Kalung Peluru

CERPEN SENGAT IBRAHIM

482

SELAIN Tuhan dan pakaian, kalung peluru termasuk barang langka aku lepaskan dari badan. Seingatku, sejak pertama kalung peluru melingkar di leher hanya tiga kali lepas. Itu pun bukan disengaja sebab benang pengikatnya putus termakan usia. Selama itu pula tidak ada yang tahu kalau kalung peluru adalah harta paling berharga yang kupunya.

“Kalung peluru sangat dekat denganku melebihi kedekatanku dengan Ibu kandungku. Sejak kedekatan itu kalung peluru kujadikan sebagai ibu baru.”

Ibu asliku dulu, sebelum aku tidur punya kebiasaan bercerita tentang Bapak yang sudah meninggal. Kalau tak keliru semasih aku berumur tiga bulan dalam kandungan. Pantas, jika aku tidak pernah merindukan Bapak meskipun dalam cerita yang aku karang sekalipun. Sesering mungkin kalau bisa Ibu selalu bercerita padaku.

Sebelum tidur siang, tidur sore, tidur malam bahkan saat sebelum tidur menjelang pagi kalau sekolah libur, Ibu tidak pernah lupa untuk selalu bercerita. Bercerita mengenai segala hal yang hanya berkaitan dengan Bapak.

Mulai saat kenal pertama hingga jatuh cinta. Lalu bla bla bla…
Kalau mendengar cerita dari Ibu sebelum tidur malam, tidurku pasti tak bakal nyenyak. Andai dalam tubuhku tidak mengalir darah janda itu, pasti sedari dulu sudah aku penggal lehernya.

Bagaimana tidak! Seolah Tuhan sengaja menukar jiwaku dan Ibu. Kalau Aku tidak mendengar ceritanya, dia menangis sendu seperti tangis anak kecil saat meminta sesuatu dan kedua orang tuanya tidak mampu membelikan.

Aku yang baru masuk sekolah SD waktu itu, berkelakuan semacam orang dewasa. Hampir setiap waktu aku menasehati Ibu karna sering marah-marah tanpa alasan. Atau melakukan sesuatu yang tidak elok orang dewasa pandang. “Jika mau tahu lebih silahkan imajenasikan sendiri sesuai kemampuan anda sebagai pembaca menginkannya seperti apa, tentang kelakuan Ibu yang malas aku deskripsikan itu!”

Aku adalah anak pertama dan satu-satunya yang Ibu lahirkan. Walau selama tiga tahun Ibu hidup menjanda di Desa Nung Gundil Sari, kecantikannya masih saja dipuja-puji. Sejak masa iddah Ibu berakhir. Para lelaki bergiliran melamar, seperti melamar sebuah pekerjaan. Dan semuanya mendapatkan jawaban yang sama.

“Setelah Suamiku meninggal, segala urusanku dengan dunia selesai, kecuali dengan anakku.” Selalu kalimat itu yang kudengar sebagai jawaban bagi siapun yang berniat mau melamar Ibu.

***
MESKI sekolah libur di hari minggu. Tidak ada jam olahraga bagiku. Aku memilih tidur pagi. Sejak Ibu pertama kali bercerita sebelum tidur. Setiap malam sebenarnya aku tidak pernah tertidur hanya pura-pura mendengkur karena itu jalan satu-satunya yang bisa menghentikan cerita Ibu. Tapi meskipun Ibu pergi, bila mata terpejam seolah aku terlempar ke dunia kelam.

Dan aku langsung dikerubungi petaka-petaka besar. Dalam dunia itu penghuninya kejam, bertaring, bertanduk dan seluruh kulitnya berbulu. Badannya melebihi dunia yang aku tempati sewaktu menulis cerita ini. Makhluk-makhluk itu sepertinya sedang menjalani sebuah kutukan. Sifat dewasaku tidak mempan menolak takut. Satu-satunya pilihan hanya membuka mata lebar-lebar hingga menyingsing fajar.

Aku merayu Ibu. Pura-pura mengatakan bagaimana rasanya punya bapak baru. Setelah aku mendengar kabar, bahwa Pak Ruslan orang terkaya di Desa Nung Gundil Sari punya hajad meminang Ibu minggu depan. Istrinya sudah lama meninggal. Tapi sayang, bagi Ibu lamaran Pak Ruslan sama dengan lainnya. Cinta macam apa yang mempengaruhi Ibu? Ia sampai setia seumur hidup mencintai Bapak.

Aku semakin bosan berlama-lama dekat dengan Ibu. Bila malam aku lebih senang keluyuran, pura-pura punya jadwal ngeronda. Padahal tidak, mana mungkin orang seusia aku yang masih sekolah SD punya jadwal ngeronda. Tapi Ibu langsung percaya begitu saja tanpa curiga.
Jam 02:00 baru aku pulang.

