Kemarau, Petani di Sleman Mulai Membuat Sumur Bor

Editor: Koko Triarko

355
YOGYAKARTA – Semakin minimnya ketersediaan air irigasi di tengah musim kemarau ini, membuat sejumlah petani di Kecamatan Ngaglik, Sleman, mulai memanfaatkan sumur bor untuk mengairi lahan pertanian mereka. 
Sejumlah petani tampak mulai membuat sumur bor dengan memanfaatkan jasa tukang, karena air irigasi yang ada sudah menyusut dan tidak mencukupi untuk menyiram tanaman petani seperti cabai dan kacang tanah.
Ngalimin, petani di Dusun Kadangan, Purwoharjo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. -Foto: Jatmika H Kusmargana
“Di sini sebenarnya ada saluran irigasi dari DAM Sungai Kali Kuning, namun saat kemarau airnya menyusut. Jadi, banyak petani yang memilih memanfaatkan sumur bor,” ujar Ngalimin, petani di Dusun Kadangan, Purwoharjo, Sukoharjo, Ngaglik.
Ngalimin menyebut, dengan debit air irigasi yang semakin kecil, petani di dusunya hanya mendapat jatah air setiap tiga minggu sekali. Hal itu karena air irigasi digilir untuk ribuan petani di berbagai blok sawah yang ada di seluruh desa.
“Kalau hanya mengandalkan air irigasi, jelas tanaman akan mati. Makanya, kita memilih keluar dana untuk bikin sumur bor, asal bisa tetap panen,” ujarnya.
Di Dusun Kandangan, kata Ngalimin, sebenarnya sudah ada dua sumur bor bantuan pemerintah. Namun jumlah tersebut jauh dari cukup, sehingga petani mau tak mau harus membuat sumur bor secara swadaya.
Memiliki lahan pertanian seluas 3,000 meter persegi, Ngalimin mengaku menanam cabai dan kacang tanah. Ia pun berharap, agar panen mendatang mendapatkan hasil yang bagus. Sehingga bisa untuk menutup biaya pembuatan sumur yang cukup mahal.
Sementara itu, Yanto, seorang penyedia jasa penggali sumur dari Kampung Gambiran, Kota Yogyakarta, mengaku mematok tarif Rp300 ribu untuk membuat sumur bor sedalam 20 meter.
Pada musim kemarau seperti saat ini, ia mengaku banyak mendapat order membuat sumur bor, khususnya di lahan-lahan pertanian.
“Sudah beberapa waktu terakhir ini saya tidak berhenti membuat sumur. Selalu saja ada orderan. Sampai ngantre. Untuk waktu pengerjaan tergantung lokasi. Ada yang sehari jadi, ada pula yang sampai lima hari, karena kondisi tanah banyak batunya,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...