Indonesia Pusat Ekonomi Islam, Mencakup Zakat

Editor: Satmoko Budi Santoso

173
Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo - Foto: Dok. CDN

JAKARTA – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Bambang Sudibyo menyatakan, zakat berpotensi menjadi sumber daya alternatif dalam mendukung pencapaian SDGs di Indonesia.

BAZNAS bersama filantropi Indonesia telah mendorong dan memfasilitasi peran dan keterlibatan gerakan zakat dalam pencapaian SDGs melalui platform zakat on SDGs sejak November 2016.

Menurutnya, buku fikih diperlukan untuk menghilangkan keraguan saat implementasi di lapangan dalam upaya menumbuhkan kesadaran berzakat. “Perspektif sebagai bukti bahwa leadership perzakatan di Indonesia itu nyata disamping ada produk pengelolaan zakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Bambang Brodjonegoro mengatakan, konsep keuangan Islam adalah penyeimbangan antara manfaat dan risiko dengan cara yang adil dan transparan.

Dengan melakukan prinsip-prinsip pelaksanaan zakat dapat menghubungkan antara keuangan dan ekonomi yang riil.

Sebagai sistem, zakat membantu merangsang aktivitas ekonomi dan kewirausahaan untuk mengatasi kemiskinan dan ketidaksetaraan. Juga menjamin stabilitas keuangan dan sosial, serta mempromosikan pengembangan manusia yang komprehensif dan berkeadilan.

“Kami berupaya mengangkat Indonesia sebagai pusat ekonomi Islam dunia, mencakup zakat,” kata Bambang pada peluncuran Buku Fikih Zakat on SDGs di gedung BAPPENAS, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Bambang berharap semangat masyarakat Indonesia melakukan filantropi semakin tinggi. Semakin sadar berzakat, infak dan sedekah dalam kepedulian kehidupan.

Menurutnya, dampak implementasi zakat sangat relevan dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Apalagi dalam konteks pengentasan kemiskinan zakat di Indonesia memiliki potensi kontribusi yang sangat besar.

Hal ini dapat dipahami karena Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar dunia, yaitu 85 persen dari total penduduk di Indonesia sekitar 217 juta penduduk. Sehingga dana zakat dapat dikumpulkan secara optimal dari umat Islam.

“Dana zakat untuk mengurangi kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi ketimpangan,” jelasnya.

BAPPENAS telah memasukkan SDGs dalam perencanaan lima tahun. Menurutnya, SDGs merupakan kesepakatan global dan menjadi tujuan pembangunan Indonesia. Tentu mewujudkannya diperlukan peran semua pihak tidak hanya pemerintah, tapi juga dukungan nonpemerintah termasuk filantropi dan dunia usaha.

Dia menjelaskan, distribusi zakat di Indonesia disirkulasikan di beberapa sektor ekonomi, pendidikan, dakwah, kesehatan dan sosial. Di antara sektor tersebut, sektor sosial memiliki alokasi tertinggi di tingkat nasional, dengan hampir setengah dari total dana zakat yaitu 41,27 persen atau hampir Rp 1 triliun.

Sebesar 20,35 persen atau hampir Rp 500 miliar dialokasikan untuk sektor pendidikan. Adapun sektor ekonomi 15, 01 persen atau sekitar Rp 340 miliar, dan dakwah 14, 87 persen atau sekitar Rp 330 miliar.

Proporsi terkecil dari distribusi zakat yaitu 8,5 persen atau sekitar 200 miliar dialokasikan di bidang kesehatan.

Bambang mengimbau agar para pemangku kepentingan untuk pelaksanaan SDGs dari sudut pandang Islam yang berdasarkan pada Al Quran, hadis dan pendapat ulama.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.