Baca Juga

Tarian Ranting

Angka itu sudah aku hafal, biasanya bila jam segitu Ibu sudah tidur. Seperti biasa kalau aku keluar rumah Ibu sengaja tidak mengunci pintu. Malam itu pintu rumah terbuka seukuran separuh badan. Di dalam kamar terdengar suara; Bluk….semacam benda keras terbanting. Aku percepat langkah.

Dalam remang-remang, jelas aku melihat Ibu sedang melawan manusia tanpa wajah, barangkali pencuri. Aku baru tahu kalau Ibu sangat cakap menguasai ilmu silat, tidak kalah hebat dengan bintang filem Jetly yang sering aku lihat melalui televisi. Dari keringat yang terlihat di sekujur wajah Ibu, aku bisa menebak bahawa perkelahian mereka sudah lama dimulai.

Sebelum lariku sampai untuk membantu Ibu tiba-tiba suara tembakan terdengar, dan peluru itu meluncur tepat ke dada Ibu. Manusia tanpa wajah itu menerjang kaca jendela dan menghilang tanpa meninggalkan sedikitpun tanda. Siapa gerangan sosok yang bersembunyi di balik kain hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali matanya?
***
PELURU itu menyakiti Ibu dua kali. Sesuai dengan tradisi Desa Nung Gundil Sari, segala benda tajam bila tertanam dalam tubuh mayat, itu perkara wajib dikeluarkan. Jika tidak arwah dari mayat itu diyakini menjadi Jin Gentang. Dan bakal diusir kembali ke dunia, diasingkan dari tempat semestinya.

Betapa tabah Ibu yang terbaaring sebagai mayat, dia menerima sakit lebih mencekam dari peluru saat pertama meluncur ke dadanya. Parang melebarkan lubang peluru di tubuh Ibu. Mayat Ibu seolah tidak menyimpan darah satu-tetespun terlihat dari kulitnya yang putih langsat serupa daging kelapa yang diperas jadi ampas. Selama satu jam lebih Ki Saleh menggorok dada Ibu. Setelah peluru itu berhasil dikeluarkan kemudian Ki Saleh menyerahkannya padaku.
Sejak kematian Ibu.

Sejak cerita Ibu ada yang sengaja mengakiri, bukan hanya tidur malam yang aku takutkan. Dalam tidur-tidur yang lain demikian. Bahkan dalam keadaan di luar tidur, dunia yang mengerikan itu mencul di hadapanku. Sesuatu yang mengerikan itu semakin dekat dengan mata, telinga begitupun fikiran. Aku tidak bisa keluar, tidak bisa mengelak.

Peluru itu yang aku namai kalung peluru. Kalung peluru yang aku anggap sebagai ibu kedua dalam perjalan hidup yang juga kedua. Aku menjadikan peluru sebagai kalung, bukan diniatkan seperti yang dianjurkan oleh petuah-petuah sesepuh Desa Nung Gundil Sari; kalau peluru dijadikan sebagai azimat diyakini akan memberikan kekebalan tubuh, bila sanak keluarga dari sang korban yang memakai.

Aku dan zaman sudah selesai menghapus kebenaran mitos-mitos demikian. Juga bukan karena aku sudah menjadi pengarang cerita. Pengarang cerita, pikiran yang dikedepankan bukan penampilan. Jelas kedua hal tersebut tidak punya sangkut-paut dengan pertanyaan; kenapa di leherku ada kalung peluru?
***
DI ulang tahunku yang ke 30 sekarang. Kepada Ibu, tiba-tiba hatiku menyimpan perasaan-perasaan liar menuntut bertemu. Malam menjadi remang akibat hujan deras dibarengi angin liung, sudah menjadi kebiasaan di Desa Nung Gundil Sari, orang yang bertugas di PLN langsung memadamkan lampu. Lebih cepat dari kilat, lebih cepat dari kedip mata. Dalam suasana demikian, ingatan dalam pikiran melemparku pada masa lalu.

Pada malam di manana Ibu harus takluk pada peluru. Malam itu dua manusia menerima sakit; aku & Ibu. Aku jadikan peluru itu sebagai kalung supaya tahu: Siapa di antara kami yang benar-benar menerima luka paling sakit, paling panjang, paling dalam, aku atau Ibu? ***

2018

Sengat Ibrahim, penulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisinya yang telah terbit: Bertuhan pada Bahasa, (Penerbit Basabasi 2018). Buku puisi terbarunya: Asmaragama, (Penerbit LiterISI, 2018).

Sekarang sedang menyiapkan buku berikutnya bertajuk: Agamaku Adalah Rindu (yang diam-diam menciptamu dalam diriku). Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Harian Sumbar, Majalah Simalaba, dan Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com, PoCer.co, Basabasi.Co.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media manapun baik cetak atau online. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...