Kemarau, Produksi Kopra di Lampung Selatan Meningkat

Editor: Mahadeva WS

263

LAMPUNG – Panas di musim kemarau memberikan manfaat bagi usaha pengeringan kopra di Lampung Selatan. Hal tersebut menjadikan petani di wilayah tersebut saat ini, banyak yang memilih membuat kopra dibandingkan dengan bertani.

Seperti yang dilakukan Hendra (30), pembuat kopra di Desa Hatta. Setiap kali memasuki musim kemarau, Hendra memilih membuat kopra dibanding menjual kelapa butir. Pengolahan kelapa menjadi kopra cukup menguntungkan karena bisa memberi keuntungan berlipat.

Proses pengeringan terbantu kondisi cuaca panas yang mempercepat proses penjemuran. Pada kondisi cuaca tidak karena mendung, proses penjemuran kelapa bisa berlangsung sepekan. Sementara saat hujan, pengeringan dilakukan dengan sistem penggarangan atau pengasapan dengan membakar batok kelapa.

Saat tiba musim kemarau, dari proses pencukilan buah kelapa hingga kering menjadi kopra hanya membutuhkan waktu tiga hari. Efesiensi waktu dan tenaga bisa diperoleh saat kondisi musim kemarau, dan  kualitas kopra hasil penjemuran alami lebih disukai pengepul sebagai bahan baku minyak goreng.

“Saat musim hujan proses penjemuran kurang sempurna. Daging kelapa untuk kopra kerap berjamur apalagi jika terlalu basah tidak ada panas, harga jualnya juga anjlok karena kualitas rendah,” jelas Hendra, kepada Cendana News, Senin (16/7/2018).

Saat kemarau, harga kopra meningkat dari semula Rp9.000 menjadi Rp1.200 perkilogram di tingkat perajin. Bahan baku kelapa diperoleh dari petani pekebun dan dibeli dengan sistem gandeng seharga Rp1.000 pergandeng atau dua butir kelapa. Kelapa yang menjadi kopra diambil pengepul untuk dijadikan minyak goreng di pabrik.

Peningkatan produksi kopra justru terjadi pada saat menjelang kemarau. Sejumlah petani memilih menjual kelapa bahan kopra. Sepinya permintaan untuk kelapa butir membuat petani pekebun memilih menjual kopra. Membuat kopra bisa memangkas biaya produksi hingga Rp1,5juta untuk sekali angkut. Sementara biaya pengolahan kopra bisa dihemat hingga Rp500ribu dengan bantuan panas matahari.

Pembuat kopra lain di Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan Samsul (39) menyebut, saat kemarau perajin tidak perlu menutupi kopra yang sudah kering. Proses penjemuran di atas lantai semen dengan dihamparkan justru membuat daging kopra menjadi lebih cepat kering.

Proses penjemuran lebih cepat bisa dilakukan juga menggunakan alas terpal tambak yang memiliki kemampuan menghantar panas cukup baik. “Biaya operasional untuk bongkar tutup jemuran kopra bisa diminimalisir karena sejak pagi hingga sore kopra terkena terik sinar matahari,” terang Samsul.

Kemarau yang mulai tiba ikut memberi keuntungan bagi pembuat kopra. Perajin bisa menjual limbah pengolahan kopra, seperti batok kelapa. Batok biasa dijual perkarung Rp25.000 kepada pedagang sate dan ayam bakar. Sementara untuk air kelapa dijual Rp5.000 perjerigen. Dibantu sang istri Sumini (40), Samsul bisa memproduksi kopra dari 500 butir kelapa. Bahan baku didatangkan dari sejumlah desa yang ada di Kecamatan Penengahan.

Baca Juga
Lihat juga...