banner lebaran

Kasus Stunting Banyak Terjadi di NTB

Editor: Koko Triarko

202
Staf Ahli Pemprov NTB Bidang Sosial Kemasyarakatan, Nurhandini Eka Dewi/Foto: Turmuzi
MATARAM – Masalah stunting, banyak terjadi di NTB akibat kekurangan gizi kronis yang dialami anak sejak masih balita, bahkan ada yang terjadi sejak masih dalam usia kandungan.
“Karena itu, upaya pencegahan sejak dini, yaitu sejak masih dalam usia kandungan penting dilakukan, guna mencegah dan menekan angka stunting di NTB”, kata Staf Ahli  Pemprov NTB Bidang Sosial Kemasyarakatan, Nurhandini Eka Dewi, di Mataram, Jumat (6/7/2018).
Menurutnya, bicara mengatasi stunting tidak saja pada anak, tapi juga pada ibu saat hamil semester pertama harus betul diawasi, gizinya harus baik, bahkan sampai hamil umur 2-3 bulan juga perlu diperhatikan asupan gizinya.
Pencegahan dini bisa dilakukan dengan memberikan asupan gizi dan makanan tambahan, supaya pertumbuhan dan berat badan anak saat lahir bisa normal dan sehat.
“Meski demikian, bayi yang lahir dengan berat badan dan tubuh kurus tidak selamanya berarti mengalami gejala stunting, bayi baru terkena stunting kalau zona – 2 SD atau zona merah”, katanya.
Setiap bayi mempunyai genetik untuk tinggi, tapi ada gangguan gizi kronis membuat pertumbuhan terganggu dan mengalami stunting. “Orang stunting tidak bisa mencapai poten genetik untuk tinggi”, katanya.
Stunting tidak saja di NTB, tapi juga di seluruh Indonesia. Ada 100 desa di Indonesia yang menjadi sasaran pencanangan pengentasan masalah stunting. Khusus di NTB, jumlah desa yang menjadi sasaran sebanyak 60 desa.
Eka menambahkan, sekarang pola penanganan stunting juga lebih pada penanganan  berbasis desa, kalau dulu penanganan dilakukan orang kesehatan, sehingga tidak maksimal.
“Dengan program ini, diharapkan masyarakat akan lebih melek stunting dengan memberikan tambahan makanan, sehingga upaya pencegahan dan penanganan bisa lebih maksimal dilakukan”, katanya.
Pola deteksi dan pencegahan dini stunting sekarang ini juga lebih praktis. Ada alat untuk mengetahui bayi mengalami gejala stunting atau tidak.
“Dibuatkan secara praktis oleh WHO kerja sama dengan Kemendes, sehingga orang awam bisa melihat, dibuatkan merah, kuning, hijau dan hitam, sehingga kalau anak ditidurkan di atas grafik, kalau kelihatan merah, kader sudah tahu anak ini stunting”, pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.