Kemarau, Warga Lampung Mulai Beli Air

Editor: Mahadeva WS

209

LAMPUNG – Musim kemarau mulai berdampak di wilayah Lampung. Debit air sumur dalam mulai menyusut, berakibat terhambatnya pasokan air bersih bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Asarudin (43), salah satu warga Dusun Way Baka, Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan menyebut, sejak dua pekan terakhir warga mulai melakukan pembelian air. Sebelumnya permintaan air bersih berkisar 20-50 tandon perbulan. Selama awal kemarau permintaan air bersih naik menjadi 70-80 tandon.

Air dari tandon yang dijual berasal dari warga pemilik sumur bor yang memiliki bak penampungan. Harga air bersih tergantung jarak pelanggan dan lokasi bak penampungan. Tandon berisi 1.200 liter dijual dengan harga Rp150.000 dan tandon berisi 600 liter dijual seharga Rp60.000.

“Saya membeli air bersih dari pemilik sumur selanjutnya disalurkan ke sejumlah pelanggan yang memesan air bersih untuk kebutuhan sehari hari terutama saat musim kemarau,” terang Asarudin, salah satu pemilik usaha penjualan air bersih saat ditemui Cendana News di Bakauheni, Senin (9/7/2018).

Sejak satu tahun terakhir, pertandon air yang dijual, Asarudin mengaku hanya mengambil keuntungan Rp25.000 hingga Rp30.000 sesuai dengan jarak lokasi pelanggan. Usaha yang ditekuni sejak lima tahun terakhir tersebut, lebih banyak diminta oleh warga yang tidak memiliki sumur dangkal.

Kawasan perbukitan di Bakauheni menyulitkan warga untuk membuat sumur. hal itu memaksa warga memanfaatkan air bersih yang dijual oleh pedagang sembari memanfaatkan air Sungai Kepayang. “Saat musim kemarau sejumlah sumur dangkal milik warga debit airnya kurang sehingga memilih membeli air bersih,” tambah Asarudin.

Heni (40), warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut, sejak beberapa tahun silam jika mulai musim kering, warga hanya mengandalkan air sungai. Akibat debit air berkurang, sebagian warga memanfaatkan air bersih dari salah satu pemilik sumur bor yang disediakan untuk masyarakat.

Heni menyebut, masih beruntung warga bisa mengakses air bersih di salah satu bak penampungan. Air yang tersalur ke pipa sebagian bisa dipergunakan untuk mandi. Saluran pipa lengkap dengan kran juga sering dimanfaatkan untuk mengambil air untuk kebutuhan di rumah. “Saya biasanya membawa ember dan jeriken yang diisi dari kran lalu dibawa pulang untuk kebutuhan memasak,” terang Heni.

Sulit dan mahalnya proses pembuatan sumur bor membuat warga memilih mempergunakan tempat penampungan air komunal. Air yang disalurkan ke pipa untuk air bersih juga disalurkan ke bak mandi untuk kegiatan mandi. Keberadaan sumur bor milik salah satu organisasi dan dikelola sebagai sumber air bersih komunal diakui Heni cukup membantu akses air bersih warga.

Suparno, pengelola air bersih dari sumur bor untuk kebutuhan masyarakat warga Desa Kelawi [Foto: Henk Widi]
Suparno (43), pengelola air bersih komunal menyebut, warga yang mengambil air bersih sebagian tidak memiliki sumur. Sebagai partisipasi untuk pemeliharaan alat serta tenaga listrik sebagian warga berjumlah sekitar 20 orang membayar iuran Rp20.000 perbulan. Warga diperkenankan mengambil air mempergunakan jerigen selanjutnya dibawa pulang ke rumah masing masing tanpa dibatasi.

Pembuatan sumur bor di wilayah Kepayang disebut Suparno, dilakukan untuk membantu warga. Kebutuhan air bersih yang sebelumnya harus diambil dari lokasi yang jauh kini cukup bermodalkan ember dan jerigen. Suparno menyebut tidak melakukan pembatasan pengambilan asal air bersih mempergunakan jeriken dan ember terutama saat kemarau dimana air bersih sulit diakses di wilayah tersebut.

Lihat juga...

Isi komentar yuk