Kethak, si Coklat Manis dari Ampas Kelapa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

369

YOGYAKARTA — Biasa dibungkus dengan daun pisang kering, berwarna coklat tua, dan memiliki rasa khas gurih bercampur manis legit. Itulah Kethak.

Makanan tradisional yang banyak ditemukan di Kulonprogo ini, sepintas memang mirip dengan Lemper. Namun ukurannya lebih kecil atau sekitar separuhnya saja.

Terbuat dari bahan utama berupa ampas kelapa, saat ini Kethak memang semakin jarang ditemui. Namun, cita rasanya yang khas membuat makanan tradisional satu ini tetap eksis hingga kini.

Banyak ditemukan di sejumlah pasar tradisional Kulonprogo, Kethak memiliki tekstur seperti makanan tradisional lain dari bahan parutan kelapa, Geplak. Namun ia cenderung lebih lunak, legit dan mudah hancur saat digigit.

Salah seorang pembuat asal Kulonprogo, Tri Welasih menyebutkan, Kethak awalnya dibuat untuk memanfaatkan hasil residu pembuatan minyak kelapa. Yakni sisa parutan kelapa yang telah diperas, atau biasa disebut ampas, blondo atau bungkil.

“Cara membuatnya cukup mudah. Ampas kelapa hanya tinggal dimasak seperti membuat Wajik. Aduk terus sambil masukkan gula merah, hingga berwarna coklat tua kehitaman,” katanya.

Tri Welasih. Foto: Jatmika H Kusmargana

Begitu kental, adonan kemudian diangkat dan didinginkan. Masukkan adonan dalam bungkusan daun pisang. Kethak pun siap disajikan.

Selain dapat dimakan langsung, Kethak juga tak jarang dimakan bersama sejumlah makanan tradisional lainnya seperti Growol. Harganya yang murah membuat Kethak kerap dijadikan sebagai camilan keluarga.

“Selain dibungkus pakai daun pisang dengan bentuk seperti Lemper, ada juga Kethak yang dibuat berbentuk bulat-bulat kecil dan dibungkus dengan plastik. Walau bentuk beda rasanya tetap sama,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...