Imunisasi Campak-MR di Riau Hadapi Kendala Akses Transportasi

217
Ilustrasi -Dok: CDN
PEKANBARU – Dinas Kesehatan Provinsi Riau, menyatakan tantangan dalam pelaksanaan program imunisasi campak atau maesles dan rubella (MR) pada tahun ini adalah untuk menjangkau tiga daerah di Riau, yang akses transportasinya sangat terbatas.
“Yang sulit terjangkau daerahnya, antara lain Kabupaten Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, dan Rokan Hilir, yang memerlukan transportasi khusus dan untuk menjangkau masyarakat di wilayah pedalaman,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Nazir, di Pekanbaru, Kamis (12/7/2018).
Kabupaten Indragiri Hilir, Rokan Hilir dan Kepulauan Meranti merupakan daerah yang berada di pesisir Provinsi Riau. Daerah tersebut masih memiliki akses transportasi terbatas, terutama karena kondisi geografisnya yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil.
Sementara itu, 1.955.658 anak usia sembilan bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun di Provinsi Riau akan mendapatkan imunisasi mulai bulan Agustus hingga September 2018. Target yang harus dicapai minimal 95 persen dari sasarannya.
“Karena itu, butuh kerja sama dari semua pihak untuk menyukseskan program imunisasi ini dari pemerintah kabupaten/kota, tidak hanya dinas kesehatannya saja, tapi juga dari dinas pendidikannya,” ujar Mimi.
Pemprov Riau serius melaksanakan imunisasi MR untuk menyukseskan program nasional itu, guna mengeliminasi campak dan pengendalian rubella di Indonesia pada 2020.
Persiapan khusus di Riau telah berlangsung sejak November 2017, melibatkan banyak pihak lintas sektor mulai dari dinas pendidikan hingga ulama.
Pada bulan Agustus, pelaksanaan kampanye imunisasi MR akan fokus ke sekolah-sekolah. Dalam hal ini, sasarannya adalah lembaga pendidikan mulai dari PAUD, playgroup, TK, SD, tsanawiyah dan sekolah sederajatnya. Pencanangan program imunisasi MR di Riau akan dilakukan pada 1 Agustus.
“Tenaga kesehatan akan turun semua ke sekolah,” katanya.
Kemudian pada September, pelaksanaan imunisasi MR akan dilakukan di pos-pos pelayanan kesehatan, seperti posyandu, puskesmas, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Ia mengatakan, butuh kerja sama semua pihak mulai di antara dari dinas pendidikan, dinas kebudayaan, Kanwil Kementerian Agama, gerakan Pramuka, PKK, aparatur desa, hingga TNI dan Polri untuk menyukseskan program itu.
“Kita butuh kerja sama semua pihak, terutama untuk menjangkau daerah yang sulit dijangkau,” katanya.
Mimi menambahkan, penyakit campak atau maesles sekitar 89 persen menyerang anak usia 0 hingga di bawah 15 tahun. Gejalanya penyerangan virus ini bisa berupa demam, bercak kemerahan di tubuh, mata merah, timbul ruam pada muka dan leher, hingga menyebabkan radang otak, radang paru, dehidrasi dan kematian.
Penyakit rubella lebih berbahaya, karena gejalanya mulai dari demam, ruam ringan, namun 50 persen tidak bergejala.
“Yang paling berbahaya karena penyakit ini juga bisa muncul komplikasi congenital tubella syndrom, yakni infeksi rubella pada ibu hamil. Sekitar 77 persen sindrom ini menyerang anak usia 0 di bawah 15 tahun,” katanya. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.