Ibu-ibu di Malang Dilatih Memproduksi Makanan Olahan

Editor: Mahadeva WS

191

MALANG – Sebanyak 60 orang Ibu-ibu di Malang, Jawa Timur mengikuti pelatihan pengolahan makanan. Pelatihan di selenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro kota Malang.

Instruktur pelatih,Tri Winarni – Foto Agus Nurchaliq

Instruktur pelatih,Tri Winarni menjelaskan, dalam pelatihan tersebut, peserta diberi pengetahuan tentang pembuatan produk makanan olahan berbahan tepung, varian abon serta varian sambal nusantara. Pelatihan diberikan selama lima hari berturut-turut.

“Di sini mereka mendapatkan penjelasan mulai dari penanganan awal sampai dengan akhir. Mulai dari pemilihan bahan yang berkualitas, proses pembuatannya seperti apa sampai dengan pengemasan sehingga sudah berwujud produk layak jual. Semua kita terangkan secara detail sampai mereka paham,” jelasnya di sela-sela pelatihan, Jumat (20/7/2018).

Jika biasanya pelaku usaha kecil menjual produk dengan menggunakan kemasan plastik. Dalam pelatihan tersebut, peserta dikenalkan dengan kemasan yang lebih bagus, tahan lama dan tentunya lebih menarik. Hal itu untuk membantu meningkatkan nilai jual dari produk yang dibuat.

Di dalam pelatihan tersebut peserta juga diajarkan bagaimana memproduksi makanan tanpa menggunakan bahan pengawet kimia. Peserta tetap diperkenalkan dengan bahan tambahan apa saja yang boleh digunakan dan tidak boleh digunakan. “Pengawet sebenarnya boleh digunakan tapi harus pengawet yang khusus digunakan untuk makanan dan sesuai dengan takaran, bukan bahan pengawet lainnya,” terangnya.

Hasil olahan abon jamur – Foto Agus Nurchaliq

Peserta pelatihan terlihat antusias mengikuti setiap materi pelatihan yang disampaikan. Bahkan saat melakukan praktek, pembuatan olahan tepung, abon dan sambal, tidak ada satupun yang meninggalkan tempat pelatihan kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.

Melalui pelatihan olahan makanan, para peserta diharapkan bisa lebih menggali potensi yang ada. Baik potensi dari diri sendiri maupun potensi alam yang sebenarnya sangat luar biasa. “Sekarang tidak ada lagi ceritanya Ibu-ibu yang hanya bisa ngerumpi, tapi mereka sudah harus bisa memaksimalkan potensi mereka. Karena sayang sekali kalau mereka tidak bisa memanfaatkannya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.