Kecepatan Angin Tenggara di Flores Capai 35 Knot

287

MAUMERE — Kecepatan angin maksimal 35 knot atau 63 kilometer per jam dan rata-rata tekanan angin 20 knot atau 36 kilometer per jam menyebabkan terjadinya gelombang tinggi di wilayah utara maupun selatan pulau Flores.

Kepala Stasiun Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maumere, Adi Laksmena menyebutkan, angin kencang akan menimbulkan gelombang yang tinggi sehingga nelayan yang menggunakan perahu di bawah 5 Gross Ton (GT) akan terpengaruh.

“Tinggi gelombang di laut Sawu atau pantai selatan antara 1 sampai 2 meter dan di laut utara atau laut Flores tiunggi gelombangnya 0,5 sampai 1 meter,” sebutnya di Maumere, Rabu (4/7/2018).

Adi Laksmena, kepala Stasiun Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maumere. Foto : Ebed de Rosary

Angin kencang, jelas Adi, terjadi akibat dari perbedaan tekanan udara antara benua Asia dan Australia. Matahari saat ini posisinya berada di barat sehingga tekanan rendahnya ada di benua Asia dan membuat angin bertiup dari Australia ke Asia, makanya dinamakan angin tenggara.

“Anginnya kencang karena penyinaran matahari mengakibatkan tekanan udara menjadi rendah dan semakin panas penyinaran, tekanannya semakin rendah dan membuat angin bertiup semakin kencang,” bebernya.

Siklus matahari jelas Adi, akan bergerak menuju katulistiwa dan pada saat ini berada di lintang utara katulistiwa. Pada 23 September akan berada di atas garis katulistiwa dan memasuki musim pancaroba sehingga anginnya akan berkurang, sebab matahari mulai bergeser ke selatan.

“Angin tenggara ini berlangsung lama yang dimulai dari Maret hingga Agustus atau September saat memasuki musim pancaroba. Kencangnya angin tergantung kepada tekanan udaranya,” ungkapnya.

Mengingat sifat udara yang bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan yang lebih rendah, selisih tekanan udara 36 hPa ini, sebut Adi, memicu pergerakan massa udara yang cukup kuat dari Asia menuju wilayah Indonesia.

“Soal kekeringan, hingga saat ini untuk wilayah pulau Flores belum termasuk ekstrim dan masih ada udara basah sehingga masih sering terjadi hujan di beberapa wilayah. Di kabupaten Sikka sendiri masih terjadi hujan di wilayah barat dan timur,” ungkapnya.

Salah seroang nelayan di kelurahan Kota Uneng Maumere, Jalo kepada Cendana News mengatakan, angin tenggara memang selama ini sering terjadi namun tidak merupakan ancaman bagi para nelayan yang memiliki kapal berukuran dia atas 10 Grass Ton (GT) yang biasanya memancing ikan tongkol, cakalang dan tuna.

“Kalau nelayan dengan kapal ukuran kecil dari satu sampai lima gross ton tentunya akan terpengaruh angin kencang sebab rata-rata tinggi gelombang di pesisir utara pulau Flores dari setengah hingga satu meter,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...