HATIMU JUGA HARUS BERKERUDUNG AJARAN ALLAH

Oleh: Siti Hardijanti Rukmana

3.818

Dulu sebelum naik haji, saya suka pakai kerudung. Tetapi hanya ketika ada acara-acara yang mengharuskan saya berkerudung. Seperti acara ke pondok Pesantren, acara pengajian, atau acara semacamnya yang memerlukan memakai kerudung.

Pada tahun 1989, Alhamdulillah, saya beserta suami dan kawan-kawan, diizinkan Allah untuk melaksanakan perintah Allah menunaikan ibadah haji. “Naik Haji bila mampu,” begitu perintahnya. Kami berangkat ber 60 orang. Ada yang sudah bersuami-istri, namun ada pula yang belum menikah.

Sepulang dari ibadah haji, kami yang wanita bersepakat untuk tetap memakai kerudung selama 40 hari. Berkerudung secara kontinyu setiap hari. Ada sesuatu yang merambah hati…, saya merasa lebih percaya diri dan sabar. Akhirnya saya memutuskan, tidak melepas kerudung saya.

Setelah beberapa bulan saya berkerudung, suatu hari bapak memanggil saya. Saya datang ke rumah bapak, dan ibu pada saat itu juga ada di situ (bersama bapak). Setelah saya cium tangan bapak dan ibu, Bapak bertanya pada saya :

“ Wuk kamu sekarang berkerudung terus ?”

“Iya pak.” Saya menjawab sambil membatin kok tumben (bapak bertanya seperti itu).

“Kenapa sekarang, kamu mau terus memakai kerudung?” Bapak bertanya lagi.

“Karena, selain perintah Allah, juga saya merasa lebih percaya diri dan lebih sabar pak,” saya mencoba menjelaskan pada bapak.

“Bukan karena ingin gaya-gayaan saja, atau menarik perhatian orang lain?” bapak memotong bicaraku.

“Tidak pak.” Makin bingung saya atas pertanyaan bapak itu.

“Sudah bulat tekadmu untuk memakai kerudung selamanya?” lagi-lagi bapak bertanya.

“Insya Allah sampun (sudah) bapak,” singkat saya menjawab.

“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Alhamdulillah…. Bapak dan ibu akan selalu mendukungmu. Hanya bapak minta, jangan sampai kamu sekarang berkerudung, setahun kemudian kamu lepas, setahun kemudiannya kamu pakai lagi. Laksanakan secara istiqomah. Bersikaplah sebagai seorang Muslimah yang baik, karena kamu tidak saja memakai kerudung di kepala. Tetapi hatimu juga berkerudung ajaran-ajaran ALLAH. Pijakkan langkahmu selalu di jalan ALLAH, tindakanmu selalu bertumpu dalam petunjuk ALLAH. Mantapkan ibadahmu, perbanyak amalmu, isilah kehidupan dunia dalam taatmu pada-NYA, untuk menyempurnakan kehidupan akhiratmu. Insya Allah, TUHAN akan selalu melindungi dan membimbingmu … Aamiin.”

“Aamiin …”. Tak dapat kubendung tangisku mendengar wejangan bapak. Saya langsung sungkem mencium lututnya, sambil berusaha untuk bisa bicara : “Matur sembah nuwun bapak (Terima kasih bapak). Dalem nyuwun pangestu (saya mohon doa restu).” Hanya itu yang dapat terucap.

Bapak mencium keningku, lalu menjenggung kepalaku .

Kemudian saya sungkem ke lutut ibu. Ibu mencium aku, lalu memelukku erat. Ibu dalam isaknya berkata : “Jadilah selalu Wanita Utama ya ngger (nak), welas asih, menjadi suri tauladan, dan menjadi kebanggaan orang tua.”

Nyuwun Pangestu ibu (mohon doa restu ibu).”

Kenangan peristiwa yang tak mungkin terlupakan. Keharuan dalam keanggunan.

“Bapak Ibu, kami selalu bangga dan bahagia menjadi anak-anak bapak dan ibu. Apapun kata orang lain, bapak ibu adalah orang tua yang terbaik bagi kami…
We love you so much … “

“Ya ILLAHI, satukan selalu bapak dan ibuku di surga-MU, aamiin ya ROBB .”

Jakarta, 14 Juli 2018
Pukul 05.00 usai Subuh

Baca Juga
Lihat juga...