Joko Anwar: Film Indonesia Harus Didukung Semua Komponen

Editor: Makmun Hidayat

209
Joko Anwar - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Joko Anwar dikenal sebagai seorang sutradara, penulis skenario, dan produser yang patut diperhitungkan dalam dunia perfilman Indonesia. Selain itu, ia juga sangat vokal di medsos. Pemikirannya kritis dan jernih.

“Minat masyarakat Indonesia untuk nonton film di bioskop sekarang berada di titik paling atas dalam sepanjang sejarah film Indonesia,” kata Joko Anwar dalam acara konferensi pers Digibank-MTix di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara, 3 Januari 1976, itu membeberkan pada tahun lalu, jumlah penonton film Indonesia sekitar 42 juta penonton, naik dari 35 juta di tahun sebelumnya. “Tahun ini diperkirakan jumlah penonton film Indonesia akan naik sampai 45 juta penonton,” bebernya.

Menurut Joko, minat orang untuk menonton film Indonesia sekarang memang sudah sangat luar biasa. “Film Indonesia semakin lebih banyak lagi diproduksi, sampai semua orang sekarang rebutan kru film,” ungkapnya.

Joko menyampaikan, bahwa pengalaman menonton film di bioskop layar lebar tentu sangat berbeda dengan nonton di handphone yang layarnya sangat kecil.

“Kalau kita menonton film di bioskop pastinya kita merasa berada di dalam adegan film, apalagi sekarang dengan layar yang lebih baik dan suara yang lebih canggih lagi, bahkan kalau nonton film di bioskop pengalaman sinematik lebih terasa sekali,” paparnya.

Kolaborasi Digibank dengan M-Tix, kata Joko, menjadikan pengalaman nonton film itu lebih besar, bahkan untuk pengalaman sinematik lebih gampang lagi dengan mencari tempat duduk sesuai dengan yang diinginkan.

“Seharusnya kolaborasi Digibank dengan M-Tix mendapat sambutan yang baik dari masyarakat karena semakin memudahkan kita mendapat tiket bioskop,” tegasnya.

Joko mengimbau, film Indonesia harus didukung oleh semua komponen yang ada dalam ekosistim, bukan hanya dirinya sebagai sineas membuat film yang sebaik-baiknya, dan pihak bioskop sudah memberikan tempat seluas-luasnya.

“Sekarang perlakuan sudah sama, siapa yang benar-benar punya potensi diberikan kesempatan, tapi tetap juga ada komponen lain dalam ekosistem yaitu kemudahan untuk mendapatkan tiket yang menjadi salah satu hal yang tentu sangat mendukung industri film,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...