Ini Akar Masalah Melonjaknya Harga Telur

Editor: Mahadeva WS

278

YOGYAKARTA – Melonjaknya harga komoditas telur ayam dipasaran beberapa waktu terakhir, dipengaruhi oleh penurunan produksi telur di tingkat peternak. Selain banyak peternak mengalami penurunan produksi telur, tidak sedikit peternak diketahui menutup usahanya karena bangkrut, merugi ternaknya sering terserang penyakit. 

Usut punya usut, kebijakan pemerintah melarang atau mencabut penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) sebagai campuran pakan ternak sejak Januari 2018 lalu, menjadi akar masalahnya. “Semua bermula sejak pemerintahan mencabut penggunaan AGP dalam pakan ternak. Itu sangat-sangat merugikan peternak,” ujar salah seorang peternak ayam petelur asal Bantul, Musriono, Jumat (13/07/2018).

Pemerintah melarang penggunaan AGP sebagai campuran pakan ternak, dengan alasan penggunaan zat tersebut akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Residu antibiotik di jaringan otot ayam dan telur yang menkonsumsi pakan bercampur AGP, dianggap membuat manusia mengalami resistensi atau kebal terhadap beberapa jenis anti biotik.

“Tapi persoalannya, pemerintah tidak konsisten. Hanya mencabut atau melarang saja, tapi tidak memberikan solusi, dengan menyediakan bahan pengganti AGP. Ini jelas sangat sangat merugikan peternak,” tandasnya.

Lelaki yang biasa disapa Gamus itu menyebut, selama ini AGP digunakan peternak sebagai anti biotik untuk menambah kekebalan ternak. Dengan AGP, hewan ternak tidak mudah terserang penyakit. “AGP sebagai salah satu komposisi pakan ternak itu sangat penting bagi unggas. Selain berfungsi sebagai pemicu pertumbuhan ternak pada ayam pedaging, juga berfungsi sebagai pemicu uritan atau indung telur pada ternak ayam petelur,” jelasnya.

Larangan penggunaan AGP sebagai campuran pakan ternak oleh pemerintah membuat ayam ternak kerap terserang penyakit, khususnya penyakit pencernaan. Tak hanya itu, produktivitas telur ayam ternak juga menurun cukup signifikan. “Penurunan produksi telur akibat tidak adanya campuran AGP pada pakan ternak mencapai 10-15 persen. Jika biasanya per-100 ekor ayam, bisa menghasilkan telur lima kilogram perhari, sekarang hanya menghasilkan 4,5 kilogram saja,” katanya.

Sementara untuk ayam boiler atau pedaging, dampak penghapusan AGP sebagai campuran pakan ternak juga berakibat melambatnya pertumbuhan ternak. Jika biasanya dalam kurun waktu 32-35 hari, berat ayam bisa mencapai 1,8-2 kilo perekor. Kini dalam kurun waktu yang sama berat ayam hanya mencapai 1,6 kilogram saja.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.