Jagung Titi Makin Digemari Pembeli

Editor: Satmoko Budi Santoso

449

LARANTUKA – Jagung Titi yang merupakan salah satu makanan khas asli kabupaten Flores Timur dulu hanya dikonsumsi masyarakat Flores Timur dan Lembata. Kini mulai terkenal dan disukai, bukan saja masyarakat NTT maupun para wisatawan yang berkunjung ke Flores Timur serta Lembata.

“Dulu Jagung Titi biasanya dibeli oleh masyarakat Flores Timur dalam jumlah yang banyak bila ada kegiatan pesta atau hajatan saja. Tapi sekarang sudah banyak masyarakat dari luar daerah yang membeli sebagai oleh-oleh atau dijual kembali,” sebut Syarifah, salah seorang penjual Jagung Titi, Sabtu (7/7/2018).

Ditemui Cendana News di kompleks pertokoan kota Larantuka ibukota kabupaten Flores Timur, Syarifah, mengatakan, kalau ada kapal Pelni yang tiba di pelabuhan Larantuka, biasanya banyak orang yang membeli untuk dijadikan oleh-oleh atau pun untuk dikonsumsi selama dalam perjalanan.

Maria Magdalena, warga asal Flores Timur yang sering menjual Jagung Titi di dalam kemasan plastik atau mika. Foto : Ebed de rosary

“Paling ramai dibeli saat menjelang hari raya Paskah dimana di kota Larantuka banyak dipadati oleh peziarah dari luar daerah. Tapi orang dari luar daerah biasanya lebih suka makan Jagung Titi yang sudah digoreng menggunakan minyak atau mentega,” sebutnya.

Untuk Jagung Titi berwana kuning maupun jagung putih atau jagung pulut, sebut Syarifah, satu kantong plastik berukuran kecil dijual seharga 10 ribu rupiah. Ukuran jagung yang ditumbuk pipih pun lebih kecil dibandingkan dengan jagung berbiji besar dan lebih lebar yang juga dijual dengan harga yang sama.

“Untuk Jagung Titi yang digoreng dan dibungkus di dalam wadah Mika atau plastik berukuran besar, biasanya dijual dengan harga 50 ribu rupiah. Tapi kalau untuk digoreng kembali, jagung yang dipilih harus jagung yang kering bukan setengah kering agar saat digoreng bisa mengembang,” jelasnya.

Saat seminggu menjelang Paskah dan juga setelah Paskah, tambah Syarifah, penjualan Jagung Titi meningkat drastis. Biasanya hari biasa hanya laku terjual 100 sampai 200 ribu rupiah saja, menjelang Paskah dan seminggu jelang Paskah bisa meningkat menjadi 500 ribu sampai satu juta rupiah sehari.

Maria Magdalena warga Flotim yang biasa menjual Jagung Titi kepada teman-teman kantornya yang memesan mengatakan, biasanya dirinya membeli Jagung Titi di pulau Adonara dimana satu kantong plastik berukuran besar dijual seharga 150 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah.

“Setelah dijemur di panas matahari, jagung tersebut pun digoreng menggunakan mentega atau minyak goreng hingga mengembang lalu ditiriskan minyaknya. Setelah minyak gorengnya tidak menempel lagi baru Jagung Titi dimasukkan ke dalam mika plastik dan dijual seharga 40 ribu rupiah,” jelasnya.

Biasanya satu kantong plastik jagung titi, ungkap Maria, bisa menghasilkan sekitar 10 mika Jagung Titi sehingga untungnya bisa berlipat ganda. Saat Paskah banyak peziarah dari luar daerah yang membeli untuk dijadikan oleh-oleh atau dimakan saat bersantai di penginapan.

“Teman-teman dari luar daerah juga sering memesan untuk dikirim, namun biasanya jumlahnya terbatas, 5 sampai 10 mika saja. Tapi ada juga yang membeli satu atau dua mika saja untuk dijadikan cemilan di rumah saat bersantai,” tuturnya.

Tidak semua orang, sebut Maria, bisa membuat Jagung Titi sebab rumit membuatnya. Jagung digoreng di tembikar dan saat setengah matang, jagung tersebut diambil menggunakan tangan lalu dititih atau ditumbuk di batu ceper.

“Batu untuk menumbuk yang dipegang di tangan juga berbentuk ceper, sementara batu alasnya pun juga berbentuk ceper. Biasanya batu tersebut diambil di kali. Untuk menumbuk atau membuat gepeng jagung tersebut dilakukan secara cepat agar jagung di tembikar tidak hangus,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...