Harga Telur Ayam Naik, Warga di Lamsel Beralih Konsumi Ikan

Editor: Koko Triarko

322
LAMPUNG — Kenaikan harga telur dari semula Rp22.000 per kilogram di bulan April, menjadi Rp27.000 pada bulan Juli ini, membuat sejumlah warga di Lampung Selatan lebih memilih membeli ikan dan tempe sebagai lauk sehari-hari.
Penjual ikan di tempat pelelangan ikan Dermaga Bom Kalianda, Hasan (40), mengatakan, sejak harga telur naik, penjualan ikan terus meningkat. Sebagian warga memilih membeli ikan jenis kurisi, kembung, kacangan, tongkol dan teri.
Menurutnya, harga ikan segar di tempat pelelangan ikan Bom Kalianda, saat ini Rp15.000 per kilogram, dan harga jual maksimal Rp50.000.
Suminah salah satu warga pedagang telur di pasar Bakauheni Lamsel [Foto: Henk Widi]
Harga tersebut, menurutnya lebih murah dibandingkan dengan harga telur, yang per kilogramnya berisi 16 hingga 17 butir.
“Peningkatan permintaan akan ikan memang sudah terlihat sejak warga mengeluhkan kenaikan harga telur, dan harga ikan laut masih cukup stabil karena hasil tangkapan ikan, melimpah,” terang Hasan, Jumat (13/7/2018).
Harga ikan yang stabil di kisaran Rp15.000 hingga Rp50.000 per kilogram, kata Hasan, dipengaruhi pula oleh kondisi cuaca yang baik untuk melaut. Kondisi bulan gelap ikut menyumbang banyaknya tangkapan ikan di perairan Kalianda, yang kemudian dijual ke TPI Bom Kalianda. Hasil tangkapan ikan berbagai jenis setelah melalui proses pelelangan, dijual ke pengecer (pelele).
Hasanah, pedagang ikan di Desa Rawi, Kcamatan Penengahan, juga mengaku mengalami peningkatan penjualan ikan air tawar dan laut. Ia bahkan harus mendatangkan ikan air tawar dari Cianjur dan Tasikmalaya, untuk memenuhi kebutuhan ikan yang meningkat.
Harga ikan air tawar jenis ikan lele masih dijual seharga Rp22.000 per kilogram, gurami Rp30.000, nila Rp20.000 dan emas Rp23.000 per kilogram. “Jika dibandingkan dengan telur memang selisihnya lebih murah, sehingga warga memilih membeli ikan air tawar dan ikan laut,” beber Hasanah.
Sementara itu, pedagang telur di pasar tradisional Bakauheni, Suminah (40), mengatakan, kenaikan harga telur sejak Ramadan hingga setelah Lebaran, terjadi di tingkat distributor. Meski sebagian penjual mematok harga Rp27.000 per kilogram, ia mengaku menjual seharga Rp26.000 per kilogram, dan bagi pelanggan tetap dijual Rp24.000 per kilogram.
Suminah mengatakan, kenaikan harga telur tidak diketahui penyebab pastinya. Namun ia memastikan harga sudah naik sejak dari peternak ayam petelur. Hal demikian karena sebagian distributor beralasan, kenaikan harga telur merupakan imbas dari harga pakan unggas yang naik, sehingga harga telur pun naik untuk menutupi biaya operasional dan penyediaan pakan.
“Pelanggan telur biasanya dari pemilik usaha kue-kue basah dan kue kering serta pemilik warung makan,” beber Suminah.
Selain ikan, Suminah juga menyebut penjualan tempe dan tahu ikut meningkat dengan adanya kenaikan harga jual telur. Harga tempe saat ini Rp5.000 per tiga potong dan tahu Rp5.000 per wadah, menjadi pilihan warga, untuk menghemat pengeluaran.
Menurut Suminah, kenaikan harga juga terjadi pada telur bebek. Dari peternak, harga telur bebek mencapai Rp2.500 per butir, dan dijual ke konsumen Rp3.000 per butir. Telur bebek kerap digunakan oleh pedagang jamu, pembuat martabak telur dan warga yang membutuhkan telur dalam jumlah terbatas.
Sementara itu, seorang warga Sumini, terpaksa tetap harus membeli telur sebanyak empat kilogram di saat harga tinggi, untuk keperluan syukuran selapanan kelahiran anaknya. Tradisi yang disebut riungan atau kenduri dengan menu telur rebus itu, menurutnya tetap harus dilakukan, meski harga telur  sedang naik.
Baca Juga
Lihat juga...