Kemarau, Kebutuhan Es Balok untuk Melaut Meningkat

Editor: Koko Triarko

225
LAMPUNG — Sejumlah nelayan tangkap ikan di perairan Kalianda, Rajabasa, Bakauheni Lampung Selatan, mulai merasakan dampak musim panas selama dua bulan terakhir ini.
Budiman (40), nelayan tangkap di wilayah Kalianda yang mempergunakan perahu jenis bagan congkel, mengatakan, bagan congkel pencari cumi-cumi dan ikan teri tergantung dengan es balok untuk menjaga kesegaran ikan tangkapan.
Sehingga saat musim kemarau, peningkatan suhu berimbas pada hasil tangkapan ikan cepat membusuk tanpa es. Upaya menjaga kesegaran ikan memanfaatkan mesin pendingin (cold storage), belum dilakukan karena mahalnya harga alat tersebut.
“Saat musim hujan, tingkat keawetan ikan terjaga karena suhu yang cukup mendukung. Tetapi saat musim panas, ikan bisa cepat membusuk dan es balok yang kami bawa cepat mencair, sehingga harus membeli es lebih banyak dibandingkan hari biasa,” terang Budiman, di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Selasa (17/7/2018).
Selama melakukan penangkapan ikan di perairan Kalianda, ia mengaku membutuhkan sekitar 15 balok es. Kini dalam kondisi musim kemarau dengan tingkat penguapan air laut tinggi, dirinya harus menyediakan 20 hingga 25 balok es sekali melaut, dari pagi hingga pagi sore hari.
Ia mengatakan, es balok diperoleh dari pabrik es yang ada di Kalianda. Selain untuk menjaga kesegaran ikan selama di laut, es balok juga digunakan oleh pedagang ikan keliling (pelele) dan pedagang ikan di lapak pasar higienis. Penggunaan es balok untuk menjaga kesegaran ikan, agar harga tidak turun sudah umum dilakukan, dan menjaga sejumlah pedagang memakai zat pengawet berbahaya.
Hasanah (40), pedagang ikan keliling, menyebut dalam satu hari dirinya membutuhkan dua batang es balok. Harga es balok di pengecer seharga Rp35.000, dan dihaluskan dengan alat khusus sebelum dipakai mengawetkan ikan.
Es balok yang sudah diserut dengan mesin penghancur es selanjutnya dimasukkan dalam box wadah ikan. Penggunaan es balok saat musim kemarau diakui Hasanah sangat diperlukan, agar ikan tetap terjaga kesegarannya.
“Musim kemarau membuat es balok cepat mencair, saya harus membawa cadangan es balok agar ikan awet,” cetus Hasanah.
Selain bagi pelele dan nelayan tangkap, kebutuhan es balok yang meningkat diakui Sobri (40), pemilik usaha pembuatan teri rebus. Pengusaha teri rebus tradisional dengan bahan baku sehari mencapai dua ton lebih mengaku membutuhkan es balok lebih dari 30 balok.
Kebutuhan tersebut untuk menjaga kesegaran ikan teri yang sebagian akan dijual ke pengusaha lain. Selain bagi pembuat teri di wilayah Bakauheni, ia juga kerap mengirim ikan teri ke Labuhan Maringgai Lampung Timur dan Kalianda.
“Ikan teri yang akan saya jual harus dalam kondisi segar, sebab jika sudah busuk harganya anjlok,” tegas Sobri.
Susunan es balok dimasukkan dalam keranjang teri, sehingga sampai di lokasi teri dalam kondisi segar. Jenis teri nasi yang dijual dalam kondisi basah disebutnya bahkan harus dimasukkan dalam box khusus, agar tetap segar sampai di pasar.
Tingkat suhu yang tinggi mengakibatkan es balok cepat mencair membuat ia menambah es balok, dari semula 10 balok es per mobil menjadi 15 balok per mobil.
Pemilik usaha jual beli ikan antardaerah, Ida (30), memastikan penggunaan es balok bisa lebih banyak saat musim kemarau. Pemilik usaha jual beli ikan konsumsi jenis tongkol,simba,layur dari nelayan untuk dijual ke pasar tersebut mengaku membutuhkan 20 balok es dan kini menambah menjadi 5 balok es untuk cadangan. Pengiriman ikan dengan bak terbuka memanfaatkan box khusus diakuinya membuat kesegaran ikan harus terjaga dengan balok es.
“Bagi sejumlah pemilik modal besar, kesegaran ikan laut bisa dijaga menggunakan mobil berpendingin,” terang Ida.
Box untuk mengangkut ikan dari dermaga Muara Piluk ke sejumlah pasar di pulau Jawa, kata Ida, diberi lapisan plastik. Perjalanan selama hampir empat jam menyeberang laut menggunakan kapal, membuat kesegaran ikan dipertahankan.
Tingkat penggunaan es selama musim kemarau menjadi lebih tinggi dibandingkan musim hujan, terutama saat kendaraan ekspedisi berangkat siang hari.
Pedagang es balok di Muara Piluk Bakauheni, Rudi (38), membenarkan peningkatan penjualan es balok. Ia menyebut, bisa menjual es balok per hari sebanyak 80 buah dan kini tingginya permintaan dari nelayan dan pelele ia bisa menjual hingga 120 balok es.
Imbasnya harga yang semula dijual hanya Rp32.000 naik menjadi Rp35.000. Kebutuhan es disebutnya sangat penting, karena sejumlah nelayan di pesisir jarang yang memiliki cold storage di atas kapal selama melaut.
Baca Juga
Lihat juga...