Kembangkan Buah Lokal, Minimalisir Beli Buah Impor

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.359

LAMPUNG – Keberadaan tanaman buah lokal di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) masih menjadi sumber pasokan buah bagi masyarakat.

Terkait hari buah nasional yang diperingati setiap tanggal 1 Juli, Siti Matonah (50) menyebut, buah lokal yang dibudidayakan masyarakat sebagian merupakan hasil dari proses pencangkokan. Pada lahan pekarangan seluas setengah hektar, Siti menyebut, menanam lebih dari sepuluh jenis buah lokal.

Berbagai jenis buah tersebut sebagian dikembangkan dari stek, biji dan dominan dilakukan dengan pencangkokan. Jenis buah yang dikembangkan dengan sistem stek di antaranya mangga, jambu kristal, kelengkeng. Jenis buah yang dikembangkan dengan biji di antaranya pepaya Calina.

Sebagian buah lain dikembangkan dengan pencangkokan di antaranya sawo, jambu air madu deli hijau, mangga madu, mangga arum manis dan jambu dersono serta jeruk peras Banyuwangi.

Buah sawo berbuah sepanjang musim ditanam petani di Lamsel [Foto: Henk Widi]
“Selama ini saya mengembangkan bersama suami sejumlah buah lokal didatangkan dari Provinsi Riau. Untuk jambu air madu deli dan jeruk peras Banyuwangi asal Jawa Timur,” terang Siti Matonah, salah satu petani pembudidaya buah lokal di Penengahan, saat ditemui Cendana News, Minggu (1/7/2018).

Sejumlah buah khas Lampung yang sudah lebih dahulu dikembangkan disebut Siti Matonah di antaranya buah nam nam menyerupai mangga, loba lobi, gayam. Sebagian besar buah lokal yang nyaris punah tersebut dikembangkan dengan proses stek, cangkok, biji sehingga tersedia bibit.

Kebutuhan akan lahan untuk perumahan, disebut Siti Matonah, membuat ia mengembangkan tanaman sistem tanaman buah dalam pot (tabulampot).

Pengembangan buah jambu air deli madu berasal dari Deli Serdang Sumatera Utara dan berkembang di sejumlah wilayah di Sumatera. Bermula dari membeli sebanyak 10 batang bibit sistem cangkok, saat usia satu tahun bibit setinggi satu meter sudah berbuah dan dikembangkan.

Rubiyem mengembangkan tanaman sawo dengan sistem cangkok [Foto: Henk Widi]
Saat ini dengan sistem tanaman buah dalam pot, sebanyak 50 batang jambu deli madu terus dikembangkan bersama anak dan suaminya.

“Kalau beli semua tentunya akan membutuhkan biaya. Jadi kita siapkan indukan agar bisa dikembangkan lebih banyak,” terang Siti Matonah.

Buah jambu air deli madu diakuinya hanya salah satu buah yang bisa dipanen tanpa mengenal musim. Dalam satu tahun, Siti menyebut, bisa memanen sebanyak tiga kali buah jambu air madu deli.

Selain itu sejumlah buah lain bisa dipanen sepanjang musim di antaranya jambu kristal, jambu air kancing, buah pepaya Calina yang kerap disebut pepaya California, jambu bol atau jambu dersono, buah naga dan berbagai jenis pisang di antaranya ambon, kepok, muli dan janten.

Siti menyebut, kegemaran akan buah lokal tersebut bermula saat sang anak suka mengoleksi tanaman buah lokal. Harga yang relatif lebih murah dibandingkan buah impor membuat dirinya bisa menghemat pengeluaran.

Buah pepaya Calina ditanam bersama dengan jenis tanaman buah lokal lain di pekarangan [Foto: Henk Widi]
Ia bahkan sudah tidak pernah membeli buah impor yang banyak dijual di pasar lokal karena pemenuhan kebutuhan buah sudah terpenuhi dari kebun.

Pengembangan buah lokal untuk pemenuhan kebutuhan keluarga juga dilakukan oleh Rubiyem (60) yang menanam lebih dari sepuluh varietas buah. Rubiyem menyebut penanaman buah lokal di antaranya sawo, jambu kristal, mangga, pepaya, jambu, rambutan, kelengkeng dilakukan sejak puluhan tahun silam.

Sebagai nenek dari belasan cucu, ia memastikan penanaman buah lokal menjadi salah satu cara menyenangkan cucu.

“Lahan pekarangan yang masih bisa saya tanami dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis buah, sebagian bisa dijual,” cetus Rubiyem.

Permintaan akan buah lokal yang masih tinggi membuat ia bisa memperoleh keuntungan secara ekonomis. Buah sawo yang ditanam sebanyak lima batang diakuinya bahkan kerap dibeli dengan sistem borongan bersama buah mangga dan rambutan oleh pedagang buah.

Sistem borongan dengan harga per pohon mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu tergantung kuantitas buah.

Rubiyem menyebut, meski tanggal 1 Juli diperingati sebagai hari buah, ia tidak mengetahuinya dan tetap berkeinginan melestarikan buah lokal. Berbekal alat sederhana, Rubiyem bahkan menggunakan serabut kelapa dan plastik untuk mencangkok.

Pohon yang dicangkok di antaranya mangga manalagi, sawo dan jambu kristal. Berbagai jenis buah lokal tersebut diakui Rubiyem kerap dipetik untuk diperam hingga matang dan dibagikan kepada cucu yang datang ke rumahnya.

Pemenuhan bibit buah lokal diakui Rubiyem saat ini lebih mudah karena banyak pedagang keliling menawarkan bibit. Meski tidak memiliki lahan yang luas, Rubiyem menyebut penanaman dengan sistem pot bisa dilakukan.

Keberadaan bibit buah lokal sekaligus melestarikan sejumlah tanaman buah lokal yang sebagian sudah punah agar anak cucunya bisa merasakan buah yang ditanam di pekarangan.

Lihat juga...

Isi komentar yuk