Irigasi, Kendala Pengembangan Tanaman Jagung di Pamekasan

221
Jagung, ilustrasi -Dok: CDN
PAMEKASAN – Pengembangan tanaman jagung hibrida di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terkendala irigasi, sehingga jenis tanaman ini hanya ditanam petani di daerah tertentu saja.
“Ini kendala utama yang kami hadapi, saat pemerintah berupaya mengembangkan tanaman jagung yang bernilai ekonomis bagi petani di Pamekasan ini,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Pemkab Pamekasan, Isye Windarti, di Pamekasan, Senin (23/7/2018).
Isye menjelaskan, tanaman jagung hibrida itu, sebenarnya merupakan tanaman jagung yang menguntungkan. Selain tidak membutuhkan modal yang banyak, hasilnya juga lebih bagus dibanding jenis tanaman jagung lokal.
“Hanya saja, yang menjadi kendala sebagian petani di Pamekasan dalam pengembangan jagung hibrida tersebut, adalah ketersediaan air saat kemarau seperti sekarang ini,” katanya.
Menurut Isye, petani di Pamekasan yang mengembangkan tanaman jagung hibrida di Pamekasan,sebagian petani di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan yang lahan pertaniannya dekat dengan aliran air sungai.
“Kalau di daerah lain belum ada yang mengembangkan. Umumnya petani yang berada di dekat aliran sungai saja. Jadi, kendala utamanya adalah irigasi,” katanya.
Menurut petani jagung hibrida di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Abdurrahman, menanam jagung hibrida memang jauh lebih menguntungkan dibanding menanam jagung lokal.
Sebab, hanya dengan modal Rp600 ribu, mampu menghasilkan hingga Rp2,5 juta. “Perawatannya juga lebih mudah, dan hanya tiga kali siram selama satu musim,” katanya.
Di samping itu, sambung dia, jagung hibrida tidak membutuhkan pengolahan tanam. “Kalau jagung lokal tanah harus diolah terlebih dahulu, tapi jagung hibrida tidak,” katanya, menuturkan.
Menurut Abdurrahman, para petani di desanya, sebenarnya sangat tertarik untuk menanam jagung hibrida itu. Hanya saja, yang menjadi kendala adalah ketersediaan air.
“Kalau air mencukupi, kemungkinan petani di sini akan banyak yang beralih ke tanaman jagung hibrida ini. Tapi, menjadi kendala utama adalah ketersediaan air,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...