Jadi Pionir, John De Rantau Garap Film yang Berbeda

Editor: Makmun Hidayat

354

JAKARTA — John De Rantau termasuk salah satu sutradara yang berani dan idealis. Dia selalu membuat film yang berbeda dengan film yang digarap kebanyakan orang, dimana akhir-akhir ini banyak film yang digarap dengan mengandalkan komika.

Dalam film produksi Himaya Pictures berjudul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, John malah sebaliknya membuat film yang situasional yang dimainkan aktor serius dalam film komedi.

“Ini film yang menjadi obsesi saya sekitar hampir 15 tahun,” kata sutradara John De Rantau saat jumpa pers acara selametan film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi di Resto Ocha & Bella, Hotel Morrisey, Jl, Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (13/7/2018).

Lelaki kelahiran Padang, 2 Januari 1970 itu mengaku dulu dirinya membuat film dari karya Seno Gumira Ajidarma berjudul Taxi Blues.

“Pada waktu itu saya berobsesi ingin membuat film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi,” beber lulusan SMA 2 Padang (1988) dan Institut Kesenian Jakarta (1998) ini.

Pada saat membuat film Taxi Blues, kata John, pada saat itu juga ada film yang mirip dengan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi yang tadinya ia mengira Seno Gumira Ajidarma terinspirasi dengan film, tapi ternyata justru film itu yang terinspirasi cerpen Seno.

“Judul filmnya Malena yang begitu sangat terkenal dan fenomenal, dimana artisnya menjadi salah ikon aktris seksi Eropa yaitu Monica Bellucci,” ungkapnya.

Malena dibuat tahun 2000 sepuluh tahun setelah cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi dibuat Seno pada tahun 1991.

“Kalau ditanya kenapa dulu saya membuat film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi itu panjang prosesnya, tapi kalau sekarang ditanya, saya hanya greget saja,” ujarnya.

Ketika terjun membuat sebuah film yang dibuat berdasarkan dari fiksi murni, John akan membuat film yang tidak biasa.

“Karena saya melihat sekarang banyak film komedi yang modelnya sama gitu-gitu saja yang tak jauh dari format dan tema yang sama, lebih slapstick seperti pola film Warkop karena laku keras sampai ditonton 7 juta penonton,” tuturnya.

Film komedi menjadi salah satu basis yang kuat ditonton orang banyak. Dalam film ini, John membuat film yang menjadi antitesis dari sebuah pola film yang selama ini diproduksi.

“Setiap saya membuat film selalu sesuatu yang baru yang lebih pada antitesa, kalau akhir-akhir ini orang membuat film komedi rata-rata mencari komika, tapi saya kebalikannya saya mencari aktor-aktor yang serius untuk memerankan film bergenre komedi. Karena menurut saya kalau saya membuat film dengan komika maka film ini tidak sampai message-nya karena jatuh pada sesuatu yang melucu sehingga kalau sudah melucu maka tidak akan lucu,” paparnya.

Sedangkan konsep John punya konsep lebih situasional dimana situasinya yang dimainkan aktor serius sebagaimana para pendahulu, seperti di antaranya Nya Abbas Akub dan Chaerul Umam.

“Mengapa saya membuat film ini, salah satunya, karena komedi adalah primadona dalam produksi film,” tegasnya.

John menyebut banyak sutradara minta pada dirinya untuk membuat film, minimnya satu tahun menggarap satu film. John berjanji akan membuat film yang selalu modelnya adalah film-film pionir, bukan film-film yang latah mengikuti tren pasar, tapi jadi trendsetter atau membuat tren.

“Mudah-mudahan saya tetap dapat menciptakan tren, punya sesuatu yang lain daripada yang lainnya, bukan latah menggunakan komika tapi menggunakan aktor serius untuk berperan dalam film komedi ini,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...