Kepulauan Selat Sunda, Spot Favorit Sensasi Memancing

Editor: Satmoko Budi Santoso

484

LAMPUNG – Hari libur berbagai cara unik untuk rekreasi dilakukan oleh masyarakat dengan mengunjungi sejumlah objek wisata. Salah satu cara rekreasi para pehobi memancing dilakukan di sejumlah kepulauan kecil di Selat Sunda.

Sejumlah kepulauan kecil di Selat Sunda mempunyai spot favorit pemancing di antaranya pulau Rimau Balak, Rimau Lunik, pulau Kandang Balak, Kandang Lunik, Prajurit hingga ujung Tanjung Tuha pulau Sumatera.

Fery Hendry Yamin, salah satunya, sebagai pehobi mancing (angler) di perairan air tawar dan air laut, dirinya kerap memanfaatkan waktu libur. Akhir pekan kerap dipilih setelah selesai disibukkan rutinitas pekerjaan kantor.

Pehobi mancing atau mancing mania dari komunitas Snake Head Hunter Gabusmania (SH2G) asal Lampung yang kerap memancing di sungai, rawa, juga kerap melakukan perburuan ikan di laut.

Fery Hendry Yamin mendapat ikan GT di sekitar perairan Tanjung Tuha [Foto:Ist/Henk Widi]
Sebagai salah satu hobi sekaligus rekreasi dan menghasilkan, Fery Hendry Yamin menyebut, sensasi umpan disambar ikan (strike) paling ditunggu. Memancing di laut diakuinya berbeda dengan di perairan tawar yang tenang karena di laut ia harus berhadapan dengan angin, gelombang dan kondisi tak diinginkan lainnya.

Meski demikian keseruan memancing di laut yang kerap dilakukan bersama kerabat, rekan kerja menjadi sebuah wisata yang memicu adrenalin.

“Wisata mancing dilakukan saat waktu luang, mengendorkan otot-otot syaraf karena ada butuh ketenangan saat memancing sekaligus memicu adrenalin saat strike,” terang Fery Hendry Yamin, salah satu angler dari komunitas SH2G saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (8/7/2018).

Sebelum berangkat memancing ia menyiapkan segala keperluan mancing. Bekal dalam perjalanan mancing disebutnya sangat penting termasuk alat keselamatan (life jacket) sebab dirinya kerap menyewa perahu nelayan tradisional.

Berangkat dari sejumlah tempat pemancing dengan perahu sewaan sistem borongan Rp500 ribu hingga Rp700 ribu biasanya akan menuju ke spot mancing terbaik tempat berkumpulnya ikan.

Perairan sekitar Tanjung Tuha Lampung Selatan spot berburu ikan GT para angler [Foto: Ist/Henk Widi]
Lokasi keberangkatan para angler di Lampung Selatan di antaranya dermaga Muara Piluk, pelabuhan BBJ, dermaga Keramat, Pegantungan, Belebuk serta sejumlah lokasi pendaratan perahu.

Salah satu ikan buruan favorit para angler disebut Fery, demikian ia dipanggil, di antaranya jenis ikan kuwe gerong atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai giant treally atau GT kerap disebut juga ikan GT.

Dalam bahasa Lampung ikan tersebut kerap disebut Mamung atau Simba. Sebagai ikan predator, ikan ini memberi sensasi saat angler melihat pelampung bergoyang dan senar berputar ketika umpan dimakan ikan (ngetrik).

Hasilnya ketika ikan disambar ikan (strike) terutama jenis ikan GT dirinya akan mengeluarkan adrenalin karena harus bertempur dengan ikan berukuran besar.

Berbagai teknik mancing yang kerap dilakukan Fery bersama kawannya di antaranya berhanyut (drifting). Teknik ini memungkinkan perahu berhanyut oleh arus dan angin untuk memancing di area yang luas sekaligus menggunakan pancing berjoran dengan rel khusus.

Saat melakukan drifting ia bisa melakukan teknik slow trolling menunggu ikan predator menyambar umpan buatan (popper). Teknik menggunakan joran dan mancing dasar (bottom fishing) dalam memancing juga dilakukan oleh para angler untuk mendapatkan sensasi strike.

Sensasi sebagai angler diakuinya saat ia mengangkat ikan GT di sekitar spot Tanjung Tua yang sudah mendunia. Spot Tanjung Tua yang kerap dijadikan lokasi berburu ikan GT dengan teknik memancing di tebing (rock fishing) bahkan bisa dilakukan dengan drifting. Setidaknya selama memancing di spot tersebut ia bisa mengangkat GT berukuran minimal 3 kilogram dan pernah strike GT seberat 25 kilogram.

“Meski mengalami sensasi ngetrik hingga strike namun kadang gagal karena GT melawan akibatnya senar putus, rugi bisa ratusan ribu bahkan jutaan apalagi jika joran terbawa ikan,” tegas Fery Henry Yamin.

Berangkat sejak pagi dari pukul 6 pagi dan pulang sekitar jam 10, Fery mengaku hasil memancing adalah bonus. Sebab rekreasi di sela-sela tugas di sebuah kantor menjadi cara merelaksasi pikiran.

Baginya sensasi memancing dengan berbagai teknik sudah dicoba dengan hasil ikan berbeda-beda. Memancing di sekitar perairan Selat Sunda sekaligus berwisata karena dirinya kerap bisa menjejakkan kaki di sejumlah pulau tak berpenghuni. Selain menikmati kesunyian, bersama rekan kerja dirinya bisa membakar atau menikmati sebagian ikan, sebelum dibawa pulang.

Magnet Para Angler Luar Lampung

Berbeda dengan Fery, salah satu pemandu spot mancing (guide) asal Bakauheni bernama Ardy Yanto kerap mengantar para angler di Selat Sunda. Laki-laki tersebut kerap mengantar para angler untuk menyusuri spot mancing di pulau Rimau Balak, Kandang Balak dan pulau-pulau kecil di Selat Sunda sekaligus berwisata.

Berbagai teknik memancing kerap dilakukan oleh pemancing di antaranya berasal dari Jakarta, Bandung hingga Palembang dan wilayah luar Lampung.

“Saya mengantar pemancing pada akhir pekan ini dari Bandarlampung terkadang dari luar wilayah yang ingin merasakan sensasi strike di laut,” papar Ardy Yanto.

Menyewa perahu berisi sebanyak tujuh orang termasuk pemilik perahu, pemancing sudah menyiapkan umpan yang dibeli dari nelayan. Pada mancing akhir pekan dengan teknik drifting menggunakan joran, Ardy Yanto menyebut mendapatkan berbagai jenis ikan di antaranya ikan simba, kerapu, kakap merah dengan bobot mulai dari 1 kilogram hingga 5 kilogram.

Sebagai salah satu destinasi, para angler atau mancing mania, spot Tanjung Tuha salah satu spot favorit. Ardy Yanto juga bahkan kerap mengantar pemancing ke spot wisata tersebut. Spot wisata sekaligus lokasi memancing teknik rock fishing di antaranya Batu Licin, Tanjung Tuha, Batu Alif.

Berbagai spot tersebut bisa ditempuh dengan jalur menantang menggunakan kendaraan motor karena akses tidak bisa dilalui dengan mobil.

Sebagai pemandu memancing, ia menyebut, sebagian pemancing di antaranya Monang, salah satu warga Bandarlampung cukup puas. Selain bisa menikmati sensasi strike, wisata menggunakan perahu juga bisa melihat dari dekat sejumlah pulau tak berpenghuni di Selat Sunda.

Baca Juga
Lihat juga...