Harga Telur Ayam Melambung, Peternak Justru Merugi

Editor: Mahadeva WS

545

YOGYAKARTA – Melambungnya harga jual komoditas telur ayam sejak beberapa waktu terakhir ternyata tidak memberikan keuntungan bagi peternak. Para peternak justru mengaku merugi karena produktivitas telur ayam mereka terus menurun.

Penurunan produksi tersebut, akibat kebijakan pemerintah mencabut penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) sebagai campuran pakan ternak. “Memang sejak 10 bulan terakhir, harga jual telur ayam terus naik. Mencapai Rp24-25 ribu per kilo. Padahal biasanya hanya berkisar Rp18-20 ribu per kilo. Tapi dari keuntungan tetap sama saja, karena produktivitas telur menurun,” ujar salah seorang peternak ayam petelur asal Bantul, Musriono, Jumat (13/7/2018).

Musriono menyebut, harus mengeluarkan biaya pakan tambahan untuk meningkatkan produktivitas telur ayam ternaknya. Selain menambah pemberian konsentrat menjadi 20 kilogram perhari, peternak juga masih harus menambah pemberian obat atau vitamin berupa Amoksitin sebagai pengganti AGP yang dilarang pemerintah.

“Karena pakan saat ini sudah tidak mengandung AGP, maka untuk meningkatkan produktivitas telur ayam, pemberian konsentrat harus ditambah. Jika biasanya per 1000 ekor hanya diberi 110 kilo konsentrat per hari, kini harus diberi 130 kilo konsentrat per hari,” tuturnya.

Dengan penambahan jumlah konsentrat, penurunan produktivitas telur ayam ternak dapat ditekan. Jika tanpa konsentrat tambahan, penurunan produktifitas telur mencapai 10-15 persen. Dengan tambahan konsentrat, penurunan produktivitas hanya mencapai tujuh persen saja.

Kebijakan pemerintah yang mencabut penggunaan AGP sebagai campuran pakan ternak, mengakibatkan banyaknya ternak terserang penyakit. Tak hanya itu produktivitas telur ayam juga mengalami penurunan signifikan. Tidak sedikit peternak merugi dan gulung tikar. “Jadi pakan yang dibeli peternak saat ini tidak mengandung AGP. Padahal AGP sangat penting untuk kekebalan dan pertumbuhan serta produktivitas telur ayam ternak. Anehnya harganya sama, per sak tetap Rp360ribu isi 50 kilogram. Harusnya-kan turun,” keluhnya.

Para peternak ayam seperti Musriono mengaku hanya bisa berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi dengan menyediakan pengganti AGP. Peternak juga meminta pemerintah tidak sekedar membiarkan peternak mencari sendiri pengganti AGP.

Sejak dicabutnya penggunaan AGP di dalam pakan ternak, banyak ternak unggas di Bantul yang terserang penyakit. Penyakit itu umumnya adalah penyakit yang menyerang pencernaan ayam, seperti berak hijau berak putih hingga gangguan pernafasan. “Sejak AGP dilarang banyak ternak yang terserang penyakit. Itu membuat sejumlah peternak merugi. Bahkan sudah banyak peternakan yang gulung tikar. Ini juga yang membuat harga komoditas telur maupun daging ayam semakin melambung tinggi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...