Kemarau, Petambak Udang dan Bandeng Rasakan Dampak Signifikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

163

LAMPUNG –  Pemilik usaha pertambakan udang vaname dan ikan bandeng di wilayah pesisir timur Lampung Selatan mulai merasakan dampak musim kemarau.

Purwanto (45) salah satu petambak udang vaname di Dusun Sumber Muli, Desa Totoharjo menyebut, menggunakan mesin sedot untuk menyalurkan air dari laut. Langkah tersebut diakuinya dipergunakan untuk memasok kebutuhan air untuk udang vaname yang dibudidayakan.

Sebelumnya, air disedot dari aliran sungai terhubung dengan laut, namun akibat kekeringan proses pasang surut terhambat.

Purwanto, salah satu petambak udang vaname di Dusun Sumbermuli Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Purwanto mengaku, lebih beruntung dibandingkan sejumlah petambak lain yang jauh dari laut. Kendala paling utama bagi petambak yang dekat laut, diakuinya, pascagelombang tinggi berimbas pada saluran pipa yang terhubung ke laut.

Akibat gelombang pasang, ia mengaku, pipa sempat tergeser dan pecah sehingga material pasir masuk ke saluran pipa. Kerusakan tersebut segera diperbaiki untuk menyalurkan air ke sebanyak dua petak dari total enam petak tambak budidaya udang vaname miliknya.

“Bak penampungan air laut sempat tercampur dengan pasir setelah dilakukan pembersihan. Pasokan air kembali normal, hanya saja pasokan air tawar sedikit tersendat karena air sungai sumber muli debitnya menurun. Butuh sumur bor agar air menjadi payau,” terang Purwanto, salah satu petambak saat ditemui Cendana News, Selasa (31/7/2018).

Purwanto menyebut, dari enam tambak yang digunakan untuk budidaya udang vaname, hanya dua yang dioperasikan. Langkah tersebut dilakukan hanya selama musim kemarau memperhitungkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Dua petak tambak udang vaname, diakuinya, dipergunakan untuk memelihara masing-masing 30 ribu benih atau total 60 ribu untuk dua petak. Jenis udang vaname yang ditebar pada dua petak tambak miliknya, disebut Purwanto, saat musim kemarau rentan terkena penyakit.

Penyakit yang timbul akibat perubahan suhu pada malam hari dan siang hari yang cukup signifikan. Udang vaname usia dua bulan yang dipeliharanya bahkan sebagian mulai terimbas penyakit bercak putih (white spot) dan segera diobati dengan jenis obat tertentu sekaligus menjaga sirkulasi air tambak dengan sistem kincir air.

Kincir air dipergunakan untuk menambah kadar oksigen di dalam air tambak sekaligus menjaga kesehatan udang vaname.

Tambak milik warga di Desa Bandaragung Kecamatan Sragi yang mulai mengalami kekeringan [Foto:Henk Widi]
“Saya juga sediakan rumpon-rumpon dari pelepah daun kelapa sebagai lokasi berteduh untuk udang dari kondisi cuaca panas,” beber Purwanto.

Dibanding kondisi musim hujan, ia mengaku, lebih memilih musim kemarau. Pasalnya, saat musim hujan kadar asam akan bertambah. Imbasnya, udang kerap bisa terserang penyakit myo yang mengakibatkan udang mati tiba-tiba.

Kendala perubahan cuaca saat kemarau dikhawatirkan berimbas pada kesehatan udang sebelum masa panen pada usia 120 hari atau usia 30 bulan dengan ukuran 50 ekor untuk per kilogram udang.

Dampak kemarau yang paling dirasakan oleh petambak di wilayah Desa Bandaragung Kecamatan Sragi dan Desa Pematangpasir Kecamatan Ketapang.

Susilo (30) salah satu petambak udang vaname justru memutuskan tidak melakukan budidaya udang saat musim kemarau. Pasokan air yang berkurang dan bahkan sulit mencapai tambak sudah terjadi selama tiga bulan terakhir. Ia mengaku, tambak miliknya berjarak sekitar dua kilometer dari pantai timur sehingga mengandalkan kanal.

“Kanal-kanal terhubung dengan Sungai Way Sekampung, sementara air laut berasal dari pantai timur, saat kemarau airnya menyusut,” papar Susilo.

Air pada kanal utam yang mulai menyusut bahkan tidak bisa masuk ke kanal sekunder terhubung ke tambak warga. Bagi petambak yang dekat kanal kegiatan budidaya tambak masih bisa dilakukan meski mempergunakan mesin sedot.

Bagi petambak yang berada jauh dari kanal memilih membiarkan tambak kering akibat air tidak bisa menjangkau area tambak pembudidaya udang vaname dan bandeng.

Sebagian petambak, disebut Susilo, bahkan memilih bekerja sebagai tukang bangunan membiarkan tambak yang dimiliki kering. Keterbatasan biaya untuk proses pemompaan air dari kanal ke area tambak menjadi salah satu faktor petambak memilih berhenti melakukan budidaya udang vaname dan ikan bandeng.

Petambak yang masih tetap melakukan budidaya sebagian merupakan petambak intensif yang dimiliki perusahaan bermodal besar.

“Bagi kami pemilik modal kecil dengan sistem tambak tradisional saat kemarau memilih berhenti melakukan budidaya,” cetus Susilo.

Keputusan sementara tidak melakukan budidaya udang, diakui Susilo, juga cukup beralasan. Pasalnya, ia memastikan, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berimbas harga pakan naik. Harga pakan yang naik ikut menaikkan biaya operasional yang cukup memberatkan bagi petambak tradisional ditambah musim kemarau.

Susilo menyebut, saat ini untuk merk tertentu pakan udang di level petambak ukuran 20 kilogram dijual Rp260 ribu. Jenis lain dijual dengan harga Rp280 ribu untuk ukuran 20 kilogram.

Sementara jenis lain dengan ukuran 25 kilogram dijual dengan harga Rp360 ribu. Sebagian pembudidaya udang, disebut Susilo, memilih pakan dengan harga terjangkau. Melonjaknya harga pakan udang cukup membuat petambak khawatir, pasalnya harga udang anjlok ditambah kemarau mulai melanda berimbas udang rentan penyakit.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.