INKRA Garden Ramai Kunjungan Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

298

LAMPUNG — Pasca erupsi gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, banyak warga yang penasaran ingin melihat fenomena tersebut. Meskipun dari Pos Pantau di desa Hargo Pancuran kecamatan Rajabasa Lampung Selatan tidak terlihat jelas tidak mengurungkan niat wisatawan.

Andi Suardi, Kepala Pos Pantau GAK di desa Hargo Pancuran menyebutkan, dari wilayah Kalianda Lampung Selatan tidak terlihat dan dominan terlihat dari wilayah Banten. Pihaknya mengandalkan data resmi dari Volcanic Activity Report (Magma-VAR) milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan kode Krakatau KRA2 EHZ VG 00.

Sesuai data sejak Sabtu (14/7) Gunung Anak Krakatau meletus hingga sebanyak 398 kali dengan amplitudo 24-55 mm, durasi antara 20-27 detik. Sementara gempa tremor terjadi terus menerus antara 2-45 mm dengan amplitudo dominan 20 mm dan tinggi letusan maksimum 800 meter.

Sementara pada pemantauan hingga Sabtu (21/7) PVMBG, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pos pantau Hargo Pancuran mencatat 107 letusan dengan amplitudo 20-52 mm dan durasi 17 hingga 86 detik.

“Sesuai instruksi dari Kementerian ESDM kondisi Gunung Anak Krakatau masih dinyatakan dalam level waspada dan tetap diberlakukan larangan mendekat hingga radius satu kilometer dari wilayah tersebut,” terang Andi Suardi, kepala pos pantau Gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran, Minggu (22/7/2018)

Andi Suardi menyebut alat pendeteksi di Gunung Anak Krakatau berupa seismogram tetap terpasang sehingga bisa dibaca di pos pantau Pasauran Banten.

Khusus untuk pemantauan visual ia menyebut mendapat laporan dari closed circuit television (CCTV) yang memantau kondisi aktivitas gunung Anak Krakatau tersebut. Meski beberapa kali erupsi ia memastikan justru dengan melepaskan energi tersebut GAK tetap dalam kondisi normal. Sebab terakhir mengalami erupsi pada September 2012.

Kondisi erupsi juga ikut memberi rasa penasaran sejumlah warga terutama yang melihat melalui media sosial. Emanu, salah satu warga yang penasaran berniat melihat dari pos pantau di desa Hargo Pancuran. Ia melihat dari video yang beredar di media sosial yang disebutnya terlihat indah saat malam hari.

“Kalau melihat malam hari bisa terlihat seperti lampu pijar tapi juga tidak terjadi setiap hari, pas ke sini tidak bisa melihat karena berkabut,” terang Emanu.

Lokasi pos pantau yang berdekatan dengan Intai Krakatau (INKRA) Garden bahkan mulai dikunjungi warga yang penasaran jumlahnya bisa mencapai puluhan orang bahkan lebih saat hari libur.

Loka Kusumawati, pengelola INKRA Garden [Foto: Henk Widi]
Loka Kusumawati (32) selaku pengelola INKRA Garden menyebut taman bunga tersebut terletak persis di bawah pos pantau yang sedang erupsi dalam dua bulan terakhir meski terjadi dalam waktu tertentu. Meski sebagian pengunjung kecewa tidak bisa melihat fenomena langka GAK erupsi namun saat mengunjungi INKRA Garden bisa menikmati suasana taman tersebut.

“Sebagai lokasi wisata dengan konsep taman bunga, buah dan tanaman obat lokasinya menghadap ke Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau,” papar Loka Kusumawati.

Loka Kusumawati menyebut sebagian warga yang urung melihat erupsi Gunung Anak Krakatau justru bermain di INKRA Garden. Taman yang dikelola bersama sang ayah bernama Bambang (63) dan sang adik Atmatri Hidayati (27) bahkan dikonsep menjadi lokasi memantau gunung Krakatau dan gugusan pulau di sekitarnya di antaranya pulau Panjang, Sertung dan Rakata Besar.

Meski beberapa pengunjung kecewa, namun terbayar saat menikmati keindahan taman bunga INKRA Garden. Taman tersebut menyajikan sebuah rumah panggung kayu menghadap Selat Sunda menyerupai villa.

Jalan setapak berbentuk labirin dengan berbagai jenis bunga dan tanaman obat. Rumah bambu menyerupai rumah tradisional suku Indian dan rumah pohon juga bisa dikunjungi di taman tersebut. Meski demikian dalam beberapa pekan terakhir kabut membuat pandangan mata yang ingin melihat GAK terganggu.

Baca Juga
Lihat juga...