INDEF: Lebaran dan Pilkada tak Mendongkrak Tingkat Konsumsi

Editor: Koko Triarko

217
Ekonom INDEF, Eko Listiyanto, pada diskusi ekonomi di ITS Tower, Jakarta, Selasa (3/7/2018). -Foto: Sri Sugiarti.
JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, mengatakan, perekonomian pascapilkada serentak pada 27 Juni lalu, meleset dari prediksi.
“Nasib ekonomi pascapilkada dilihat dari berbagai indikator, ternyata realisasinya banyak yang meleset dari harapan,” kata Eko, dalam diskusi ekonomi di ITS Tower, Jakarta, Selasa (3/6/2018).
Padahal, kata dia, pascapilkada di zaman dulu itu adalah dianggap sebagai kepastian ekonomi, yang dari sisi lain berusaha menciptakan optimisme daya dorong terhadap daya beli daerah, seberapa besar dampaknya Pilkada terhadap ekonomi. Tapi ternyata, dampak pilkada serentak pada pertumbuhan ekonomi, kecil.
Menurutnya, hal itu terlihat dari adanya inflasi yang sebelumnya banyak diprediksi pada kisaran 0,3 persen, namun pada kenyataanya inflasi Juni 2018 mencapai 0,59 persen.
“Ini ada lonjakan dari 0,21 persen menjadi 0,59 persen. Dan, ini lebih tinggi tiga kali lipat dari inflansi bulan Ramadan. Jangan-jangan ini terjadi gol bunuh diri. Karena kalau kita lihat Bank Indonesia (BI), angkanya tidak jauh 0,3 persen,” ujarnya.
Menurutnya, ketika terjadi arus balik ke Jakart, juga membawa inflansi yang tinggi. Yakni terjadi lonjakan, karena terlena libur Lebaran yang berdampak harga kebutuhan naik.
Memang, tambah Eko, angka inflansinya rendah, tapi ternyata melihat data-data minggu dan kedua di bulan Juni yang disebut aman, ternyata pada minggu ketiga dan keempat bulan Juni, harga kebutuhan melonjak.
“Saat ini, harga caba rawit merah saja di posisi Rp60 ribu per kilogram,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti INDEF lainnya, Esa Suryaningrum, menambahkan, adanya momen Lebaran dan Pilkada Serentak di bulan Juni tidak mampu mendongkrak daya beli masyarakat.
Hal ini, menurutnya, terbukti dengan lonjakan inflasi yang cukup tajam. Meskipun pemerintah mengklaim inflansi Lebaran 2018 terendah dalam empat tahun terakhir, namun peningkatan dari bulan sebelumnya cukup tinggi.
“Inflansi Mei kisaran 0,21 persen, lalu melonjak di Juni 0,38 persen dan berujung menjadi 0,59 persen. Jadi, lonjakannya sangat tajam,” kata Esa.
Menurutnya,  lonjakan paling signifikan terjadi pada sektor transportasi dan bahan makanan. Inflasi transportasi tidak bisa dihindari, sebab pada momen arus mudik dan balik Lebaran, otomatis harga tiket menjadi lebih mahal dibanding hari biasa.
Begitu juga inflasi pada bahan makanan, tidak dapat dicegah, karena pada momen Lebaran permintaan meningkat cukup drastis.
Dia menjelaskan, inflansi transportasi tercatat dari 0,18 persen menjadi 1,50 persen. “Ini sangat luar biasa tajam, naik 1,32 persen,” jelas Esa.
Namun, menurutnya, meskipun inflasi relatif rendah dibandingkan tahun lalu, tapi pihaknya menilai inflasi Mei ke Juni sangat tajam lonjakannya. Terbukti daya beli masyarakat bukan menguat, tetapi malah melemah akibat lonjakan inflasi Mei ke Juni yang tajam.
Jika daya beli masyarakat melemah, katanya, maka laju pertumbuhan ekonomi nasional akan terhambat.
“Pilkada dan Lebaran yang diharapkan jadi mesin untuk mendongkrak konsumsi, ternyata tidak bisa, karena daya beli masyarakat turun,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...