Ideologi Agama, Motif Utama Aksi Teror

Editor: Mahadeva WS

178

MALANG – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen. Pol. Ir. Hamli, M.E menyebut, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan aksi terorisme. Namun demikian, motif ideologi agama masih menjadi faktor utama terjadinya aksi terorisme.

Hamli menyebut, pernah ada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap para narapida terorisme. Penelitian tersebut melibatkan koresponden lebih dari 100 orang. “Dalam penelitian tersebut diteliti mengapa seseorang melakukan teror, dan ternyata ada lebih dari satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan aksi terorisme,” sebutnya dalam seminar Radikalisme di Kampus di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB), Selasa (31/7/2018).

Motif aksi teror 45,5 persen diantaranya dipengaruhi ideologi agama. Dimana para pelaku memahami agama dengan cara yang salah. Kebanyakan, mereka menginterpretasikan hadis maupun isi Alquran berdasarkan kemauan mereka sendiri. Salah satu contohnya mengenai pengertian Jihad.

“Jihad menurut mereka artinya hanya perang dan perang, tidak ada pengertian yang lainnya kecuali perang. Padahal di Agama Islam, pengertian jihad tidak hanya perang, tetapi banyak yang bisa dilakukan, misalnya dengan cara mengentaskan kemiskinan, kebodohan ataupun jihad lain selain perang. Tapi bagi mereka hal tersebut tidak dianggap sebagai  Jihad,” jelasnya.

Faktor selanjutnya, motif solidaritas komunal yang dilakukan sekira 20 persen responden. Motif Mob mentality atau ikut-ikutan 12,7 persen, motif balas dendam 10,9 persen dan faktor situasional 9,1 persen, serta faktor separatisme 1,8 persen.

Hamli menyebut, sudah cukup lama perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Ada beberapa strategi penanggulangan radikalisme di kampus, diantaranya dengan menanamkan wawasan kebangsaan, bela negara, anti terorisme, anti radikalisme dalam mata kuliah.

Selanjutnya adalah dengan menanamkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. “Selain itu dosen harus menyentuh materi anti radikalisme dan terorisme dalam perkuliahan yang di ampu. Serta melakukan pembelajaran Agama yang berkualitas dan toleran dengan dosen yang berkualitas,” terangnya.

Bagi mahasiswa jangan takut belajar agama, tapi dengan catatan carilah guru yang benar. Selain itu, biasakan jangan hanya mengandalkan informasi dari satu sumber. Cari sumber lain sebagau bahan perbandingan. “Tanya pada orang yang mempunyai pandangan yang memadai,” tuturnya.

Dekan FH UB Rachmat Syafaat menyebut, terdapat lima strategi penanggulangan radikalisme dan terorisme. Strategi tersebut hasil dari pertemuan dekan-dekan fakultas hukum perguruan tinggi se-Indonesia di Palembang, yaitu kontra radikalisasi, deradikalisasi, kontra ideologi, menetralisir saluran-saluran konten radikalisme dan menetralisir situasi. “Dengan lima strategi tersebut, diharapkan nantinya  kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat tidak lagi saling mencurigai, damai, adil dan makmur,” ucapnya.

Kita juga harus merehabilitasi anak-anak terorisme agar mereka tidak terkucilkan di tengah masyarakat. “Lewat forum inilah nantinya kita ingin menyamakan persepsi untuk bisa mencari penyebabnya lebih dulu, kemudian juga mencari model-model radikal dan terorisme itu seperti apa dan kemudian mencari solusinya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.