan awal, bahkan dalam pameran ini ada tiga seniman besar, yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst yang menjadi pijakan karya. Berangkat dari ketiga seniman besar dunia ini lalu direspon oleh Mas Hanafi dan Mas Goenawan, intinya saling merespon,“ ungkapnya.

Selvi menerangkan sambutan masyarakat sungguh luar biasa.

Salah satu karya yang merespon puisi Goenawan Mohamad Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum – Foto Akhmad Sekhu

“Dalam pembukaan pameran yang datang 700 orang, lalu setiap Sabtu-Minggu yang datang ribuan orang, kebanyakan yang datang teman-teman kedua seniman itu,“ terangnya.

Harapan Selvi, pameran ini tidak sekedar kolaborasi, tapi juga bertemunya seniman dan pesan yang sampai ke masyarakat.

“Maka kita juga bikin lokakarya kolaborasi sebagai metode yang diikuti 141 para perupa muda,“ ujarnya.

Selvi ingin pameran ini menginspirasi, dalam arti punya tawaran baru, apa itu kolaborasi.

“Mas Goenawan sebagai penulis dan karya mengandalkan kata-kata, sedangkan Hanafi sebagai perupa tentu mengandalkan pada gambar. Pameran ini sebuah kolaborasi,“ tegasnya.

Dalam sebuah karya pameran, ada puisi Goenawan berjudul ‘Tentang Seseorang yang Terbunuh di Seputar Hari Pemilihan Umum’ dan juga goresan lukisan khas Hanafi.

“Yang sebenarnya tidak diharapkan dari pameran ini adalah kita saling menebak, ini karya siapa dan ini karya siapa. Karena kita menginginkan nge-blend tapi apresiator bebas menafsirkan,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...